
BANGSA Palestina yang merasa terzalimi akibat sepak terjang Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyambut baik dan menaruh harapan besar pada kepemimpinan presiden terpilih Joe Biden.
Hal itu tercermin dari luapan kegembiraan segenap elemen rakyat Palestina yang berbaur turun ke jalan-jalan utama di wilayah Palestina di Tepi Barat seperti Betlehem, Hebron, Ramallah dan Nablus hingga Senin (9/11).
Biden yang diusung Partai Republik hampir dipastikan melenggang ke Gedung Putih setelah meraih 290 suara dari minimal 270 suara Eelektoral College yang dibutuhkan, walau Trump masih ngotot menggugatnya karena menganggap ada kecurangan perhitungan suara.
Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas termasuk salah satu tokoh yang langsung memberikan selamat pada Biden disertai harapan semakin kokohnya relasi Palestina – AS dan upaya mewujudkan kemerdekaan, kebebasan, keadilan dan kehormatan rakyat Palestina.
Pemimpin sayap militer Hamas, Palestina Ismail Haniyeh mendesak Biden sebagai presiden AS terpilih, membatalkan usulan “Deal of the Century (Kesepakatan Abad ini) yang digagas Trump awal 2020 dan kembali pada proposal solusi “Dua Negara”.
Haniyeh juga meminta Biden membatalkan keputusan AS di bawah Trump terkait pengakuan Jerusalem sebagai ibukota Israel dan memindahkan lagi kedubesnya dari kota suci tersebut.
“Kami mendesak Biden untuk meralat kebijakan Trump yang tidak adil terhadap rakyat Palestina yang menempatkan AS sebagai mitra Israel dalam aksi penindasan dan agresi terhadap Palestina, “ ujar Haniyeh seperti dikutip KB Turki Anadolu (9/11).
Palestina praktis menghadapi masa-masa kelam akibat kebijakan Trumpyang memberi pengakuan atas kota Jerusalem sebagai ibukota Israel pada desember 2017 dilanjutkan dengan pemindahan kedubes AS ke kota suci tersebut pada Mei 2018.
Di era kepemimpinan Trump, AS menyetop bantuan keuangan program Badan PBB untuk Pemulihan dan Agen Kerja bagi Pengungsi Palestina (UNRWA) serta menutup kantor perwakilan PLO di Washington DC pada September 2018.
“Sukses” lain Trump adalah menguncilkan Palestina dengan memediasi normalisasi hubungan antara sejumlah negara Arab pendukung Palestina dan Israel yakni Uni Emirat Arab, Bahrain dan Sudan beberapa bulan lalu, menyusul Mesir (1978) dan Jordania (1984).
Sementara Guru Besar Hubungan Int’l Universitas Arab Amerika di Jenin, Tepi Barat, Ayman Yosef mengimbau para pemimpin Palestina tak terjebak isu tuntutan pada bantuan keuangan dan kemanusiaan saja, tetapi lebih fokus pada proses politik yakni solusi dua negara.
Lebih jauh lagi, seperti penilaian oleh penasehat politik Presiden Abbas, Nabil Shaath (Kompas 10/11), kekalahan Trump diharapkan bisa mengakhiri penderitaan rakyat Palestina dan membuka peluang normalisasi hubungan Palestina dan AS. Semoga!




