Bulan Berkah Penuh Rasuah

Ayam jago yang asli makan gabah. Musang berbulu ayam, makannya duit!

BAGI Indonesia kali ini, bulan Ramadan 1438 H justru menjadi bulan berkah yang penuh rasuah. Secara berturut-turut pejabat penyelenggara negaranya terkena OTT KPK. Diawali DPRD Jatim, ditengahi DPRD Mojokerto, diakhiri Gubernur Bengkulu. Para praktisinya ternyata tak lebih musang berbulu ayam. Penampilan keseharian mereka sebagai ayam-ayam yang santun, tapi begitu ada peluang jadilah mereka musang-musang yang rakus bin ora urus.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa di bulan Ramadan ini pintu surga dibuka seluas-luasnya, pintu neraka ditutup rapat dan setan-setan pun dibelenggu. Karenanya Ramadan diistilahkan sebagai bulan penuh berkah. Sebab selama sebulan penuh Allah Swit memberi peluang pada umat-Nya untuk menggapai surga, begitu banyak amalan yang membuahkan pahala. Sampai-sampai tidurnya shoimin dan shoimat dikategorikan sebagai ibadah.

Tapi rupanya, ada juga setan-setan yang bisa terlepas dari belenggu, sehingga di bulan Ramadan pun mereka masih berkeliaran menggoda umat. Apakah setan-setan itu ada yang bawa kunci duplikat atau kunci T, sehingga belenggu itu dengan mudah dibukanya? Dan mereka pun bebas menggoda iman pada penyelenggara negara, dari pejabat eksekutif sampai legislatif.

Seperti pernah disampaikan di kolom ini, di awal Ramadan Ketua Komisi B DPRD Jatim dan 2 Kepala Dinas Pemrov Jatim ditangkap KPK karena bersuap ria dalam pembahasan RUU Perda. Publik pun berharap, itu menjadi noda pertama dan terakhir di bulan Ramadan. Artinya, para praktisi korupsi yang baru mulai atau tengah menjalani, segera berhenti ketimbang terkena OTT pula.

Ternyata harapan itu sia-sia belaka. Sebab tak lama kemudian “pulung” korupsi bergeser ke arah barat daya, tepatnya merambah ke Pemkab Mojokerto. Ketua DPRD dan Wakilnya ditangkap KPK, termasuk juga Kepala Dinas PU & Tata Ruang. Mereka kloloden (tersedak) uang haram untuk kasus pengalihan anggaran. Kasihan juga sebetulnya, di bulan penuh berkah ini mereka malah terjebak urusan rasuah.

Berakhirkah rasuah di bulan penuh berkah ini? Ternyata tidak. “Pulung” korupsi melesat ke arah barat laut, melintas Selat Sunda dan mampir ke Provinsi Bengkulu. Bila yang di Pemprov Jatim dan Pemkab Mojokerto ini hanyalah pejabat kelas kacangan, di Bengkulu justru yang kena OTT gubernur Ridwan Mukti bersama istrinya. Padahal ditilik dari CV-nya, Pak Gub ini merupakan pejabat agamis, bahkan pernah dapat predikat pejabat berakhlak mulia.

Saat jadi Bupati Musirawas (Sumsel) Ridwan mukti berhasil bangun jalan sepanjang 3.000 Km. Tapi setelah menjadi gubernur, beliaunya berani membuat “diskresi” yang kelewat berani. Ternyata untuk proyek jalan Pak Gub minta fee pada kontraktor sebanyak 10 % dari nilai proyek. Dari sinilah awal muawal pejabat berakhlak mulia itu berbalik menjadi pejabat hina dina.

Walhasil bulan penuh berkah itu menjadi bulan penuh musibah. Para pejabat penyelenggara negara ternyata banyak yang komitmennya pada pemberantasan korupsi hanya di bibir belaka. Berantas korupsi, katanya. Tapi jika ada peluang, eh…. ikut-ikutan korupsi juga.

Korupsi itu kini seperti orang nyeplus lombok (makan cabe). Sudah tahu rasanya pedas, bibir dan lidah kepanasan, tapi masih nyeplus lagi. Korupsi memang nikmat bagi pelakunya, tapi pedes juga jika ketahuan (ketangkap). Namun demikian ketika melihat orang lain kepedasan (tertangkap) malah ikut-ikutan jadi praktisi korupsi pula. Dalam hatinya dia bilang, “Asal hati-hati takkan tertangkaplah.” (Cantrik Metaram)

 

 

 

 

 

Advertisement