Bidan di Puskesmas Aceh Tetap Layani Masyarakat Meski Tak Dapat Melihat

ilustrasi

ACEH – Perjuangan seorang bidan yang bertugas di Puskesmas Pembantu (Pustu) Gampong Rumah Lapis Kecamatan Susoh Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) patut diacungi jempol karena meski tidak dapat melihat lagi, ia tetap tegar melayani setiap pasien yang berobat ke Pustu tersebut.

Ia adalah Yusnaini (41),  seorang bidang PNS yang sudah delapan tahun divonis buta karena serangan penyakit Glukoma, namun tetap bekerja sebagai staf di Pustu yang sudah 11 tahun menjadi tanggung jawabnya. Dibantu suaminya, ibu empat anak ini tetap memberikan pelayanan yang maksimal.

Sebelum diangkat menjadi PNS pada 2007, dirinya sebagai bidan PTT yang sudah mengabdi 13 tahun lebih di gampong tersebut. Saat itu, dirinya masih bisa melihat normal. Hanya saja, setelah dua tahun diangkat menjadi PNS, tepatnya 2009, dirinya sudah tidak dapat melihat sama sekali. Berbagai upaya telah dilakukannya, termasuk berobat ke luar negeri yang membuat seluruh hartanya terjual.

Beruntung, dia masih memiliki sosok suami yang setia setiap saat mendampingi dibantu anak-anaknya yang kini masih duduk di bangku kuliah.

Ia pernah mengajukan permohonan pensiun dini, namun saat itu permohonannya ditolak dengan alasan masih dalam masa kerja. Selain itu, dirinya juga dinilai masih mampu bekerja membantu staf Pustu lainnya.

Semua pekerjaan dilakukannya, kecuali penyuntikan dan tensis darah. Dengan penuh cinta, Bidan itu terus memberikan pelayanannya.

“Harapan saya, apa yang dicita-citakan anak-anak saya tercapai, terutama anak perempuan saya yang sebentar lagi masuk keperguruan tinggi. Cita-citanya ingin seperti saya, menjadi bidan pelayan masyarakat,” sebut Yusnaini, mengutip Go Aceh, Selasa (14/3/2017).
Ia mengaku berkat suaminya ia masih dapat menjalankan tugasnya, “Setiap malam, kalau ada masyarakat yang mengeluh kesakitan selalu saya bantu, memberikan obat dibantu suami saya, kadang bila suami tidak ada, anak-anak saya dengan suka cita membantu saya,” papar Yusnaini.

Beurntung masyarakat pun tidak pernah mengeluh dengan pelayanan yang diberikannya. Bahkan, hampir seluruh pasien yang mendatangi Pustu itu merasa takjub dan prihatin.

“Suami saya hanya pekebun, tapi kami punya niat untuk berbakti kepada bangsa,” sebutnya.

Advertisement