
CACAR monyet (monkeypox) yang diketahui sudah menyebar di Inggeris Raya Mei lalu dan 75 negara sejauh ini belum terdeteksi di Indonesia, walau aksi mitigasi dan preventif perlu dilakukan segera.
“Alhamdulillah, sejak terdeteksi pertama kali di Inggeris, di Indonesia belum terkonfirmasi adanya suspek atau probable cacar monyet, “ kata Jubir Kemenkes, Syahril (27/7).
Data sembilan kasus yang sebelumnya berstatus suspek, menurut Syahril, sudah dikeluarkan dari pengelompokan kasus cacar monyet setelah dilakukan pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS), dinyatakan negatif cacar monyet.
Dengan status nol kasus cacar monyet yang disandangnya, Indonesia sejauh ini masuk dalam klasifikasi pertama negara yang belum melapor adanya infeksi virus berasal dari kera, tupai dan tikus itu.
Jaringan Kesehatan Dunia (WHN) merekomendasikan sembilan langkah yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi dan mencegah penyebaran cacar monyet.
Butir-butir rekomendasi WHN a.l. menetapkan identikasi kasus secara luas dengan pelacakan kontak erat secara komprehensif, layanan pengujian gratis, isolasi dan rawatan medis bagi yang terinfeksi.
Menyediakan panduan terkini, SDM untuk identifikasi kasus dan isolasi, literasi kesadaran publik untuk mengikuti tes, edukasi layanan kesehatan dan penanganan gejala, alokasi dana untuk kegiatan tes, pencegahan dan pengobatan, vaksinasi dan penggunaan darurat vaksin cacar monyet.
WHO mencatat (sampai 27/7), cacar monyet sudah menyebar di 75 negara sebanyak 17.156 kasus, sedangkan di Indonesia, setelah dilakukan pengurutan genom menyeluruh (Whole Sequence Genomcing – WSG) hasilnya negatif atau belum ditemukan.
Dari Hewan ke Manusia
Cacar monyet, menurut Syahril, yang awal penularannya dari hewan ke hewan, sekarang sudah terdeteksi dari hewan ke manusia (zoonosis) atau dari manusia ke manusia.
Transmisi virus dari hewan bisa dengan kontak langsung melalui darah atau cairan tubuh tupai atau monyet, juga dari lesi kulit atau mukosa hewan dan juga mengonsumsi daging hewan terinfeksi.
Gejalanya a.l. demam tinggi, sakit kepala hebat, pembengkakan kelenjar getah bening di leher, ketiak atau selangkangan, nyeri otot, lemas dan muncul ruam-ruam di kulit di wajah, tangan, selaput lendir mata dan bagian tubuh lainnya.
Cacar monyet bisa sembuh sendiri, terjangit selama adua sampai empat pekan, namun perlu diperhatikan, kelompok risiko rentan yakni anak-anak, dewasa usia 40 – 50 tahun dan pengidap immuno-compromised (gangguan kekebalan tubuh).
Risiko penularan bisa terjadi dari ibu yang memberikan asi pada bayinya atau ibu hamil ke janin lewat plasenta, namun belum ditemukan penularan akibat hubungan seksual.
Yang menjadi masalah, seperti diakui Menes Budi Gunadi Sadikin, pemeriksaan cacar monyet sejauh ini baru dilakukan terpusat di Jakarta.
Untuk itu Kemenkes sudah menyiapkan 1.500 reagen untuk tes cacar monyet yang akan segera dikirim ke balai-balai besar laboratorium kesehatan di daerah, selain menyiapkan 1.000 obat cacar monyet.
Kasus pertama kali penularan dari monyet ke manusia ditemukan di Kongo, Afrika Selatan , 1970. Gejalanya mirip penyakit cacar (smallpox) seperti demam, pusing, ruam merah di telapak tangan dan kaki serta pembengkakan pada kelenjar getah bening di ketiak.
Silang Pendapat
Para pakar WHO sendiri terbelah dua terkait pro-kontra status cacar monyet, yang sebagian menganggap sudah menjadi wabah dunia, namun sebagian lagi belum, sedangkan Ghebreyeus menetapkannya sebagai wabah agar dunia bersiaga.
Di Afrika, pola penyebarannya terjadi melalui kontak antara manusia dan hewan pengerat liar seperti bajing atau tikus, namun sejauh ini penyakit tersebut belum pernah ”menyeberang” ke benua lain.
Namun kini, ada pola penyebaran baru yang masih didalami oleh para pakar kesehatan mengingat orang-orang yang terpapar saat ini tidak pernah bepergian ke Afrika atau bersentuhan dengan hewan pengerat liar penyebabnya.
Yang menggembirakan, saat ini sudah ada vaksin produksi perusahaan farmasi Bavarian Nordic di Denmark, sementara Uni Eropa mengajukan pada WHO penggunaan vaksin cacar air Invamex untuk melawan cacar monyet.
Tndakan mitigasi dan pencegahan harus dilakukan, jangan sampai kecolongan!




