SENTANI – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Papua menyebut penyebab banjir bandang serta longsor di Sentani, Kabupaten Jayapura, diakibatkan faktor curah hujan sejak Sabtu (16/3/2019) hingga Minggu (17/3/2019) dinihari serta gempa bumi.
Kepala BBKSDA Papua, Edward Sembiring, mengatakan open area yang terjadi di Cagar Alam (CA) Pegunungan Cycloop tersebut adalah karena pertanian tradisional, permukiman, dan area yang tidak berhutan.
Edward menyebut sepekan sebelum kejadian banjir bandang terjadi, tim resort Sentani BKSDA Papua telah melakukan pengecekan lokasi kedua hulu sungai di Sereh dan Kemiri itu karena indikasi sungainya yang keruh.
“Di lokasi ditemukan beberapa titik longsor sebagai akibat air keruh, dengan titik longsor E 140 31’2,541″ – S 2 31’45,758 (Lokasi Sereh) dan E 140 29’317″ – S 2 30’55, 519 (Kemiri). Penyebab banjir sampai saat ini disebabkan oleh debit puncak air yang melebihi pengaliran daerah tangkapan air, curah hujan yang sangat ekstrem serta intensitas hujan yang sangat tinggi mencapai 114mm/hari,” kata Edward.
Secara geologis, katanya, wilayah Sentani dilintasi patahan sehingga patut di duga karena pergerakan patahan. Dengan terjadinya tiga kejadian gempa skala 3,3 SR pada 15 Maret 2019 dan 5,4 SR pada 16 Maret 2019 dan 4,1 SR pada 11 Februari 2019, dan dipicu adanya curah hujan tinggi menyebabkan kejadian longsor.
Dia menyebut, di sekitar kejadian banjir bandang tidak ditemukan adanya pembalakan liar.
Hal tersebut dapat dipastikan karena material kayu yang hanyut terbawa banjir tidak ditemukan pohon bekas tebangan namun pohon yang tercabut dengan akarnya.
Edward menyampaikan bahwa CA Cycloop adalah kawasan suaka alam yang memiliki ciri khas tertentu dan mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa, serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan.
Sementara, Balai Besar Meteorologi Kimatologi dan Geofisika (BBMKG) wilayah V Jayapura menyebutkan bahwa curah hujan yang menguyur wilayah Kabupaten Jayapura dan sekitarnya mencapai 114 mm/hari.
Intensitas hujan yang tinggi telah membuat sejumlah sungai meluap, diantaranya sungai sere, tahara dan sungai kemiri, di mana kedua sungai tersebut juga berhulu di CA Pegunungan Cycloop.




