Buku dan Tari Perut

Tari Bedaya di Pura Pakualaman, Yogyakarta. Melihat sampai melotot pun tak perlu malu.

           DARI judulnya saja sudah tidak nyambung, apa hubungannya buku dan tari perut? Tapi ini sungguh-sungguh terjadi di ibukota negara. Ada peluncuran buku Anwar Nasution, bukan ekonom biasa, sebagai “hiburan”-nya justru sajian tari perut. Yang kasihan tentu saja Menteri PUPR Basuki Hadimulyono. Dia terekam di adegan itu, sehingga akhirnya diperolok-olokkan di medsos. Maka jika “Capres” Rhoma Irama ada di situ, tentu akan bilang: terlalu! Dan yang perlu dipertanyakan: panitianya cap apa?

Di tempat hiburan malam Mangga Besar, Jakarta Barat, sajian tari perut, itu mah biasa. Di sana sebagai gudangnya para lelaki dugem (dunia gemerlap), akan dijumpai dengan mudah. Di bilik-bilik karaoke, dari sekedar menari perut sampai memperlihatkan perut wanita, termasuk anggota tubuh lainnya dari ujung rambut hingga ujung kaki, bisa ditemukan. Tentu saja itu bukan gratis. Meski tanpa PPN 10 %, pengunjung harus bayar, kecuali ada dana CSR alias ada “sponsor” karena diajak teman.

Isi perut menari-nari karena lapar, itu namanya:keroncongan! Suara perut, adalah suara dalam, yang biasa dipakai Gatot Sunyoto di TVRI tahun 1980-an, untuk membawakan boneke si Tongki. Tapi kalau tari perut? Jangan dibayangkan perutnya yang bisa menari-nari lemah gemulai seperti Bedaya atau Srimpi di Kraton Surakarta-Yogyakarta. Di sini yang sebetulnya hanyalah pameran wanita cantik setengah telanjang, berjingkrakan di atas panggung dengan iringan musik, untuk memamerkan perut berikut udelnya sekalian pada hadirin.

Kemarin heboh di medsos, gara-gara acara peluncuran buku “Anwar Nasution, bukan ekonom biasa”, disisipi sajian tari perut. Padahal peluncuran buku di Balai Kartini itu juga dihadiri Wapres JK dan Menteri ESDM Ignasius Yonan, termasuk Menteri PUPR Basuki Hadimulyono. Apa panitia pikir mereka penggemar tari-tarian semacam itu? Jelas mereka bukan golongan itu. Cuma karena ada menteri yang tertangkap kamera dalam acara itu, jadi heboh dan Menteri Basuki Hadimulyono habis dicengin netizen.

Tari perut jelas jauh dari wilayah ilmu, tapi dalam acara ekonom mantan Gubernur BI, kok bisa dimunculkan? Anwar Nasution sendiri sebagai yang punya gawe terkaget-kaget, kok bisa-bisanya tari perut jadi tamu tak diundang? Paling kasihan tentu saja Mentri Basuki Hadimulyono. Meski tari perut itu sekedar menjadi penutup, tapi dia sempat tertangkap kamera, sehingga jadilah viral. “Saya apes saja ini,” kata Pak Menteri tersipu-sipu.

Tahun 2011 pernah terjadi, seorang pejabat negara yang namanya anggota DPR dari Fraksi PKS, terpergok wartawan buka-buka gambar porno di tablet miliknya, ketika dalam sidang DPR. Kontan dia jadi bulan-bulanan publik, sehingga saking risihnya dia pilih mengundurkan diri.

Menteri PUPR tak perlu bersikap sampai sejauh itu, wong itu bukan maunya dia. Namanya juga apes. Dan Pak Jokowi pun takkan memasukkan namanya dalam raport merah, gara-gara soal yang demikian nylekethe (sepele). Apa lagi Menteri Basuki ini termasuk menteri yang bisa mengimbangi irama kerja presiden, kerja, kerja, kerja…….

Sepanjang sejarah keilmuan, memang baru kali ini peluncuran buku-buku ilmiah kok “hiburan”-nya tari perut. Panitianya musti diusut. Sengaja memunculkan, atau ada penyumbang liar,  atau sekedar mau “ngerjai” yang punya hajat? Atau memang saking gebleknya panitia, sehingga misalkan raja dangdut Rhoma Irama hadir, pasti akan bilang: terlalu! (Cantrik Metaram)

Advertisement