Biden dan Trump Bakal Bertarung Lagi

Joe Biden dari Partai Demokrat (kiri) dan Donald Trump (Partai Republik) bakal bertarung lagi pada Pilpres 5 Nov. 2024 setelah keduanya memenangi pemilihan awal (primary) di partai masing-masing.

PRESIDEN petahana Amerika Serikat Joe Biden dan mantan Presiden ke-45 (2015 – 2019) Donald Trump kemungkinan besar bakal bertarung lagi dalam Pilpres yang akan digelar 5 November tahun ini.

Biden (81) sudah mencapai jumlah suara yang dibutuhkan Partai Demokrat yang mengusungnya (1.968 suara)  setelah memenangi pemilihan pendahuluan (primary) di Negara Bagian Georgia, Mississippi, Washington, Kep. Mariana utara dan dari delegasi partainya di luar negeri.

Setelah memastikan pencalonannya sebagai kandidat dari Partai Demokrat, Biden dalam orasinya menuduh Trump yang telah melancarkan kampanye bernuansa kebencian, dendam dan mengancam idealisme Amerika.

“Anda punya pilihan untuk menatap masa depan negara ini. Membela demokrasi atau membiarkan orang meruntuhkannya? Apakah kita mengembalikan hak untuk memilih dan melindungi kebebasan atau membiarkan ekstrimis merampasnya, “ ujar Biden.

Tidak kalah dengan pesaingnya, Trump (77) beberapa jam setelah kemenangan Biden juga berhasil meraih 1.215 suara delegasi Partai Republik yang diperlukan untuk mengamankan pencalonannya menjadi orang nomor satu di negara Adidaya itu.

Sebaliknya, Trump mengeluarkan pernyataan yang menyudutkan Biden, antara lain dianggap gagal membendung arus imigran di perbatasan AS selatan dan Meksiko. Imigran menjadi isu utama kampanye Trump, sama dengan yang dilakukannya pada 2020.

Trump mearyakan kemenangannya melalui unggahan video di medsos denngan seruan mengajak konstituennya untuk bekerja kembali setelah AS dipimpi presiden terburuk sebelumnya.

“Kita tidak bisa berlama-lama merayakan kemenangan ini. Kita akan rayakan delapan bulan lagi, saat pilpres rampung, “ ujarnya.

Sesuai Prediksi Publik

Hasil perolehan suara kali ini juga tidak berbeda dengan prediksi  publik di mana Trump dominan dalam pemilihan primary serentak atau Super Tuesday (5/3) di 14 dari 15 negara bagian yang menggelarnya.

Pesaing Trump dari sesama Partai Republik, mantan Dubes AS di PBB Nikky Haley sudah mengundurkan diri dari pencalonan, walau sejauh ini belum diketahui apakah ia lalu mendukung Trump.

Sementara Biden sudah unggul sejak awal karena mendapat lawan ringan di internal Partai Demokrat walau sejumlah aktivis liberal berupaya meyakinan Partai Demokrat untuk tidak mendukungnya sebagai protes keberpihakan Biden pada Israel dalam perang di Gaza.

Walau bakal mengulangi kontestasi dalam Pilpres 2020, hasil jajak pendapat Reuters menyebutkan, para voter atau pemilih agaknya tidak antusias dengan pilpres kali ini, mencerminkan rendahnya popularitas keduanya  di kalangan mayoritas pemilih.

Biden terbebani persepsi publik bahwa ia dianggap terlalu tua untuk memimpin AS, ditambah lagi, masyarakat juga fustrasi dengan tingginya harga kebutuhan sehari-hari pasca pandemi Covid-19.

Suka atau tidak suka, pilpres AS tentu diamati dengan seksama oleh setiap negara, baik lawan atau kawan, karena juga akan menentukan bentuk dan arah hubungan dan kerjasama. (Reuters/AFP/Kompas)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here