SENTANI – Seorang korban luka banjir bandang Sentani, Mama Helena Murib (38), mengisahkan ketika dia secara tiba-tiba dihantam arus banjir pada Sabtu (16/3/2019) malam.
“Kami berpencar, hingga saya diselamatkan oleh satu orang bapak untuk mengikuti langkahnya. Tangan saya sempat kena kayu besar dan untung masih bisa saya tarik,” kata Mama Helena yang masih kesakitan pada tangan kanannya.
Saat kejadian, menurutnya semuanya langsung gelap. Ia bercerita sebelum arus air semakin deras, ia berhasil menyelamatkan diri, bersama 3 orang keluarga dari dalam rumah. Namun hingga kini tiga orang keluarganya tak diketahui keberadaannya.
“Saya tidak tau mau ke mana. Tidak tau mau menghubungi siapa,” kata Mama Helena sambil meneteskan air mata.
Tangannya terluka akibat tersapu arus banjir dan terkena reruntuhan batang pohon yang hanyut bersama arus.
“Air seperti ditumpah dari atas gunung Cyclop. Padahal hujan tak terlalu deras, namun arus banjir sangat kencang,” kata nya, dikutip Gatra.com.
Mama Helena mengatakan dirinya yang tinggal di Kabupaten Puncak, baru satu minggu berada di Sentani, untuk mengunjungi salah satu keluarganya.
Dia tak pernah menyangka akan mendapatkan musibah diterjang arus banjir bandang yang hingga Senin (18/3/2019), menurut data BNPB telah menewaskan 79 orang.




