
DALAM musim demo, peran nasi bungkus demikian besar. Dia bahkan bisa menjadi tolok ukur untuk mendeteksi kemurnian sebuah demo. Jika produk nasi bungkus dari rumah rumah makan atau katering meningkat pesat, itu berarti demo pesanan. Tapi jika produk nasi bungkus sepi tau normal-normal saja, itu pertanda tak ada rekayasa politik untuk sebuah demo. Sayangnya BPS tidak pernah memantau perkembangan jual beli nasi bungkus setiap hari dan bulannya.
Di negeri Ngastina, Prabu Pandu juga sedang pusing memikirkan urusan bungkus- membungkus. Tapi bukan soal nasi bungkus, melainkan bayi bungkus atas kelahiran anak pertamanya. Ketika Dewi Kunti melahirkan, tak ada tangisan bayi secuilpun. Karena yang lahir dari rahim ibu tersebut bukan bentuk bayi, tapi hanya seonggok benda yang terbungkus kulit tebal dan lembut. Jadi mirip risoles. Hanya karena benda berbungkus itu bergerak-gerak, diyakini bahwa itu memang berisi bayi.
“Brekencong war doyong, elekkkk-elekkk……Tenang saja, Pandu dan Kunthi. Nggak papa, itu isinya memang bayi. Itu sudah kehendak yang Akarya Jagad. Kelak dia akan menjadi tokoh ngetop, maka syaratnya harus kalian buang dulu di hutan Mandalasana. Lakukanlah….,” kata suara tanpa rupa, tapi dari “password”-nya sepertinya itu suara Betara Narada.
“Masak bayi dibuang, pukulun. Jika ketahuan polisi, kami bisa ditangkap.” Jawab Pandu Dewanata.
Suara tanpa rupa itu memang Betara Narada dari kahyangan Suduk Pangudal-udal, tak jauh dari Tukmudal, Purworejo. Pandu pun diajari bagaimana membuang bayi bungkus secara tepat dan aman. Dan pesan beliaunya atas petunjuk SBG (Sanghyang Betara Guru), bayi itu akan pecah dari bungkusnya 4 tahun ke depan, dan menjadi tokoh penting nasional. Capres 2024? Bisa jadi, karena jika Jonggring Salaka berkehendak, dalang ora kurang lakon!
Demikianlah, bayi bungkus itu telah dibuang ke alas Mandalasana dengan aman. Segala ilmu kemayan jati (baca: guna-guna) telah dipasang pula untuk melindungi si bayi bungkus dari ancaman macan dan asu ajag (serigala), termasuk juga semut dan lalat. Tapi semut dan lalat itu memang makhluk luar biasa. Atas perintah Kanjeng Nabi Sulaiman, selama pandemi Covid-19 ini mereka patuh untuk tidak berkumpul dan berkerumun.
“Kanda Prabu Pandu, ini kan sudah seminggu, mbok dicek ke sana, bagaimana kondisi bayi bungkus kita. Amankah?” ujar Dewi Kunti tak sabaran. Biasa, perempuan.
“Tenang aja, dijamin aman. Kan saya pasangi CCTV, jadi bisa dimonitor dari kejauhan.” Jawab Prabu Pandu meyakinkan.
Ketika Pandu menjadi raja Ngastina usianya masih demikian muda, dan ketika beristrikan Kunti juga masih usia 25 tahunan. Karenanya, 2 tahun setelah pembuangan bayi bungkus itu Kunthi punya anak lagi, lahir lelaki dan diberi nama Wijakangka. Alhamdulilah lahir normal di RSB Mitra Keluarga Berada. Namanya juga kelahiran putra raja, sejak pembukaan pertama sampai 50 tak lepas dari liputan TV swasta.
Sementara itu Haryo Suman yang kala itu telah menjadi staf Istana Gajahoya, sangat mencemaskan isyu politik yang berkembang saat itu. Jika benar bayi bungkus itu diprediksi bakal jadi tokoh nasional, bisa mengancam posisinya di Ngastina. Sebab dia sebenarnya juga berambisi jadi patih menggantikan Gandamana. Tapi jika tiba-tiba muncul tokoh milenial yang merakyat dan suka blusukan, jangan-jangan pamor Haryo Suman bisa meredup macam lampu minyak kebanyakan langes-nya.
“Kakang mbok Gendari, perkembangan isyunya kok semakin tak menguntungkan. Indo Barometer bilang bahwa 70 persen rakyat Ngastina percaya bayi bungkus itu kelak akan menjadi tokoh nasional.” Kata Haryo Suman curhat pada sang kakak, istri Destarata kakak Prabu Pandu.
“Nggak usah dipercaya, dikhawatirkan itu survey bayaran. Tapi jika kamu percaya juga, harus segera temukan bayi bungkus itu dan langsung dibakar. Aman kita.” Saran Dewi Gendari bisik-bisik.
Saran Dewi Gendari ternyata berbarengan pula dengan perintah SBG kepada Sanghyang Bayu agar merapat ke hutan Mandalasana sambil mengendarai gajah kahyangan bernama Sena. Tugasnya adalah membedah bayi bungkus yang telah dibuang selama 4 tahun. Sudah saatnya jabang bayi itu lahir ke ngercapada dan menjadi agen perubahan. Tapi awas, jika salah arah bisa berbalik, dari agen perubahan menjadi agen gas melon 3 Kg.
Kenapa SBG penguasa Jonggring Salaka menugaskan Sanghyang Bayu untuk “ngruwat” bayi bungkus putra Pandu? Karena isyunya, Betara Bayu telah mendompleng kenikmatan ketika Pandu-Kunthi bercumbu rayu di malam pertama. Hanya karena Bayu adalah tokoh kahyangan yang sangat disegani, isyunya tak pernah muncul ke permukaan. Koran dan media TV-Internet telah berhasil dikendalikan Jonggring Salaka. Berani mencemarkan nama baik pejabat kahyangan bisa kena denda Rp 2 miliar sesuai UU Cipta Kerja.
“Ngruwat bayi bungkus kok dilempar ke gua. Itu kan urusan dalang Ki Manteb Sudharsono.” Gajah Sena yang mahir bicara mencoba protes pada Betara Bayu.
“Pakai dia kan bayar. Lagi pula, ruwatan masal masih dilarang semasa musim Corona.” Jawab Betara Bayu sekenanya.
Jika sudah urusan pengiritan anggaran, Gajah Sena tak bisa membantah. Maka dia menurut saja diajak masuk hutan Mandalasana. Tapi tiba di sana ternyata sudah banyak wayang Ngastina, tampak di antaranya Haryo Suman, Kartomarmo dan Dursasono. Keduanya hendak membinasakan bayi bungkus yang ternyata berbentuk mirip kendang itu. Telah digergaji pakai sinso, dipecah pakai ganden besi, tak juga bergeming.
Tapi begitu melihat Betara Bayu naik gajah tunggal tapi bukan merk ban, Haryo Suman Dkk langsung kabur. Mirip penebang kayu ketahuan polisi Kehutanan. Bagaimana nggak ngeper, gajah Seno itu gajah dumbo, sedangkan Betara Bayu juga tinggi besar dengan kuku tajam laksana pisau bong supit. Sekali sodet perutnya, berhenti dah jadi orang!
“Minggir, minggir, ada Betara Bayu lewat….” Perintah Haryo Suman sambil tancap gas duluan.
“Ngapain lo pada? Bawa sinso segala, mau nyolong kayu ya?” tuduh Betara Bayu, tapi sudah tak digubris.
Atas perintah dan pengarahan Betara Bayu, gajah Sena mulai bekerja, mencoba membedah bayi bungkus. Tapi meski diinjak-injak berulangkali macam kum-kuman (rendaman) kedelai untuk bikin tempe, tak juga pecah. Betara Bayu lalu memerintahkan untuk menyodetnya dengan gading miliknya. Dan benar saja, beberapa kali disodet dengan gading, langsung pecah itu bayi bungkus. Pyarrr…….
Tak lama kemudian bayi itu keluar dari bungkus merangkak. Tapi hanya dalam hitungan menit sudah menjadi bocah balita dan kemudian ABG. Dalam tempo satu jam sudah menjadi remaja siap kawin. Wayangnya tinggi besar, berkumis dan berjenggot, meski bukan wayang radikal.
Merasa terancam di depan gajah Sena, secara reflek gajah itu ditendangnya dan……tewas. Bagi pemburu liar, gading gajah Sena bisa bernilai puluhan juta.
“Mantul, begitu dong titisan Betara Bayu,” kaya Betara Bayu sambil mengacungi jempol.
“Siapa kau? Mau cari mati juga lu?” ancam kesatria muda tak dikenal.
Suaranya songong sekali, tak punya sopan santun. Terhadap dewa kahyangan hanya main kau kau saja, tangannya juga berkacak pinggang seperti mau ngajak berantem. Padahal wayang lain ketemu Betara Bayu pasti langsung jongkok menghaturkan sembah.
“Kamu saya kasih nama Bratasena ya, ingat baik-baik.” Kata Betara Bayu.
“Nggak pakai Iman, kan? Nanti dikira Dirut TVRI yang baru.” Jawab Bratasena.
Kedua gading dari gajah Sena dipotong Betara Guru dan dipasangkan ke kedua ibu jari Bratasena, diberi nama Kuku Pancanaka. Ini pusaka andalan Bratasena setiap menemui masalah. Lengkaplah sudah, roh gajah Sena dan gadingnya telah menyatu dalam jiwa Bratasena.
Demikianlah, dengan naik truk Fuso Bratasena diantar ke Prabu Pandu sebagai orangtuanya. Awalnya mereka tak percaya bahwa Bratasena berasal dari bayi bungkus, tapi ketika melihat akte kelahiran dari Kantor Catatan Sipil Prabu Pandu akhirnya percaya. Jadilah Bratasena dijadikan anak nomer dua setelah Wijakangka. (Ki Guna Watoncarita)


