JAKARTA, KBKNEWS.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menggelar talkshow Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) di Kota Mojokerto pada Rabu (1/10), dengan tema Sinergi Pentahelix.
Acara yang berlangsung di Ruang Rapat Paseban Agung, Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Mojokerto, menghadirkan narasumber yang terdiri dari Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Prasinta Dewi; Deputi Direktur 1 Program Sosial, Kemanusiaan, dan Dakwah Dompet Dhuafa, Juperta Panji Utama; Redaktur Jawa Pos Radar Mojokerto, M. Chariris; Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Mochammad Thanthowy Syamsuddin; dan Deputy General Manager PT Kurita Indonesia, Akito Yanai.
Prasinta Dewi menjelaskan betapa pentingnya Pentahelix untuk menekan risiko bencana dan meningkatkan upaya ketangguhan masyarakat hadapi bencana.
“Bencana adalah urusan bersama, peran Pentahelix sangat ditunggu. Banyak sekali ide-ide yang sudah dilakukan yang terkait dengan ancaman, untuk mengurangi risiko bencana,” ucap Prasinta.
Dia melanjutkan, jika semua pihak harus melihat ancaman di sekitar bukan hanya banjir ataupun cuaca ekstrim, karena banyak bencana lain butuh peran Pentahelix, dan perlu adanya edukasi keberlanjutan atau ruang untuk memperkuat sinergi.
Di sisi lembaga filantropi, Juperta Panji Utama menitikberatkan bahwa masyarakat dhuafa jauh lebih rentan dan terdampak dari bencana yang terjadi. Mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan terdampak jauh lebih parah ketimbang mereka yang kehidupannya mapan. Saat terdampak maka upaya untuk pemulihan (recovery) akan lebih besar penangananya.
“Dompet Dhuafa berusaha dan mengajak semua pihak bahwa risiko itu bisa diubah menjadi kekuatan bukan ketakutan. Risiko menjadi resiliensi, kedermawanan menjadi ketangguhan kolektif,” lanjutnya.
Akito Yanai memperlihatkan dari sisi pelaku pengusaha. Selain mengejar profit, para pelaku usaha juga harus memperhitungkan hubungan harmonis antara manusia dan alam. Bahwa pengusaha jangan melewati batas sampai mengeksploitasi alam dan meningkatkan risiko ancaman bencana. Pengusaha juga bisa turut menjaga dan mengembangkan teknologi guna meningkatkan kehidupan yang berkelanjutan.
Sementara Mochammad Thanthowy Syamsuddin menuturkan bahwa sinergi juga harus berbasis data ilmiah dan faktual. Karena itu menjadi fondasi penting guna menciptakan program dan sinergi berkelanjutan: masyarakat tangguh yang harmonis dengan alam.
Terakhir ujung tombak semua itu peran komunikasi yang diemban media berperan menerjemahkan program dan hasil kolaborasi dari Pentahelix ini. Tujuannya agar masyarakat terpapar informasi yang terbuka dan bisa ikut serta berperan dalam penanggulangan pengurangan risiko bencana serta tetap kritis terhadap kebijakan yang ada.
Talkshow ini diharapkan menjadi jembatan dan ruang kolaborasi berbagai pihak yang transparantif dan transformatif bagi penghidupan masyarakat yang tangguh hadapi bencana.




