
ENDEMI penyakit cacar yang sudah menyebar di 76 negara saat ini ditetapkan sebagai Darurat Kesehatan Internasional oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) ternyata bukan monopoli monyet, karena bisa ditularkan oleh satwa lainnya.
Untuk itu, WHO sedang mencari nama baru untuk penyakit cacar monyet (monkeypox), mengingat penyakit yang menularkan dari hewan ke manusia (zoonosist) itu juga berasal dari hewan mengerat seperti tikus, cerpelai dan lainnya.
Penamaan cacar monyet semula didasarkan didasarkan pada identifikasi kasus pertama yang ditemukan pada monyet peliharaan yang digunakan untuk penelitian di Denmark pada 1958 dan pertama kali terdeteksi penularannya pada manusia di Republik Kongo, 1970.
Para ahli memperingatkan bahwa nama tersebut dapat menstigmatisasi primata yang memainkan sedikit peran dalam penyebarannya dan ke benua Afrika yang sering dikaitkan dengan satwa monyet.
WHO agaknya cukup berhati-hati memberikan label pada penyakit yang pandemik atau endemik, seperti Covid-19 yang semula disebut Covid Wuhan, kota yang diduga asal-muasalnya guna menghindari stigmatisasi. Angka-19 menandai tahun penyebarannya menjadi pandemi.
Sebelumnya, masyarakat dunia masih menggunakan asal-muasal untuk memberikan label pada penyakit, misalnya Flu Spanyol yang merebak di negeri itu dan daratan Eropa pada 1918, memapar sekitar 500 juta dan menewaskan 50 juta penduduk dunia.
Di Brasil, dilaporkan kasus orang menyerang monyet karena ketakutan berlebihan akan penyakit ini. “Penamaan cacar monyet pada manusia dilakukan sebelum penamaan penyakit dengan bijaksana dirumuskan,” kata juru bicara WHO Fadela Chaib kepada wartawan di Jenewa (16/8).
Faktanya kemudian cacar monyet ternyata juga ditemukan pada sejumlah hewan, dan paling sering justru pada hewan pengerat.
Penyebaran di antara manusia sejak itu terutama terbatas pada negara-negara Afrika Barat dan Tengah, tertentu di mana penyakit cacar berkembang menjadi endemik.
Namun pada Mei lalu, kasus penyakit yang menyebabkan demam, nyeri otot dan lesi kulit seperti bisul besar ini, mulai menyebar dengan cepat ke seluruh dunia, kebanyakan di antara pria yang berhubungan seks dengan sesama jenis.
31.000 Kasus
Di seluruh dunia, lebih dari 31.000 kasus telah dikonfirmasi sejak awal tahun ini, dan 12 orang telah meninggal, menurut WHO. Badan kesehatan PBB itu pun telah menetapkan wabah itu sebagai darurat kesehatan global.
Sejauh ini di Indonesia baru ditemukan satu kasus yang menimpa seorang anak di Pati, Jateng dengan status suspect dan kondisi ruam akut (papula, vesikel atau pustula) pada awal Agustsus.
Gejalanya antara lain pusing, demam akut da atas 38,5 derajat Celcius, pembesaran kelenjar getah bening, nyeri otot, sakit punggung dan badan terasa lemah (Asthenia).
Jaringan Kesehatan Dunia (WHN) merekomendasikan sembilan langkah yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi dan mencegah penyebaran cacar monyet.
Butir-butir rekomendasi WHN a.l. menetapkan identifikasi kasus secara luas dengan pelacakan kontak erat secara komprehensif, layanan pengujian gratis, isolasi dan rawatan medis bagi yang terinfeksi.
Selain menyebar di AS dan Amerika Latin dan daratan Eropa, cacar monyet juga sudah merambah negara tetangga seperti Singapura, Thailand dan Vietnam.
Waspada! Dan terus lakukan aksi mitigasi, jangan sampai kecolongan!




