BIMA PUPUK (1)

Begawan Durna begitu ketemu Wilutama jantungnya langsung sedut-senut. Apa ngajak CLBK?

BICARA soal pupuk di jagad pakeliran, sama sekali tak ada hubungannya dengan pupuk Urea atau ZA yang diproduksi PT Pusri (Pupuk Sriwijaya) di Palembang. Pupuk di sini mengandung makna perhiasan dari emas yang dipasang pada jidat wayang raden Bima dari Pendawa Lima. Ini merupakan pemberian dari Betara Bayu di kahyangan, sebagai identitas bahwa sang pemilik adalah masih titisan Betara Bayu. Maka Anoman dari Kendalisada juga memiliki pupuk di jidatnya, karena dia juga titisan sang Bayu.

Pupuk emas tersebut bukan sekedar nempel di jidat, tapi sudah berurat berakar dan menyambung ke otak di kepala bagian belakang. Untung saja posisi otak itu masih di tempurung kepala. Jika otak ditaruh pada dengkul, niscaya akan menjadi wayang telmi (telat mikir), karena jaringan distribusi zat-zat pupuk ke otak lambat bersenyawa. Maka bila ada wayang politisi suka nyinyir melulu pada pemerintahan kahyangan, itu karena otaknya ada di dengkul.

Nah, Prabu Jokopitono atau Duryudana dari negeri Ngastina, rupanya termasuk yang berotak di dengkul tersebut. Belakangan ini dia sedang menggugat keberadaan Begawan Bimakandawa yang membangun padepokan di Gunung Jamurdwipa. Menurut data di Google, Begawan Bimakandawa adalah Bima dari Pendawa Lima juga. Sedang secara geografis Gunung Jamurdwipa masih berada dalam wilayah administrasi negeri Ngastina. Ini kan namanya penyerobotan lahan.

“Anak prabu Duryudana boleh saja menyoal Begawan Bimakandawa, tapi harus hati-hati, karena ini soal yang sensitip. Salah-salah anak prabu dituduh kriminalisasi begawan. Nanti jika ribuan cantrik demo ke Ngastina bersama pasukan nasi bungkusnya, repot sampean nanti.” Kata Pendita Durna.

“Lho, ini kan merusak lingkungan. Ribuan pohon ditebangi untuk membangun padepokan. Jika nanti bengawan Silugangga meluap sampai bikin banjir Ngastina, gue lagi yang disalahin, dicap raja gakbener, raja kocluk  yang paling kocluk sedunia…..” jawab Prabu Jokopitono yang sering pula dipanggil Jokopit.

Begawan Durna pun lalu membuka sejarah, intinya bahwa Prabu Duryudana sendiri sebetulnya juga menguasai wilayah orang lain. Sebab pewaris hak kerajaan Ngastina itu adalah Pendawa Lima yang merupakan keturunan Prabu Pandu. Tapi berkat kelicikan Gendari-Sengkuni bersama mafia tanah, sertipikat milik Prabu Pandu itu beralih ke Destarata suami Gendari. Dalam sertipikat yang dikeluarkan oleh BPN juga hanya tertera sebagai HGB alias Hak Guna Bangunan selama 20 tahun.

Itu artinya, masa berlakunya HGB Ngastina tinggal 5 tahun lagi. Suka atau tidak suka, secara otomatis tahun 2026 nanti kekuasaan Ngastina harus dikembalikan ke Pandawa Lima sebagai trah Pandu, tanpa perlu pakai Perang Baratayuda. Ini bisa menghemat anggaran dan tak perlu harus banyak wayang yang jadi korban perang. Sebab jika nanti banyak janda, kata KH Zainudin MZ almarhum, negara harus banyak menyantuni mereka.

“Tapi saya tak peduli paman Durna. Begawan Bimakandawa harus bongkar padepokannya, dan Paman Durna saya tugaskan jadi duta angrampungi (penyelesai masalah). Prajurit Ngastina dan Satpol PP nanti akan membantu sampeyan.” Kata Prabuy Jokopit tak bisa dibantah.”

“Lho, kok saya? Saya kan nggak enak pada Bima. Dia kan mantan murid saya di Sokalima, masak sekarang harus saya binasakan sendiri. Nggak etis dong. Apa kata dunia?” jawab Pendita Durna nadanya berkeberatan.

Tapi kata Prabu Jokopit, justru karena bekas muridnya tersebut tentunya Pendita Durna tahu rahasia kematian Bima. Bila dia wasalam, bagi Prabu Duryudana tak ada lagi tokoh Pendawa yang ditakuti. Nakula-Sadewa, Harjuna, keciiiiil! Apa lagi Puntedewa, wayang lembek macam begitu dijenthik (dipukul pakai kelingking) juga out.

Serba repot bagi Begawan Durna. Melawan perintah Prabu Duryudana takutnya dimutasi dan kemudian ditutup perguruan Sokalima miliknya. Padahal ini merupakan sumber keuangan dirinya. Dari uang gedung, uang studi tour murid-murid, bantuan BOS dari pemerintah, sangat menebalkan koceknya. Sedangkan membunuh Bima,  Durna bisa ditutuh pelanggaran berat HAM. Jika ini sampai terjadi, Durna bisa ditolak masuk Amerika. Apa kata dunia?

“Kalau kakang Durna nggak mau binasakan Bima, artinya sampeyan itu pro Pendawa. Secara lahir berada di Ngastina, tapi batin sampeyan berafiliasi ke Pendawa. Itu namanya sampeyan main dua kaki kayak Partai Demokrat.” Sindir Patih Sengkuni yang juga hadir dalam persidangan.

“Di Cuni, sampeyan jangan mojokkan saya. Kalau tak percaya, belahlah saja dadaku. Isinya tulisan”I love Kurawa.” Balas Durna sambil menunjuk dadanya.

“Yaaaaak, macam Muhsin-Titiek Sandhora saja sampeyan…..” Patih Sengkuni mencemooh.

Demikianlah, dengan berat hati Begawan Durna menerima tugas berat itu. Dia harus  membujuk begawan Bimakandawa untuk meninggalkan Gunung Jamurdwipa tanpa ganti rugi sepeserpun. Nantinya bekas kelas-kelas ruang para cantrik itu bisa dimanfaatkan sebagai SD Inraj (Instruksi Raja). Sekolah-sekolah yang belum punya gedung bisa menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar di sini.

Tapi jika Begawan Bimakandawa menolak, itu artinya dia harus tega pada mantan murid sendiri. Berperang melawan Bima, secara pisik saja kalah jauh. Bima tinggi besar, sedangkan Durna relatif kecil seperti turunan stunting. Sekali dibanting apa nggak langsung nungging dan jiliding? Benar-benar pusing Pendita Durna, bak makan buah simalakama.

“Kenapa kamu bermuram durja, wahai Kumbayana?” tiba-tiba terdengar suara wanita dengan nada manja. Kenal suaranya, tapi tak kelihatan wujudnya.

“Siapa gerangan tuan? Aku tak pernah memimpikanmu tadi malam.” Jawab Begawan Durna yang rupanya penggemar lagu Aryati karya Ismail Marzuki.

Dan begitu menampakkan wajahnya, jantung Begawan Durna langsung sedut senut. Pantas saja wanita itu langsung menyebut namanya sewaktu muda, karena dia ternyata Dewi Wilutama, mamaknya Aswatama. Dia bidadari dari kahyangan, hanya ketika terjadi skandal dulu, Wilutama  berubah wujud sebagai kuda karena kutukan dewa. Dan sudah 40 tahun berlalu ternyata Dewi Wilutama masih muda saja, sementara Kumbayana sendiri kini barus rajin minum obat karena dirinya sudah menjadi anggur kolesom. (Ki Guna Watoncarita)

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement