Bumi Makin Panas

Tahun 2023 tercatat tahun kenaikan suhu tertinggi dengan kenaikan rata-rata global 1,45 derajat clelsius di atas suhu era dasar pra-industri 1850.

LAPORAN Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebutkan, rekor pemanasan global dipecahkan akibat kenaikan level gas rumah kaca, suhu dan permukaan laut, lapisan es Antartika dan penyusutan gletser sepanjang 2023.

Laporan berjudul “State of the Global Cimate 2023” tersebut akan dijadikan landasan untuk kampanye aksi iklim baru oleh Program Pembangunan PBB dan WMO pada pertemuan level menteri di Kopenhagen, Denmark, 21- 21 Maret.

Sejumlah mitra dan pakar lingkungan hidup dan perubahan iklim akan berkontribusi dalam pembuatan laporan termasuk PBB, Layanan Meteorologi dan Hidrologi Nasional (NMHS), Pusat Data Analisis Global sera Pusat Iklim Regional, Program Penelirian Iklim Dunia serta Global Atmospheric Watch.

Ringkasan laporan juga menyebutkan, 2023 adalah tahun terpanas yang pernah tercatat dengan rata-rata suhu global di dekat permukaan saat ini 1,45 derajat celsius di atas suhu dasar pra-industri 1850.

“Kita belum pernah berada pada tingkat suhu sedekat ini, walau hanya sementara, di ambang batas 1,5 derajat celsius sesuai Kesepakatan Paris mengenai perubahan iklim sehingga komunitas (WMO) menyerukan alarm bahaya pada dunia, “ kata Sekjen WMO Celeste Saulo.

Perhatian khusus, menurut Saulo, harus diberikan mengingat perubahan iklim lebih dari sekedar persoalan kenaikan suhu udara terutama  level pemanasan laut yang belum pernah terjadi, penyusutan gletser dan hilangnya lapisan es di Antartika.

“Laporan ini adalah alarm yang sudah berbunyi keras, dan perubahan iklim berjalan mkin cepat, “ kata Sekjen PBB Antonio Guterres.

Laporan juga mengungkapkan hilangnya lapisan es terbesar yang pernah tercatat sejak 1950 disebabkan oleh pencairan ekstrim di Amerika Utara bagian barat dan Eropa.

Luas lapisan es laut Antarika juga dilaporkan terendah dari yang pernah tercatat atau maksimum satu juta Km persegi pada musim dingin atau di abwah rekor sebelumnya

Walau bukan penyebab utama, laporan WMO juga menyoroti peningkatan dua kali lipat jumlah orang yang mengalami rawan pangan akut di seluruh dunia akibat cuaca dan iklim ekstrim yang ikut memperburuk situasi.

Mengacu pada data Program Pangan Dunia (WFP) terdapat 149 juta orang di 78 negara mengalami rawan pangan sebelum pandemi Covid-19. Jumlah itu meningkat menjadi 333 juta orang pada 2023.

Pemanasan global adalah persoalan seluruh umat manusia, yang harus ditangani bersama. (Kompas/ns)

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here