Bila Presiden RI Mantu

Kegiatan keluarga Presiden Jokowi, menjelang acara siraman Kahiyang Ayu-Bobby Nasution.

            SEPANJANG sejarah Republik, baru 3 presiden RI yang berhasil mantu ketika masih menjabat. Pertama Presiden Soeharto, kedua SBY dan ketiga Presiden Jokowi. Namanya juga hajatan Kepala Negara, tentu semua tamunya bejibun. Saat Pak Harto mantu Mbak Tutut, SBY mantu Agus Harimurti, hajatan presiden itu sangat meriah. Tapi Jokowi presiden RI sekarang, terasa lebih meriah lagi. Di samping mantu anak perempuan, juga digelar di kota Solo yang kecil, sehingga kemeriahan itu terasa di segenap sudut-sudut kota.

Selama menjadi Presiden RI dari 1945 hingga 1966, Presiden Sukarno belum pernah mantu. Bahkan yang ramai diberitakan surat kabar dan majalah kala itu, yakni ketika menikah untuk dirinya sendiri. Di antaranya adalah: Hartini pada 7 Juli 1953, Ratnasari Dewi 1962, Haryati pada 21 Mei 1963, dan Heldy Djafar tahun 1966. Ketika mantu Megawati dengan Surindro Supiyarso tahun 1968, Bung Karno sudah dalam status tahanan politik rezim Orde Baru.

Pak Harto paling banyak mantu selama menjadi Presiden RI, maklum berkuasa selama 32 tahun. BJ Habibie, Gus Dur, Megawati, yang memerintah tak sampai satu periode, belum pernah mantu ketika menjabat. Dan inilah Jokowi presiden kita sekarang, 3 tahun berkuasa sudah mantu 2 kali. Pertama Gibran Rakabuming Juni 2015 dan kedua Kahiyang Ayu yang ijab kabul dan resepsinya Rabu 8 Nopember 2017 besok, di Solo.

Meski tamu yang diundang sekitar 8.000 orang, Presiden Jokowi mengatakan bahwa pernikahan putrinya dengan Bobby Nasution digelar sederhana saja. Alasannya, gedungnya pakai milik sendiri, begitu pula kateringnya. Tapi sesederhananya  Jokowi seorang presiden tentu beda dengan Sarkowi yang warga negara biasa saja. Bila Jokowi tidak mau terima sumbangan, si Sarkowi pastilah sangat mengharapkan. Sebab bisa jadi sewa gedung dan katering semuanya akan dilunasi belakangan.

Dengan tamu 8.000-an termasuk para relawan dan kalangan pelawak, bisa dibayangkan berapa banyak katering yang dibutuhkan. Apakah katering Chili Pari milik Gibran mampu mengcover semuanya. Tentunya banyak katering dikerahkan. Ini mengingatkan pada kisah perkawinan putri Mangkunagoro VII, Gusti Nurul – RM Suryosurso 24 Maret 1951. Tamu meleset dari perkiraan, sehingga segenap rumahmakan di kota Solo dikerahkan untuk memasuk menu ke Mangkunegaran.

Begitu banyaknya tamu, antara undangan resmi dan tamu “penyelundup” berbaur jadi satu. Demikian antusias rakyat Surakarta untuk melihat perkawinan putri cantik legendaris, jaman itu kartu undangan pun sampai diperjual-belikan dengan harga yang cukup mahal. Tamu demikian meledak, sebab tamu yang mestinya hanya untuk pagi saja, malam harinya ikut tampil. Caranya, tamu itu sengaja menyelinap di dalam ruangan Pura Mangkunegaran, dan malam harinya tampil lagi. Benar-benar seperti kere nemoni malem (baca: pesta pora).

Perkawinan Bobby Nasution – Kahiyang Ayu ini memang juga menjadi lahan rejeki para tukang becak pengantar tamu, termasuk penjual makanan di sekitar gedung Graha Sabha Buana tempat resepsi berlangsung. Mereka diminta stand by, siapa tahu menu dalam gedung tak menampung jumlah tamu.

Mantu kedua Jokowi ini di samping merupakan koalisi Jawa – Batak, sekaligus reuni politik antara Megawati-SBY-Prabowo juga. Tiga ketum partai PDIP-Demokrat dan Gerindra, akan bersua dalam hajatan agung ini.  Ketua DPR Setya Novanto akhirnya datang juga. Politisi Senayan juga banyak yang diundang. Yang “mencurigakan” justru Fadlizon-Fahri Hamzah, meski diundang ke resepsinya Presiden Jokowi, mereka pilih menghadiri acara lain. (Cantrik Metaram)

 

Advertisement