
SEBETULNYA Begawan Durna malu ngomong begitu, karena tak eloklah seorang direktur perguruan Sokalima beragama kok nantang berantem. Lalu apa bedanya dengan murid SMA yang hobi tawuran? Tapi karena kepepet, apa boleh buat. Pada ajaran agama pun, barang haram dalam kondisi darurat bisa menjadi halal.
Kapi Anoman tertawa ngakak sampai berguling-guling. Baru kali ini ada seorang direktur sekolah, setiap bulan dapat tunjangan sertifikasi, kok turun gunung mau ngajak berantem sendiri. Bisa-bisa perguruan Sokalima akan ditutup langsung oleh penguasa Jonggring Salaka. Atau bisa juga Pendita Durna kadung frustasi, karena selama pandemi Corona padepokan juga dilarang menyelenggarakan pendidikan secara tatap muka.
“Jangan lari kau Anoman! Lawan anak-anak Kurawa kamu boleh klaim kemenangan, tapi lawan Pendita Durna simpan dulu ke-GR-anmu!” tantang Durna.
“Udah Mbah, istirahat saja di rumah. Sudah divaksin belum?” ledek Anoman lagi.
Ternyata Pendita Durna memang benar-benar serius magut yuda (berperang). Sebab belum juga kena hajar Anoman, dia sudah mengeluarkan senjata andalan Sokalima, yakni kyai Cundamanik. Ini memang pusaka hibah dari kahyangan yang punya keampuhan tiada tara. Jangankan kena tusuk, baru tergores saja korban langsung kejang-kejang seperti terkena tetanus. Sebelum sempat dibawa ke Puskesmas korban pasti wasalam.
Dan Anoman melihat itu! Begawan Durna angkat tinggi-tinggi Cundamanik sambil sesumbar akan segala kelebihan dan kesaktian pusaka andalannya. Dan sebetulnya yang paling ditakuti Kapi Anoman, ada laporan di Detikcom bahwa pendita Sokalima ini positip terpapar Corona. Ini lebih gawat ketimbang Cundamanik! Karena meski tanpa bersentuhan pun, berjarak kurang dari 1,5 meter dengan penderita, bisa terpapar juga sebagai OTG.
“Lho, lho,…..kok kabur kamu Anoman? Katanya mantan panglima perang Pancawati?”
“Maaf, Mbah! Saya belum divaksin, cari aman saja dululah!” jawab Anoman sekenanya, sambil loncat ke pohon belimbing wuluh, dan makin sempurnalah Anoman sebagai pengecut, karena belimbing wuluh rasanya memang kecut (asem).
Dengan kaburnya Anoman, semakin lapanglah jalan Begawan Durna menemui Begawan Bimakandawa di pertapan. Keduanya lalu berdiskusi, antara guru dan bekas muridnya. Kini keduanya telah sama-sama menjadi begawan. Bedanya adalah, Durna begawan asli, sedangkan Bimakandawa begawan karbitan karena lembaga miliknya juga belum terdaftar di Kemenkumham.
Begawan Durna pun mengutarakan maksudnya. Sebagai pengaman instruksi Prabu Jokopit, dia terpaksa mengusir Bimakandawa dari Gunung Jamurdwipa. Di samping wilayah ini masih dalam penguasaan negri Ngastina, status perguruan Begawan Bimakandawa sama sekali juga belum terdaftar. Karenanya dilarang menerima murid baru, apa lagi memungut SPP.
“Bima, kau kan mantan muridku, jadi harus menurut apa kata bekas gurumu. Ingat pesan Ibu Sud, hormati gurumu sayangi teman, itu tandanya kau murid budiman…..” kata Begawan Durna sambil bersenandung.
“Budiman Sujatmiko politisi PDIP itu? Dia sekarang sudah nggak duduk di DPR bapa….” jawab Begawan Bimakandawa.
Intinya, Begawan Bimakandawa menolak permintaan bekas gurunya. Di samping itu, secara yuridis formil Gunung Jamurdwipa memang dalam kekuasaan Ngastina, sedang negri Ngastina sendiri sebetulnya warisan Prabu Pandu yang juga orangtua keluarga Pendawa Lima. Hanya karena ulah mafia tanah sajalah, negri Ngastina kini bisa dikangkangi kubu Kurawa entah sampai kapan.
“Jadi kamu tetap nggak mau hengkang dari Gunung Jamurdwipa? Apa yang kau lihat ini? Pusaka Cundamanik bisa bikin hidupmu langsung selesai….,” ancam Durna.
“Jangankan cuma pusaka apa itu? Cundamanik? Di Jamurdwipa pusaka macam begituan hanya untuk nyangkul di kebun, tahu!” ujar begawan Bimakandawa meledek.
Pendita Durna menarik napas panjang. Setelah mengangkat dirinya jadi begawan, modal jubah dan sorban, Bima sebagai begawan berani meremehkan mantan gurunya. Senjata andalan yang setiap malam Selasa dan Jumat Kliwon selalu dikutugi (bakar kemenyan) kok direken seperti cangkul cap buaya. Kurang ajar betul dia.
“Sudah ikhlas dengan kepergian nyawamu Bima?” sekali lagi Durna minta ketegasan.
“Sudahlah, bapa Durna nggak usah bicara ngalor ngidul buang-buang waktu. Mari, gunakan senjatamu!”
Begawan Durna segera menusukkan pusaka Cundamanik ke tubuh Begawan Bimakandawa, mak genduuut…….,sama sekali tak luka! Sepertinya membal saja, bak mainan plastik ketemu karet spon. Berulangkali ditusukkan tapi kagak ngaruh. Malu sekali Begawan Durna. Dapat ilmu dari mana Bima? Padahal selama jadi muridnya, Durna belum pernah mengajarkan ilmu kekebalan tubuh dan diplomatik.
Tiba-tiba Durna ingat pesan Betari Wilutama tempo hari. Maka sasaran dipindahkan. Pupuk emas yang berada di jidat Bimakandawa langsung dihajarnya pakai Cundamanik, pletakkkk! Aneh bin ajaib, pupuk emas itu terlepas dari jidat dan Begawan Bimakandawa terjengkang jatuh dan tewas.
“Mampus kau Bima. Kamu mati, otomatis perang Baratayuda batal. Ngastina tetap di bawah kendali Prabu Jokopit, dan saya tetap dipercaya sebagai nasihat kerajaan, ngerangkap komisaris…..” kata Pendita Durna sambil berjoged kegirangan.
Jenazah Begawan Bimakandawa dibiarkan terbujur kaku, kecuali hanya diambil pupuk emasnya. Sedangkan Pendita Durna buru-buru kabur hendak melapor ke Prabu Jokopit, karena sudah berhasil membinasakan musuh politik Kurawa. Dalam hati kecilnya Durna mengatakan, dia berharap sekali dapat jabatan baru sebagai Komisaris Utama di BUMN, misalnya ditaruh pada PT Angin Ribut Abadi, atau PT Kanca Dewek Jaya.
Tapi di lembah hati nuraninya paling dalam, Pendita Durna juga menyesal, kenapa beraninya pada murid? Yang biasa terjadi sekarang kan: murid berani sama guru. Atau murid membunuh guru. Kalau guru membunuh murid, itu janggal dan aneh dalam perspektif era globalisasi dan gombalisasi.
“Kau telah berkhianat pada dirimu sendiri, Kumbayana! Seorang begawan tak boleh memikirkan duniawi……” tegur hati nurani.
“Biarpun begawan, beli jubah dan sorban memangnya tak pakai duit?” bantah si hati jahat.
Demikianlah, mayat Begawan Bimakandawa yang terlantar segera ditemukan oleh Gatutkaca. Kebetulan baru saja melakukan patroli udara. Dia nangis tersedu-sedu menyaksikan sang ayah tewas dengan jidat bolong. Bukan karena kecipratan bom gereja Makassar, tapi pupuk emasnya coplok. Bima tanpa pupuk emas di jidatnya, sama saja ban dalam kehilangan pentil.
Kunarpa (mayat) sang ayah segera dibawa terbang, untuk dilaporkan kepada Prabu Kresna di Dwarawati, karena hanya beliaunya yang punya kembang cangkok Wijayakesuma, ajian penghidup mayat. Berat badan Bima memang hampir 150 Kg, sehingga Gatutkaca hanya mampu terbang rendah di atas pohon kelapa. Bahkan kakinya kadang nyerimpet pucuk-pucuk janur kelapa.
“Tolong Pakde, hidupkan kembali ayahku….” ujar Gatutkaca sambil terisak.
“Kalau pupuknya tak ditemukan, ya nggak bisa. Pasti ngempos terus….” jawab Prabu Kresna, karena di masa mudanya pengalaman jadi tukang tambal ban tubles.
Lewat Kaca Paesan miliknya, Prabu Kresna langsung tahu siapa biang kerok semua ini. Janjian dengan Prabu Puntadewa, keduanya menyamar sebagai raksasa Brahala dan Dewa Amral memburu Pendita Durna yang nyaris stress menyesali hidup.
“Kembalikan pupuk emas itu, cepat!” sergah kedua raksasa jumbo tersebut.
“Nggak bisa! Karier dan nasibku ada di pupuk emas ini….” jawab Durna.
Langsung saja Durna ditangkap dan dirogoh kantong jubahnya. Pupuk emas itu ditemukan dan segera dipasangkan kembali ke jidat Bima. Alhamdulillah, berkat ajian cangkok Wijayamulya Begawan Bimakandawa hidup lagi dan kembali sebagai Werkudara wujud aslinya. (Ki Guna Watoncarita – tamat)


