PALEMBANG – Berdasarkan pemetaan Badan Nasional Penanggulanan Bencana (BNPB), ada 150 juta masyarakat Indonesia tinggal di daerah rawan bencana.
150 juta penduduk tersebut yakni 60 juta warga yang tinggal di daerah rawan banjir, 40 juta di daerah rawan longsor, empat juta di daerah rawan tsunami dan 1,1 juta tinggal di daerah erupsi.
Kepala BNPB Willem Rampangilei mengatakan, dalam setiap tahunnya negara mengalami kerugian sebesar Rp30 triliun akibat bencana yang terjadi di Indonesia. Berdasarkan data dari BPNPB, sepanjang 2016 setidaknya telah terjadi 2.384 bencana alam dari seluruh wilayah di tanah air.
“Itu belum masuk untuk bencana besar, seperti di Aceh, Garut dan Bima. Hasil perhitungan tersebut, hanya daerah rawan yang terjadi setiap tahunnya. Diperkirakan negara merugi Rp30 triliun setiap tahun akibat bencana” kata Willem di Palembang, Minggu (19/2/2017), dikutip dari Viva.co.id.
“Indonesia adalah negara sangat rawan bencana, semuanya sudah kita petakan. Bahkan kita punya indeks risiko bencana. Dari dasar itulah kita bisa antisipasi bencana sejak awal” ujarnya.
Menurut Willem, banyaknya bencana yang terjadi di Indonesia dilatarbelakangi oleh banyaknya pembangunan tanpa diimbangi oleh tata ruang yang baik.
“Karena laju kerusakan lingkungan lebih cepat, dari pada upaya pemulihan kita. Kurang lebih dua sampai tiga kali lebih cepat. Ini yang harus kita garap dulu. Selain itu, penyebabnya das sudah kritis” tambahnya.
Kemudian karena perubahan iklim, kalau dilihat sepanjang tahun, volume hujannya sama tetapi datangnya lebih besar dan lebih singkat. Namun, daya tampungnya sedikit.




