JAKARTA -Kepala Pusat Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Fahry Rajab mengatakan Indonesia pernah mencapai suhu panas tertinggi hingga 40 derakat celcius.
Pernyataan tersebut menjawan suhu panas yang terjadi pada beberapa hari terakhir.
“Saat ini kita masuk di periode peralihan musim. Berdasarkan pengamatan, suhu tertinggi ada di 36,1 derajat Celsius. Kalau dilihat dari data historis, ini kondisi yang lazim terjadi,” kata Fahry, Selasa (10/5).
“Suhu tertinggi di Indonesia yang pernah tercatat 40 derajat celsius di Larantuka [Flores Timur] pada 2012,” lanjutnya.
Fahry menjelaskan pengukuran suhu dibagi dua, yakni maksimum dan minimum. Untuk maksimum, suhu 33-36 derajat disebut masih dalam kondisi normal.
“Tapi kenapa kok rasanya panas banget? Ada pengaruh lain, yaitu kelembaban udara. Karena Indonesia itu tropis, kelembapannya tinggi. Jadi kombinasi suhu dan kelembaban itu yang bikin gerah karena penguapan tubuh semakin banyak,” jelas Fahry.
Fahry menambahkan suhu panas yang terjadi secara umum bisa jadi pengaruh perubahan iklim. Hanya saja kata dia butuh data dan penelitian serius untuk memastikannya.
“Secara umun ada dampak dari perubahan iklim terhadap perubahan suhu. Beberapa penelitian menyatakan salah satu pengaruh perubahan iklim adalah meningkatnya suhu, tapi saya tidak bisa menyimpulkan ini. Butuh data serius,” terangnya.
Satu hal yang dapat dipastikan Fahry yaitu suhu panas yang terjadi bukan akibat gelombang panas seperti di India. Cuaca panas yang terjadi di Indonesia murni akibat pemanasan maksimal dari Matahari yang membuat suhu menjadi naik.





