Deretan karangan bunga memenuhi trotoar di sepanjang Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan. Tulisannya macam-macam; “Hapus intimidasi agama di negeri ini”; “Kami rakyat bersatu cinta NKRI& Pancasila”; dan “NKRI harga mati”.
Jumlah karangan buka itu bukan lagi terbilang puluhan atau ratusan, melainkan ribuan. Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan kepada media awal Mei lalui, jumlah karangan bungan yang diterima sudah lebih dari 1.000 papan. “Sudah 1.101, kami lihat banyak lagi yang datang,” ujar Setyo di kompleks Mabes Polri.
Bulan sebelumnya, halaman balai kota juga dibanjiri ribuan karangan bunga. Bahkan, jumlahnya lebih banyak lagi, yakni lebih dari 4000 papan karangan. Di dua tempat itu, bunga menjadi saluran komunikasi untuk mengungkapkan simpati dan dukungan, baik terhadap personal maupun sebuah instansi.
Masalah per-bunga-an, hanyalah salah satu dari keriuhan yang mewarnai Jakarta—jika tidak ingin disebut Indonesia—dalam 6 bulan belakangan. Sejak gelaran pilkada dimulai akhir tahun lalu, terutama Jakarta, kita seolah-olah mau perang. Satu kelompok mengeluarkan cercaan, kelompok lainnya mengeluarkan ancaman.
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH. Salahuddin Wahid, bahkan melihat ada gejala munculnya kembali konflik antara keindonesiaan dan keislaman dalam kaitan pilkada, khususnya di DKI Jakarta. Mengutip tulisannya yang dimuat salah satu media nasional, pria yang akrab disapa Gus Sholah ini mengatakan ada kelompok yang menganggap bahwa merekalah yang ”paling Islam” dan sebaliknya juga ada kelompok yang menganggap bahwa merekalah yang ”paling Indonesia”.
“Yang memilih Ahok-Djarot dianggap anti-Islam dan munafik, sedangkan yang memilih Anies-Sandi dianggap anti-Indonesia, intoleran, dan anti-kebinekaan. Kedua anggapan itu keliru,” tegasnya.
Menurut Gus Sholah, perbedaan adalah sesuatu yang lumrah sepanjang sejarah umat Islam. Dalam tafsir misalnya, ada dua aliran yang mengemuka, yang pertama tekstual (berpegang pada teks nash murni) dan yang rasional (mengoptimalkan potensi akal). Namun, dalam menyikapi perbedaan itu, kedua pihak selalu saling menghormati pilihan masing-masing. “Tidak perlu saling menyalahkan, saling menyerang, atau saling mengejek,” tambahnya.
Adik dari Presiden RI ke-4 ini khawatir, “konflik” ini akan berlanjut di pilkada tahun 2018 mendatang. Bahkan, jika konflik serupa kembali terjadi pada pemilihan presiden tahun 2019, hal itu berpotensi mengancam persatuan Indonesia.
Oleh karena itu, kata Gus Sholah, perlu ada upaya untuk meredamnya. Caranya, dengan mengintensifkan dialog antarkelompok, baik di dalam Islam maupun dengan pemeluk agama lainnya. “Dalam dialog itu perlu dibahas dengan rinci apa yang dimaksud dengan ”politisasi agama”, apa yang dimaksud dengan ”isu SARA” (suku, agama, ras, dan antargolongan). Dialog itu harus dilakukan dengan hati dan kepala dingin supaya dapat menghasilkan kesepakatan yang bisa diikuti dalam praksis sehari-hari. Memang perlu waktu yang cukup untuk bisa mendinginkan suasana,” jelasnya.
Sementara itu, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD dalam sebuah acara bincang-bincang di salah satu stasiun tv swasta mengatakan, sejatinya bangsa ini tidak pernah bermasalah dengan keberagaman, kebhinekaan, dan pluralistas. “Masalah bangsa ini hanya satu yaitu ketidakadilan. Tidak ada masalah dengan toleransi, perbedaan, rasis dan sebagainya. Hanya masalah keadilan sajalah yang diperjuangkan saat ini,” ujar Mahfud.
Momentum Lebaran
Lebaran adalah kesempatan terbaik untuk membangun dialog itu. Perayaan hari raya Idul Fitri merupakan momentum untuk memperkuat silaturahim dan persatuan bangsa yang diawali dari sikap saling menghargai dan saling menghormati.
Sebelum lebaran, Ramadhan juga telah menempa kita untuk saling asah-asih-asuh terhadap sesama. Dengan sikap itu, akan terbangun persaudaraan dan kebersamaan di antara umat Islam, bahkan sesama umat manusia.
Ramadhan yang penuh kemuliaan itu juga tidak hanya mendorong peningkatan kesalehan individual, melainkan juga kesalehan sosial. Ramadan mengajari kita semua untuk ikut merasakan penderitaan sesama.
Hal ini yang menjadi cikal bakal rekatnya persatuan di antara kita. Jika prinsip saling memiliki dan merasakan penderitaan sesama ini diterapkan secara luas, bakal membantu merekatkan persatuan dan kesatuan bangsa. Masyarakat akan berlomba-lomba melakukan kebaikan demi kebaikan bersama, bukan sekadar untuk mengeruk keuntungan pribadi. Karena sesungguhnya puasa merupakan ajaran yang berdimensi sosiologis dan kemanusiaan secara universal.




