JAKARTA (KBK) – Langkah kaki Sugiman terhenti ketika seorang mahasiswa menghampiri dirinya, satu buah eksemplar koran yang ia bawa segera berpindah tangan dan lembaran rupiah beruba uang receh pun ia terima. Kendati wajahnya dipenuhi peluh akibat habis keliling berjualan koran namun kakek berusia 75 tahun itu tetap memancarkan senyum di tengah kerasnya belantara Jakarta.
Ialah Sugiman kakek berperawakan kurus yang semangatnya masih menyala di usianya yang telah lanjut. Sebelum matahari menampakan dirinya di ufuk timur, Sugiman sudah lebih dulu terbangun. Kulitnya yang mengeriput harus beradu dengan angin pagi Jakarta, dengan sigap kakek dua cucu itu langsung menjemput koran dagangannya di bilangan Kebon Singkong, Jakarta Timur. Rutinitas itu lalu ia lanjutkan dengan berjalan kaki, keliling berjualan koran di seputaran daerah Rawamangun.
“Saya setiap hari berjualan jalan kaki saja. Mulai dari Cipinang, Rawamangun, RS Persahabatan, Jalan Pemuda dan jam dua siang saya masuk ke UNJ jualannya,” ucap Sugiman kepada KBK, rabu sore (30/11).
Koran yang dibawanya pun tak tanggung-tanggung, setiap kali jalan Sugiman mampu membawa hingga 100 eksemplar koran yang beratnya dapat mencapai 30 Kilogram. Di usianya yang tak lagi muda, bobot tersebut tentu sangat membebani Sugiman. Namun berkat dorongan dan doa sang istri di rumah, semuanya terasa menjadi lebih ringan. Sugiman mengaku saat ini Warsinah istrinya tengah sakit, ia tak bisa berjalan sehabis terpeleset.
Sedangkan kedua anak Sugiman kini telah berkeluarga dan tinggal berjauhan dengan Sugiman. Praktis, kini setiap hari Sugiman mesti menafkahi istrinya seorang diri. Jika hujan turun, Sugiman terpaksa tak berjualan karena koran yang dibawanya rentan rusak.
“Kalau hujan saya tidak dapat uang, paling saya bongkar celengan untuk makan. Terkadang anak saya juga ngirimin uang kalau lagi hujan terus,” ujar Sugiman yang berjualan koran sejak tahun 1997 itu.
Setiap hari penghasilan Sugiman tak menentu, jika korannya habis terjual Sugiman mampu mendapatkan Rp 350 ribu dan setelah dipotong untuk setoran ia hanya bisa membawa pulang Rp 150 ribu.

Jauh sebelum berjualan koran, Sugiman merupakan seorang penggebala sapi. Setiap kali panen Sugiman mengawal sapi-sapi tersebut dari kampung halamannya di Madiun, Jawa Timur ke Jakarta untuk kebutuhan rumah potong hewan dan setelah tahun 1962 Sugiman alih profesi sebagai buruh batu di Jakarta hingga orde baru tumbang dan ia pindah haluan lagi dengan menjajakan koran hingga kini. Menurut Sugiman kendati zaman telah sarat teknologi namun peminat koran tidak menurun.
“Kalau berjualan di Jakarta itu mesti sabar, laku tidak laku kita harus sabar. Dari kesabaran itu pasti ada hasilnya. Saya sekarang sudah memiliki 10 pelanggan tetap,” jelas kakek yang tinggal di daerah Cipinang Jagal, Jakarta Timur itu.





