Iran Ubah Strategi Hadapi AS

Iran sedang menyiapkan strategi baru melawan AS tak hanya mengandalkan rudal-rudal balistik saja tetapi opsi sumberdaya dan potensi yang dimiliki lainnya (foto: stok ist)

JAKARTA – (KBKNEWS) – 10/7 – IRAN dilaporkan tengah mengubah strategi dalam menghadapi Amerika Serikat (AS) setelah konflik bersenjata terbaru yang pecah pekan ini.

Tak lagi mengandalkan sepenuhnya pada kekuatan rudal semata, Teheran lebih fokus memanfaatkan posisi geografisnya untuk menekan kepentingan ekonomi Washington dan sekutunya, terutama melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi minyak dunia.

Menurut laporan The Telegraph, Kamis (9/7), para pemimpin Iran menyimpulkan bahwa kekuatan terbesar negara itu bukan hanya persenjataan, melainkan letaknya yang menguasai jalur pelayaran energi paling vital di dunia.

Sebelumnya, AS dilaporkan melancarkan serangan terhadap 90 sasaran di Iran yang menewaskan lebih dari selusin orang.

Sebagai balasan, Iran menembakkan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain, yang disebut sebagai “fase pertama respons hukuman terhadap pelanggaran Amerika”.

Setelah menghadapi dua gelombang serangan AS dan Israel, Teheran disebut tengah menyusun rencana untuk mengganggu dua jalur pelayaran strategis dunia, yakni Selat Hormuz dan Selat Bab El-Mandeb, yang menjadi jalur utama distribusi minyak dan perdagangan global.

Perubahan strategi itu disebut semakin menguat setelah muncul dugaan kebocoran intelijen AS yang mengindikasikan bahwa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab diam-diam ikut membantu serangan terhadap Iran pada awal tahun ini.

Teheran kini memandang kedua negara tersebut bukan lagi sebagai pihak netral, melainkan target yang sah apabila konflik meluas.

Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, juga mengingatkan, bahwa setiap tindakan atau salah perhitungan baru AS akan dibalas dengan respons yang tegas, merusak dan menyakitkan.

Ia menambahkan bahwa jika keamanan Iran terganggu, Teheran akan merampas keamanan musuh-musuhnya di mana pun mereka berada.

Empat langkah
Empat langkah yang disiapkan Iran Kantor berita Fars, media yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran, menguraikan empat langkah utama apabila terjadi eskalasi konflik.

1. Menutup Selat Hormuz, jalur minyak dunia sebagai langkah pertama, menyerang kapal tanker, hingga fasilitas produksi dan kilang minyak negara-negara tetangga sehingga membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dipulihkan dan memasangi ranjau laut.

Strategi ini dinilai menjadi alat tekan paling kuat bagi Iran karena penutupan Selat Hormuz berpotensi mengganggu pasokan energi global dan meningkatkan tekanan ekonomi terhadap negara-negara Barat.

Laporan Bloomberg yang dikutip The Telegraph bahkan menyebut bahwa hanya terdapat satu kapal tanker yang melintasi jalur tersebut, sementara jalur di dekat pantai Oman tidak terdeteksi adanya lalu lintas kapal berdasarkan pelacak pelayaran.

2. Membuka tekanan di Laut Merah Langkah kedua adalah memperluas tekanan ke Selat Bab El-Mandeb, jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Iran akan mendominasi kawasan tersebut guna memutus jalur logistik dan pembiayaan musuh serta menghambat pengiriman senjata ke kawasan.

Berbeda dengan Selat Hormuz yang berada di wilayah Iran, tekanan di Bab el-Mandeb diperkirakan dilakukan melalui kelompok Houthi di Yaman yang selama ini menjadi sekutu Teheran.

Apabila kedua selat tersebut terganggu secara bersamaan, Iran akan memiliki pengaruh besar terhadap dua jalur perdagangan utama yang menghubungkan Timur Tengah, Asia, dan Eropa.

3. Meningkatkan biaya perang bagi AS Strategi ketiga adalah meningkatkan biaya manusia dan ekonomi yang harus ditanggung AS. Iran akan mendorong penggunaan serangan asimetris untuk menimbulkan korban besar di pihak militer AS sehingga biaya melanjutkan perang menjadi lebih besar dibandingkan menghentikannya.

Iran menyadari tidak mampu mengalahkan AS secara militer, sehingga fokusnya adalah membuat setiap putaran konflik menjadi semakin mahal bagi Washington.

Serangan rudal dan drone terhadap pangkalan AS di Bahrain dan Kuwait disebut sebagai langkah awal dari strategi tersebut.

4. Mengubah aturan permainan Langkah keempat adalah menerapkan konsep “ambiguitas strategis”.

Perluas pilihan respons
Analis militer Iran yang disiarkan Fars menyatakan bahwa karena pihak lawan telah melampaui garis merah , Teheran juga perlu memperluas pilihan responsnya sehingga lawan tidak lagi mampu memperkirakan apa yang akan dilakukan Iran.

Dengan kata lain, Iran ingin menciptakan ketidakpastian mengenai bentuk maupun tingkat respons yang akan diambil jika kembali diserang.

Persenjataan dan kesiapan militer terus diperkuat Di balik strategi tersebut, Iran disebut masih memiliki kekuatan militer yang besar meski mengalami kerusakan akibat perang.

Iran sejauh ini masih mengoperasikan salah satu kekuatan rudal balistik terbesar di Timur Tengah, termasuk rudal berbahan bakar padat Kheibar Shekan dan rudal hipersonik Fattah, serta armada drone Shahed.

Sistem pertahanan udara Iran juga diklaim terus dibangun kembali menggunakan sistem lokal Bavar-37, sistem S-300 buatan Rusia yang masih tersisa, serta jaringan radar peringatan dini di sepanjang pesisir.

Seorang pejabat Iran yang dikutip The Telegraph mengatakan, persiapan perang justru semakin ditingkatkan sejak gencatan senjata, termasuk pembangunan rudal, drone, program pertahanan, serta pemulihan jaringan pertahanan udara.

Pejabat lain menyebut strategi penyebaran aset militer, seperti memencar situs-situs rudal, mengosongkan pangkalan, dan menyiapkan beberapa penerus bagi setiap komandan, agar serangan yang menargetkan pucuk pimpinan militer tidak lagi memberikan dampak sebesar pada awal perang. (The Telegraph/kompas.com/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here