Buku Hitam Dan Bubur Ketan Hitam

Bubur kacang ijo campur ketan item. Pengganjal perut mahasiswa sedang bokek.

ISTILAH kambing hitam dan dunia hitam sering kita dengar, dan maknanya pun sudah mafhum. Tapi ketika “buku hitam” dan yang punya eks Ketua DPR Setya Novanto, banyak yang jadi tersinggung. Sampai-sampai mantan Presiden SBY pun bersitegang dengan pengacara Firman Wijaya, gara-gara nama putranya masuk dalam “buku hitam”-nya Setya Novanto. Tapi terlepas dari kasus itu, celana panjang hitam dipadu dengan hem putih, kini sedang ngetren dalam pemerintahan Jokowi-JK lho……

Ungkapan Bahasa Indonesia begitu kaya kaitannya dengan kosa kata “hitam”. Saat belajar di SR atau SD misalnya, Pak Guru sering memperkenalkan peribahasa yang berbunyi: hitam-hitam gula Jawa. Maksudnya adalah, biar penampilannya tidak menarik, tapi perilakunya bagus dan disenangi banyak orang. Sebab bagi kalangan ibu rumahtangga, biar hitam itu si gula Jawa, untuk bumbu masak tetap saja lezat.

Ketika orang rambut di kepalanya mulai beruban atau nyambel wijen, anak jaman now menyebutnya: telah meninggalkan dunia hitam. Sebaliknya bagi orang-orang yang berusaha menutupi keputihan –maaf bukan untuk kalangan wanita– di rambutnya, kini disebut “pakai ilmu hitam”. Maksudnya bukan pakai black magic, tapi mengecat rambut dengan Peacock atau Tancho. Dengan rambut hitam cet-cetan itu usianya seakan dikorting 10 tahun, karena penampilannya jadi tampak lebih muda.

Bagaimana dengan “jidat hitam” yang kini seakan menjadi mode? Pemahaman orang kebanyakan, itu pertanda kekhusyukan ibadah. Karena sering sujud dalam waktu lama, dahinyanya pun lama-lama menghitam. Ternyata itu salah kaprah! Sebab kalangan ulama sendiri membantah akan hal itu. Kata Habib Luthfi misalnya, sujud yang benar dinamakan min atsaris sujud, jadi bukan jidatnya yang hitam itu sebagai bekas sujud.

Paling enak memang bubur ketan hitam, biasa disebut bubur ketan item. Ini makanan mahasiswa sedang bokek, karena ATM-nya belum diisi orangtua. Untuk pengganjal perutnya yang mulai keroncongan, nongkronglah di warung bubur kacang ijo. Lalu pesan bubur campur, maksudnya pakai kacang ijo dan ketan hitam. Ditemani sepotong roti tawar, rasanya demikian nikmat. Ongkosnya juga tak membebani kantong, sebab semangkuk ketan hitam dan sepotong roti tak sampai Rp 10.000,-

Tak begitu jelas, apakah Jokowi saat kuliah di Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta dulu juga suka jajan bubur ketan item tersebut. Yang jelas, ketika menjadi Presiden RI sekarang ini, beliau gemar sekali mengenakan celana panjang hitam dan hem putih. Karena contoh dari presidennnya seperti itu, seluruh pegawai kementrian dan lembaga negara, sekarang juga mengenakan seragam serupa.

Yang sekarang sedang bikin heboh adalah buku hitam milik terdakwa Setya Novanto dalam kasus e-KTP. Ke mana-mana dia selalu menenteng buku hitam mirip buku agenda itu. Apakah gerangan isinya. Kalangan wartawan penasaran sekali. Jangan-jangan itu berisi daftar para penerima duit e-KTP senilai Rp 2,3 triliun tersebut. Dan ketika sempat terintip pers dan tercatat nama Ibas, kalangan wartawan mengasumsikan bahwa itu putra mantan Presiden SBY. Ketum Demokrat SBY pun tersinggung, dan melaporkan pengacara Firman Wijaya ke polisi.

Padahal kata “Ibas” di situ belum tentu maksudnya Edhie Baskoro putra Pak SBY. Bisa saja itu sebuah ratapan Setya Novanto, agar bisa terbebas dari jeratan hukum. Sebab sudah menggunakan berbagai cara, tertangkap KPK juga. Mungkin “ibas” bagi Setya Novanto mengandung makna: ingin bebas (i-bas). Sebab bila sampai dipenjara puluhan tahun, kasihan istrinya yang kimplah-kimplah cantik jelita itu. (Cantrik Metaram).

Advertisement