
SEJUMLAH nama calon wakil presiden (cawapres) harus bersaing keras memperebutkan tempat untuk mendampingi calon presiden (capres) yang sudah diusung oleh PDI-P dan dua koalisi parpol sebelumnya.
Ada nama Menparekraf Sandiaga Uno, KetumĀ Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Mankopolhukam Mahfud MD, Menteri BUMN Erick Thohir serta Menko Ekonomi dan juga Ketum Golkar Airlangga Hartarto, Gubernur Jabar Ridwan Kamil, Gubernur Jatim Kofifah Indar Parawansa dan beberapa nama lainnya.
Diantara nama-nama tersebut baru Sandiaga yang resmi dipinang oleh PPP selang setelah tiga hari ia secara resmi bergabung dengan partai berlambang Kaaābah itu (17/6), namun Sandiaga baru akan ditawarkan ke PDI-P untuk mendampingi Ganjar.
Untuk capres sendiri, Koalisi Persatuan untuk Perubahan (KPP) terdiri dari Partai Nasdem, Demokrat dan Partai Keadilan Sjahtera (PKS) sudah menetapkan Anies Baswedan, PDI-P menjatuhkan pilihan pada kadernya, GUbernur JatengĀ Ganjar Pranowo,
Sementara Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (Partai Gerindra dan Partai Kebangkitan Bangsa atau PKB) mengajukan Menhan Prabowo Subianto, sedangkan Koalisi Indonesia Baru (Partai Golkar, PAN dan PPP) belum menentukan capres karena Airlangga baru dicalonkan oleh Partai Golkar, belum oleh dua parpol koalisi lainnya.
Posisi cawapres dianggap sangat strategis bagi parpol atau koalisi parpol kontestan Pemilu Serentak 2024 untuk mendampingi capres, menambal kelemahannya dan juga menciptpakan āefek ekor jasā untuk mendongkrak suara di Pemilu Legislatif.
Misalnya sosok gaul untuk menggaet pemilih pemula kaum milenial atau generasi Z (17 sampai 39 tahun) yang merupakan 60 persen jumlah warga yang memiliki hak pilih atau sosok idola kaum perempuan dan emak-emak yang menempati lebih separuh pemilih terdaftar, atau mengingat besarnya dana kampanye, diperlukan pula figur cawapres yang bermodal besar.
Walau seluruh politisi dalam ketiga koalisi (KPP, KIB dan KKIR) sesumbar bahwa koalisi yang mereka bangun masih solid, nyatanya tokoh-tokohnya masih bergerilya untuk menempatkan kader-kadernya atau tokoh eksternal sebagai cawapres.
Sebaliknya, PDI-P yang berada di atas angin karena satu-satunnya parpol yang berada di atas ambang batas pencalonan, tinggal menentukan pilihannya dari nama-nama yang muncul setelah waktu pendaftaran mendekat (19 Okt. ā 25 November).
Ketua PDI-P Puan Maharani yang menyebut nama AHY masuk dalam radar partainya sebagai salah satu dari sepuluh cawapres (6/6), bak gayung bersambut diapresiasi AHY dan berlanjut pada pertemuan olah raga pagi di kawasan GBK, Senayan, Jakpus, Minggu (18/6).
Pernyataan Puan itu dinilai sejumlah pengamat hanya sebagai gimmick-gimmick politik tak bermakna atau test the water, atau sekedar menurunkan tensi hubungan PDI-P dan Demokrat yang dingin selama ini walau pun itu dibantah.
AHY sendiri walau tampak di berbagai kesempatan dekat dengan Anies, belum ditetapkan sebagai cawapres pendampingnya, sehingga elite Partai Demokrat meradang, dan mengancam akan mengevaluasi kemitraan mereka dalam Koalisi KPP.
Elite PDI-P kemungkinan juga akan bertemu dengan Sandiaga yang dicalonkan PPP sebaga cawapres untuk ditawarkan sebagai pengganti Ganjar, tentu jika Ketua Umum PDI-P berkenan, juga adanya restu Presiden Jokowi.
Prabowo juga bertemu lagi dengan Presiden Jokowi di Istana Bogor, Minggu 18 Juni namun tidak disebutkan apa yang dibicarakan mereka, walau ada yang menduga-duga kemungkinan duet Probowo dan dan Ganjar, entah siapa yang bakal jadi capres atau cawapres.
Sejauh ini di tataran publik, Jokowi dinilai berdiri di atas dua kaki, mendukung siapa saja diantara keduanya yang akan melanjutkan program-programnya termasuk pemindahan IKN dan kebijakan-kebijakan strategis Ā lainnya.
Sebelum ājanur kuning melengkungā dipasang semua serba dinamis dan bisa berubah, Ā begitu pula tentang pasangan nama capres dan capres pada Pilres 2024 nanti.
Yang penting, rakyat mendambakan pemimpin yang amanah, jujur dan berani membasmi korupsi yang telah merasuk ke segenap sendi-sendi bangsa dan membenahi berbagai anomali, penyimpangan akibat pembiaran panjang selama ini.



