JAKARTA – Kepala Bidang Informasi Gempa bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono mengatakan saat ini banyak pihak tidak bertanggung jawab menyebarkan informasi bohong mengenai prediksi gempa terjadi di Indonesia.
Dia mengimbau masyarakat harus memastikan informasi gempa tersebut berasal dari sumber yang memiliki alamat kantor, nomor telepon, serta nama petugas yang bertanggung jawab.
“Ini penting agar informasi yang dikeluarkan dapat direspons balik oleh publik, sehingga lembaga tersebut dapat dihubungi untuk dimintai penjelasan lebih lanjut,” katanya.
Daryono menyebutkan beberapa lembaga yang bisa digunakan masyarakat sebagai sumber informasi terkait gempa. Lembaga tersebut yakni BMKG, USGS (Amerika Serikat), JMA (Jepang), GFZ (Jerman), EMSC (Mediterania), Geoscope, dan CEA (China).
Jika mereka tidak menyebutkan lembaga, alamat, nomor kontak lembaga dan nama petugas yang dapat dihubungi, bahkan tidak menjelaskan metoda ilmiah ataupun data yang digunakan untuk memprediksi, maka sebenarnya mereka tidak bertanggung jawab. Daryono mengibaratkan hal tersebut dengan seorang anak setelah melempar petasan kemudian lari dan bersembunyi.
“Saya percaya siapapun dapat dengan mudah membuat tulisan semacam informasi gempa dan prediksi gempa karangan selanjutnya diunggah di media sosial,” kata dia melanjutkan.
Belakangan, beredar prediksi gempa palsu di media sosial. Terkait hal tersebut, Daryono mengungkapkan bahwa gempa tidak dapat diprediksi dan mustahil ada lembaga saat ini dapat memprediksi gempa secara tepat.
“Daryono menegaskan hingga saat ini, tidak ada satupun lembaga resmi dan pakar yang kredibel dan diakui mampu memprediksi gempa.
Dikutip Republika, dia menambahkan, pakar gempa sedunia kini pun sepakat bahwa gempa memang belum dapat diprediksi dengan akurat kapan di mana dan berapa magnitudonya.





