CIREBON-Ruang Terbuka Hijau (RTH) di sejumlah wilayah Kabupaten Cirebon sangat minim.
Selain itu, alih fungsi lahan juga banyak dilakukan sehingga berdampak pada berkurangnya serapan air. Dampak lainnya, serapan air bawah laut menjadi meresap jauh ke lokasi bibir laut.
Kepala Badan Lingkungan Hidup daerah (BLHD) Kabupaten Cirebon, H Surkiyah membenarkan hal ini. Ia mengakui, di wilayahnya sekarang ini banyak dilakukan alih fungsi lahan, namun untuk ruang terbuka hijau masih sangat minim sehingga membuat berkurangnya serapan air.
“Akhirnya serapan air laut dari bawah hingga mendekati wilayah yang jaraknya jauh dengan laut,” ujar Surkiyah, seperti diberitakan Kabar Cirebon, Sabtu (21/5)
Kenyataan itu dibuktikan dari temuan-temuan pihaknya yang mendapati air sumur di beberapa wlayah di Kabupaten Cirebon rasanya asin, meski jaraknya jauh dari laut. Padahal sebelumnya di beberapa wilayah tersebut airnya tawar. Fenomena adanya sumur tersebut di antaranya wilayah Kecamatan Plumbon.
“Hal inibisa saja terjadi, sebab di sekitar pesisir pantai dan juga daratan minim penghijauan karena anyaknya lahan kosong, beralih menjadi perumahan. Kan banyak pohon yang ditebang, untuk pembangunan. Hal ini bisa menyebabkan minimnya penyerapan,” kata Surkiyah.
Maka dari itu, kata Surkiyah, perlu adanya penyeimbangan antara pembangunan dan penyediaan ruang hijau. Bukan saja dilakukan oleh pemerintah daerah, namun kesadaran masyarakat juga menjadi hal penting untuk mewujudkan hal itu. Oleh karenanya, selama ini pihaknya tidak henti-henti untuk mengajak masyarakat melakukan penanaman pohon di lingkungan atau pekarangan rumah masing-masing.
“Kalau sudah tidak ada serapan, maka akan memengaruhi kualitas air. Jika sudah begini kan tak ada serapan, sehingga masyarakat juga yang dirugikan,” ujar Surkiyah.
Hal ini juga disampaikan salah satu aktivis lingkungan Kabupaten Cirebon, Yoyon. Menurutnya, di Kecamatan Kedawung yang menjadi tempat tinggalnya pun terjadi hal yang sama. Yakni, sumur-sumur milik masyarakat di wilayahnya terasa asin, padahal sebelumnya sumur-sumur tersebut tawar.
“Hal serupa juga ditemui di Kecamatan Kedawung, bahkan sejak sepuluh tahun lalu. Bukan di mana-mana, tapi di rumah saya juga yakni di kawasan Tuparev airnya terasa asin,” kata Yoyon.




