Bulan Biru di Langit Jakarta

WARGA Jakarta dan kota-kota lainnya, Rabu (31/1) ini bisa menyaksikan fenomena alam langka ciptaan Tuhan berupa  gerhana bulan total (GBT) berbarengan dengan bulan super dan bulan biru ‘the super blood blue moon’.

GBT kali ini berbeda karena siklus tiga fenomena gerhana bulan terjadi secara bersamaan merupakan peristiwa amat langka, terakhir kali terjadi pada 31 Maret 1866 atau 152 tahun lalu

Zaid Wahyudi (Kompas, 30/1) menuturkan, perubahan warna bulan dari kuning terang menjadi semu kemerahan akan terjadi saat fase gerhana bulan baru berjalan sebagian, tepatnya pukul 18.48 WIB saat bulan memasuki area bayang-bayang inti bumi atau umbra.

Totalitas gerhana kali ini berlangsung selama 76 menit dari pukul 19.51 WIB (awal fase GBT) dimana piringan bulan secara perlahan berubah warna dari bagian bawahnya memerah sampai pukul 21.07 WIB (puncaknya pada pukul 20.29).

Warna merah saat GBT ditentukan oleh kondisi atmosfir bumi, misalnya debu akibat letusan gunung berapi bisa menyebabkan bulan berwarna gelap atau merah seperti warna darah saat terjadi gerhana.

Asal-usul istilah bulan biru atau ‘blue moon’  sendiri tidak jelas, karena nyatanya warna bulan tidak lah menjadi biru. Salah satu versinya menyebutkan, hal itu terjadi pada 1824 saat bulan purnama terjadi dua kali pada penanggalan.

Yang jelas, kemudian kosa kalimat:’ once in a blue moon’ di kalangan orang yang menggunakan bahasa Inggeris diartikan sebagai sesuatu yang amat jarang terjadi atau dilakukan.

Disebut bulan super karena tampak lebih besar antara 12 ampai 14 persen dan cahayanya lebih terang dari biasanya sebagai akibat posisinya yang berada pada jarak terdekat dengan bumi.

Istilah bulan super atau super moon pertama kali diperkenalkan oleh astrolog AS,

Richard Nole pada 1979 untuk menyebutkan bulan purnama saat posisi bulan berada di titik terdekat (perigee)  dari bumi.

Yang perlu diwaspadai, ketiga fenomena bulan yang muncul berbarengan bisa menyebabkan arus pasang laut akibat dekatnya posisi bulan dari bumi  yang masing-masing memiliki gravitasi sehingga saling tarik-menarik.

Saat bulan super muncul, jarak permukaan laut dengan pusat bulan lebih dekat ketimbang jarak antara pusat bumi dan pusat bulan, sehingga gravitasi bulan menarik air laut lebih kuat dari gravitasi bumi, dan terjadilah pasang.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengingatkan pada warga di sekitar wilayah pesisir untuk mewaspadai air pasang setinggi sampai 1,5 meter yang bisa menganggu aktivitas nelayan dan kegiatan bongkar muat di pelabuhan.

Sementara Kepala Lembaga Penerbangan dan Angkasa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaludin mengingatkan, bulan purnama berbarengan dengan gerhana bisa memicu pelepasan energi di batas pertemuan lempeng bumi sehingga mengakibatkan gempa seperti terjadi di Aceh pada 2004.

Di Indonesia sendiri, ada sebagian warga yang menganggap gerhana sebagai mythos, seperti akibat bulan dimakan raksasa dan di Jawa saat gerhana, anak-anak diminta bersembunyi di bawah ranjang, jika tidak bakal dimakan “lampor” (mahluk jahat-red).

Bagi umat Islam sendiri, dianjurkan untuk melakukan shalat sunat saat terjadi gerhana bulan mau pun matahari.

Warga ibukota bisa menyaksikan fenomena alam keagungan ciptaan Tuhan itu dari kawasan Monas termasuk dari puncaknya (berbayar), Planetarium TIM Jakpus, PP-IPtek TMII Jaktim, Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan Jaksel, Taman Fatahillah Jakbar, Taman Impian Ancol dan P. Seribu Jakut.

Mari kita manfaatkan untuk menjadi saksi sejarah peristiwa langka ini.

 

 

 

 

 

Advertisement