Bisa Naik Haji, Tukang Sapu Masjid Merasa dapat Mukjizat

Ilustrasi, Umrah di baitullah, Mekah. Foto: Ist

TULUNGAGUNG – Niat setiap manusia dicatatkan oleh Allah SWT, dan sesuai kehendak Nya niat tersebut dapat terkabul. Seperti niat Mulyono (75), si tukang sapu di Masjid Jami’ Al-Munawar, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, yang merasa mendapat mukjizat dan keajaibanlah karena niatnya naik haji terkabul tahun ini.

Mantan tukang becak yang kemudian memilih menjadi relawan kebersihan di masjid agung di pusat “Kota Marmer” itu akan memulai keberangkatan calon jamaah haji kloter 9 pada 29 Juli pukul 15.00 WIB.

 

“Semoga Engkau beri hambamu ini kesempatan memeluk dan mencium Hajar Aswat-Mu yaa Rabb”, begitulah penggalan doa yang selalu dipanjat Mulyono tiap kali bersujud usai shalat di Masjid Agung Al-Munawar, dari waktu ke waktu.

Sampailah suatu ketika Mulyono pada sekitar 2011 menghadiri ziarah haji salah seorang jamaah masjid Al-Munawar. Mimpi dan angan Mulyono yang sudah kian uzur tiba-tiba membuncah.

Sepulang dari ziarah, Mulyono “kelepasan” mencurahkan isi hatinya menunaikan ibadah suci itu ke istrinya yang sudah almarhum, Muslikah, dan terdengar anak bungsunya, Lilik Mulyani (29).

“Sebelum daftar, ayah saya ini sempat ‘curhat’, apakah bisa berangkat haji dengan gaji segitu. Saya bilang, kalau Allah menghendaki pasti bisa,” kata Lilik bertutur.

Rasa sayang kepada sang ayah, mendorong hati bungsu tiga bersaudara yang barusan diterima menjadi honorer guru ini untuk berihtiar mencari informasi pendaftaran haji yang terjangkau.

“Dari situlah saya mendapat informasi program dana talangan haji yang dikeluarkan sebuah bank syariah,” kata Lilik.

Atas permintaan Lilik, pihak bank lalu memesan kursi untuk Mulyono, senilai Rp25 juta.

Namun kabar baik tak langsung disampaikan Lilik kepada bapaknya yang tiap siang berangkat ke Masjid Al-Munawar yang berjarak sekitar tiga kilometer dari rumahnya dengan jalan kaki.

Disimpannya dulu, sampai akhirnya pada November 2011, Lilik resmi mendaftarkan haji sang bapak dengan mahar atau biaya awal Rp2,5 juta.

Dana talangan Rp 25 juta itulah yang harus diangsur Mulyono selama enam tahun. Dari jadwal tunggu, seharusnya Mulyono berangkat pada 2021 mendatang.

“Bapak beruntung jadwal keberangkatannya maju, beberapa tahun lebih awal berkat adanya penambahan kuota haji dari pemerintah Arab untuk Indonesia, serta sebagian calon peserta jamaah haji yang menunda keberangkatan dengan berbagai alasan,” tutur Lilik, dilansir Antara.

Ya, menurut Lilik, jalan ayahnya menuju tanah suci mendapatkan kemudahan. Setelah melakukan pelunasan pada Bulan Juni, ada pemberitahuan bahwa Mulyono lolos dan akan diberangkatkan tahun ini. Setelah dicek di Kantor Kementerian Agama Tulungagung, nama Mulyono memang tercantum.

 

Lilik mengatakan, meski terlibat dalam pendaftaran awal untuk keberangkatan haji, semua biaya yang diperlukan berasal dari hasil jerih payah ayahnya. Terutama dari infaq jamaah yang tergerak hatinya, setelah tahu Mulyono akan berangkat haji.

 

Selain hatinya yang tengah bahagia, pria sepuh ini mengaku sudah tidak sabar ingin segera terbang ke Tanah Suci Makkah, dan menyentuh Hajar Aswat yang menjadi simbol inti rumah Allah (Baitullah).

Advertisement