
SEBAGAI wayang milenial, Kalanjaya – Kalantaka ini hobinya memang main medsos. Dalam rangka meneror SBG sang penguasa Jonggring Salaka, enteng saja dia pasang poster di grup WA: Banjirilah lapangan Repat Kepanasan, kita jadikan SBG and game. Kembalikan mandat ke Sanghyang Wenang.” Dia berharap SBG yang sedang ngejomblo itu jadi stress dibuatnya.
Bahkan, andaikan di kahyangan itu ada lembaga semacam MPR, Kalanjaya-Kalantaka maunya niru MS Kaban yang sok gaya minta presiden diturunkan lewat sidang istimewa. Tapi kalau Kalanjaya-Kalantaka boleh menyarankan, sebagai politisi yang sudah lama hilang dari peredaran, MS Kaban sebaiknya meniru Wongso Kaban sajalah, jadi aktivis tembang Jawa di berbagai radio swasta di Ibukota. Itu malah dapat pahala karena menghibur orang.
“Kita juga pasang baliho di mana-mana, tapi jangan sampai ketahuan bahwa kita yang jadi aktor intelektualnya.” Kata Kalantaka melempar usul.
“Lho, memangnya kita dukung SBG nyapres di 2024? Nggak usahlah, terlalu besar biayanya. Soal beginian mana mau pabrik rokok jadi sponsornya.” Jawab Kalanjaya memotong usulan sohibnya.
Keduanya juga terus mencari keberadaan Sadewa, karena ini merupakan “kuda hitam” untuk menyelamatkan nasib Betari Durga. Sesungguhnya ada pertanyaan yang selalu menggoda Kalanjaya-Kalantaka, kenapa yang direkomendasikan SBG untuk meruwat Betari Durga hanya Sadewa? Padahal dia juga punya kembaran Nakula. Kenapa dewa kok terlalu diskriminatip pada anak kembar almarhum Prabu Pandu?
Tapi tanpa penjelasan SBG pun, sebetulnya Kalanjaya-Kalantaka sudah bisa meraba. Sebab meski Nakula-Sadewa anak kembar, si adik Nakula ini wayangnya lholak-lholok tak berwibawa macam kakaknya. Kalau ngomong suka blunder, raja bukan kok bisa-bisanya ngetwit: wahai rakyatku! Maka jika Nakula ngomong bener, pastilah ada yang membisiki sebelumnya. Ibarat kaset, isi suara oleh pihak lain, Nakula tinggal muter doang!
“Justru ada kembarannya tersebut, kita diuntungkan. Misalkan Sadewa sudah berhasil kita binasakan, publik takkan segera tahu. Sebab masih ada Nakula yang pasti dikiranya sebagai Sadewa.” Kata Kalantaka beralasan.
“Ya semoga saja nantinya Nakula tidak ngomong ngaco lagi, sehingga tak ketahuan siapa dia aslinya.”
Demikianlah, kasak-kusuk jahat duet Kalanjaya-Kalantaka lama-lama terdengar pula oleh Dewi Kunthi. Dosa apa Sadewa kok jadi target oposan Kalanjaya-Kalantaka? Begitulah ketulusan budi istri pertama Prabu Pandu ini, meski Nakula-Sadewa ini hanya anak tiri, karena keduanya putra Dewi Madrim almarhumah, Kunthi tetap menyayangi secara total. Tak pernah dibeda-bedakan. Jika merebus telur sebutir dibagi lima, semuanya dapat masing-masing seperlima juga, tak ada dibedakan dan dilebihkan.
Ketika Dewi Kunthi baca percakapan di grup WA, dia baru dhong (paham), kenapa putra bungsunya selalu dikejar-kejar Kalanjaya-Kalantaka. Ngeri amat, Sadewa mau dibunuh gara-gara dipromosikan sebagai peruwat Betari Durga. Nggak usahlah, apa sih imbalannya? Paling-paling dijadikan komisaris BUMN. Ini pilihan yang nggak cucuk jika resikonya bakal jadi target pembunuhan.
“Wahai Sedewa, hati-hati kamu! Sekarang kelompok oposisi mengincar nyawamu. Ini lebih berbahaya dari virus Covid-19. Tak hanya harus jaga jarak, tapi jangan kelayapan malam hari,” kata Dewi Kunthi mengingatkan Sadewa.
“Apa sih mak, salah gue? Sadewa kan bukan mahasiswa yang suka reseh, jadi Gojeg saja banyak kehilangan penumpang.” Ujar Sadewa penuh rasa heran.
Rupanya isyu penculikan Sadewa semakin nyata, sehingga Dewi Kunthi merasa perlu ketemu penguasa Ngastina yang mempekerjakan Kalanjaya-Kalantaka. Kenapa tokoh berbahaya seperti itu kok direkrut jadi pegawai kerajaan. Karena yang menerima lamaran ditya keduanya adalah Patih Sengkuni, ke sana pula Dewi Kunthi minta tanggungjawab. Maunya, Kalanjaya-Kalantaka dikandangi saja, biar tak jadi ancaman.
“Dimas Sengkuni, saya mau tanya. Kenapa ditya-ditya macam Kalanjaya-Kalantaka dipekerjakan sebagai Nakes Covid-19. Hati-hati lho, dia punya agenda politik lain.” Tegur Dewi Kunthi.
“Masak tukang gali kubur Covid-19 mikir politik segala? Mbakyu Kunthi jangan terlalu halu lah….” jawab Patih Sengkuni santai.
“Tahu nggak? Dia punya rencana jahat hendak membunuh ponakanmu Sadewa,” kata Dewi Kunthi bisik-bisik.
“Masak sih? Apa hubungannya? Tapi Ngastina juga nggak bisa asal nangkep orang tanpa bukti. Jadi paling-paling kita-kita ini hanya bisa mengawasi saja.” Jawab Sengkuni tetap saja santai, seperti tak ada masalah.
Dewi Kunthi kecewa dan pesimis dengan sikap patih Ngastina ini. Harapan satu-satunya tinggal keBetari Durga di Pasetran Gandamayit. Maka sekeluar dari kepatihan Plasa Jenar Kunthi langsung ke Pasetran Ganda mayit. Dia ingin konfirmasi, apa benar isyu yang beredar selama ini? Sebab setelah rakyat bebas beropini lewat medsos, apa saja diunggah tanpa memikirkan dampaknya nanti. Betul, internet memajukan peradaban, tapi juga meningkatkan kebiadaban.
Ternyata ketemu Betari Durga bukan perkara mudah, harus lewat Jaramaya dan Jarameya. Jika tak tahu caranya pasti dijawab: Betari Durga sibuk, tak bisa diganggu. Tapi jika ketika bertanya sambil buka dompet dan kibas-kibaskan uang lembaran merah, pasti dijawab: ada! Dan seperti Satpam bank, Jaramaya-Jarameya menjadi ramah sekali.
“Apa yang bisa kami bantu?” kata mereka serempak.
“Ya bantu ketemu Betari Durgalah, masak minta bantuan keuangan…..?” jawab Dewi Kunthi agak kesal, karena kesannya Jarameya-Jaramaya begitu mata duitan.
Ya, berkat uang cepekan masing-masing selembar, Dewi Kunthi dengan mudah bisa diterima Betari Durga. Tapi siapa bilang eks istri SBG ini sibuk? Lha wong faktanya di dalam dia hanya main WA-nan dan nonton Youtube belaka. Habis Isya sampai pukul 21:00 nonton sinetron “Ikatan Cinta”. Biasanya pukul 12:00 dia suka ngelayap keluar cari mie tektek, tapi sejak Corona menggila Betari Durga memilih diam di kamar. (Ki Guna Watoncarita)


