
PEMKOT Sao Paulo, Brazil kewalahan menangani penyebaran Covid-19 dan kini cuma bisa pasrah menyiapkan 13.000 liang lahat guna menampung kemungkinan korban yang bakal meninggal terinfeksi virus yang menjadi pandemi global itu.
Sejauh mata memandang, ungkap Sky News baru-baru ini, dari udara tampak belasan ribu deretan liang lahat di kompleks pemakaman umum Vila Formosa, Sau Paulo yang disiapkan bagi para korban Covid-19 nantinya.
Para pekerja medis, lanjut Sky News dalam laporannya, belum putus asa dan masih berjuang mencegah jatuhnya korban-korban berikutnya, namun penyiapan liang-liang lahat itu bisa dianggap sebagai simbul kekalahan dalam perang melawan Covid-19.
Korban-korban yang tewas akibat Covid-19 mulai berdatangan di tempat peristrirahatan mereka dengan kereta merta, dikawal tim pemulasaraan jenasah dan penggali makam mengenakan APD lengkap, sementara beberapa anggota keluarga inti mengiringi dari belakang.
“Prosesi pemakaman berlangsung singkat, mulai dari kedatangan jenasah, pengecekan dokumen dan beberapa menit penghormatan dari keluarga, “ papar Produser Sky News Marcia Reverdosa seraya menambahkan, momennya sangat mencekam dan memilukan.
Jika tidak sempat, peti mati bakal langsung dimasukkan ke liang lahat begitu cepat hingga keluarga yang berduka tak sempat memberikan penghormatan terakhir.
Reverdosa menerangkan, suasana begitu pilu tatkala menyaksikan keluarga mengamati proses pemulasaraan di tengah liang lahat kosong dan terbuka, menanti diisi jenasah lainnya.
“Setelah pemakaman usai, anggota keluarga lain akan menempati posisi mereka, mengikuti prosesi penguburan berikutnya, sementara banyak orang menolak mengakui kerabatnya meninggal akibat Covid-19 karena takut mengalami stigma negatif.
Presiden Jair Brazil Bolsonaro sendiri agaknya memandang enteng wabah Covid-19, menganggapnya cuma penyakit “flu ringan” dan ia tampak sangat gusar saat diingatkan bahwa korban yang jatuh (sekitar 5.000 orang) sudah melebihi dari korban di Wuhan, China.
“Emangnya kenapa? Saya berduka, tapi apa yang kalian inginkan tentang yang harus saya lakukan. Saya bukan Mesias yang bisa menciptakan keajaiban, “ kilah Bolsonaro kepada wartawan yang mencecarnya dengan pertanyaan kritis.
Bolsonaro juga menolak memberlakukan lockdown untuk memenuhi tuntutan pendukungnya dari kelompok sayap kanan, padahal kebijakan itu sudah didukung oleh Mahkamah Agung dan Kongres.
Pelajaran yang perlu ditarik dari Brazil, rapid test massal harus terus dilakukan, sementara masyarakat hendaknya berdisiplin dan mematuhi program PSBB terutama social distancing termasuk larangan mudik.
Jika tidak, outbreak Covid-19 seperti terjadi di Brazil da Ekuator bisa saja terjadi di sini (Berbagai sumber/NS)



