JAKARTA, KBKNews.id – Indonesia tengah menghadapi tantangan besar dalam era penuaan penduduk, di mana jumlah lansia terus meningkat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2024, lansia di Indonesia mencapai sekitar 12% dari total populasi, dan diproyeksikan bahwa pada tahun 2045, jumlah lansia akan mencapai 20,31% dari total populasi, atau sekitar 65,82 juta jiwa.
Tren ini menunjukkan bahwa Indonesia telah memasuki fase “ageing population“, di mana proporsi penduduk lansia terus meningkat seiring dengan naiknya angka harapan hidup.
Prioritas Kesehatan Lansia
Kondisi ini menuntut perhatian khusus terhadap kesejahteraan lansia, termasuk peran keluarga sebagai caregiver utama. Mayoritas lansia di Indonesia dirawat oleh anggota keluarga mereka sendiri. Berdasarkan data dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, sekitar 80,8% caregiver lansia adalah anggota keluarga terdekat, seperti anak, cucu, atau keponakan. Selain itu, data dari SILANI Bappenas tahun 2020 menunjukkan bahwa 79% pengasuh lansia di Indonesia adalah anggota keluarga.
Pendekatan berbasis keluarga ini menjadi sangat penting, terutama karena banyak lansia yang lebih memilih tinggal bersama keluarga mereka dibandingkan di fasilitas perawatan. Namun, hal ini juga menuntut dukungan yang lebih besar, seperti pelatihan dan sumber daya, untuk memastikan keluarga dapat memberikan perawatan yang optimal. Merawat orang tua dapat menjadi tantangan yang kompleks bagi keluarga.
Berikut adalah beberapa masalah umum yang sering terjadi:
- Tekanan Emosional dan Stres: Merawat orang tua yang lanjut usia, terutama jika mereka memiliki kondisi kesehatan yang serius, dapat menyebabkan stres emosional bagi anggota keluarga. Perasaan cemas, lelah, dan bahkan frustrasi sering kali muncul.
- Konflik Antar Anggota Keluarga: Terkadang, tanggung jawab merawat orang tua tidak terbagi secara merata, yang dapat memicu konflik antar saudara. Perbedaan pendapat tentang cara terbaik merawat orang tua juga dapat menjadi sumber ketegangan.
- Keterbatasan Waktu dan Energi: Banyak anggota keluarga yang harus menyeimbangkan pekerjaan, kehidupan pribadi, dan tanggung jawab sebagai caregiver. Hal ini dapat menyebabkan kelelahan fisik dan mental.
- Masalah Keuangan: Biaya perawatan orang tua, termasuk kebutuhan medis, sering kali menjadi beban finansial bagi keluarga. Tidak semua keluarga memiliki sumber daya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan ini.
- Kurangnya Pengetahuan dan Keterampilan: Tidak semua anggota keluarga memiliki pengetahuan atau keterampilan yang diperlukan untuk merawat orang tua dengan baik, terutama jika mereka membutuhkan perawatan khusus.
- Perubahan Gaya Hidup: Dalam masyarakat modern, banyak anak yang tinggal jauh dari orang tua mereka karena pekerjaan atau alasan lainnya. Jarak fisik ini dapat membuat perawatan langsung menjadi sulit.
Peran Vital Keluarga
Keluarga memiliki peran sentral dalam mendukung lansia, baik secara fisik, emosional, maupun sosial. Studi menunjukkan bahwa dukungan emosional dari caregiver keluarga dapat meningkatkan kualitas hidup lansia. Namun, menjadi caregiver bukanlah tugas yang mudah. Keluarga sering kali menghadapi tantangan seperti kurangnya pengetahuan tentang perawatan lansia, stres, dan beban emosional. Oleh karena itu, pemberdayaan keluarga menjadi kunci untuk memastikan lansia mendapatkan perawatan yang optimal.
Lansia di Indonesia menghadapi berbagai masalah kesehatan, termasuk hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung. Riskesdas 2018 mencatat prevalensi hipertensi pada lansia mencapai 69,5%, sementara diabetes melitus sebesar 6,29%. Sementara itu, prevalensi Alzheimer di Indonesia terus meningkat.
Berdasarkan data dari Alzheimer Indonesia, pada tahun 2016 terdapat sekitar 1,2 juta orang yang hidup dengan demensia, termasuk Alzheimer. Angka ini diperkirakan akan meningkat menjadi 2 juta orang pada tahun 2030 dan mencapai 4 juta orang pada tahun 2050.
Selain itu, pada lansia juga terjadi penurunan fungsi sensorik antara lain :
- Gangguan Penglihatan:
- Katarak: Salah satu gangguan penglihatan paling umum pada lansia. Prevalensi katarak di Indonesia mencapai sekitar 80% pada lansia usia 60 tahun ke atas.
- Degenerasi Retina: Penyebab utama kebutaan pada lansia di negara maju, dengan prevalensi global sekitar 8,7% pada lansia.
- Gangguan Pendengaran:
- Presbikusis: Menurunnya kemampuan mendengar suara frekuensi tinggi. Prevalensinya mencapai 30-50% pada lansia usia 65 tahun ke atas.
- Gangguan Penciuman dan Perasa:
- Penurunan kemampuan mencium dan merasakan makanan dapat memengaruhi nafsu makan dan nutrisi. Prevalensinya diperkirakan sekitar 25% pada lansia usia 70 tahun ke atas.
- Gangguan Keseimbangan:
- Gangguan keseimbangan yang disebabkan menurunnya fungsi vestibular yang meningkatkan risiko jatuh pada lansia. Prevalensinya mencapai 35% pada lansia usia 65 tahun ke atas.
Kondisi ini menunjukkan pentingnya perawatan yang terintegrasi dan berkelanjutan untuk lansia, yang dapat dilakukan dengan dukungan keluarga sebagai caregiver. Untuk menjadi caregiver yang baik memerlukan berbagai keterampilan dan pengetahuan, diantaranya :
- Komunikasi: Caregiver harus mampu berkomunikasi dengan jelas, baik secara verbal maupun nonverbal, untuk memahami kebutuhan lansia dan membangun hubungan yang baik. Seringkali lansia tidak menyampaikan secara eksplisit kemauannya, mereka berharap orang lain paham apa yang mereka maksudkan.
- Psikologi: Merawat lansia sering kali menghadapi tantangan emosional. Kesabaran dan empati sangat penting untuk memberikan perawatan yang manusiawi.
- Pengetahuan Dasar Medis: Memahami cara memberikan obat, menangani luka ringan, dan melakukan tindakan darurat jika diperlukan sangat membantu dalam perawatan lansia. Mereka juga harus paham tanda dan gejala penyakit yang sering terjadi pada lansia, diharapkan dengan pengenalan gejala dini, dapat mencegah perburukan kondisi lansia.
- Manajemen Waktu: Mengatur jadwal perawatan, seperti waktu makan, aktivitas fisik, dan terapi, agar semua kebutuhan lansia terpenuhi dengan baik. Pemberian makanan bagi lansia sangat penting, karena dengan tidak adekuatnya asupan makanan akan membuat lansia lebih rentan sakit, baik penyakit menular ataupun tidak menular.
Layanan Lansia di Luar Negeri
Beberapa negara telah menunjukkan praktik baik dalam pemberdayaan caregiver keluarga. Di Finlandia, program FINGER dirancang untuk mencegah gangguan kognitif pada lansia melalui pendekatan holistik yang melibatkan keluarga. Swedia juga memiliki sistem layanan berbasis rumah yang memungkinkan lansia tetap tinggal di rumah mereka dengan dukungan caregiver keluarga. Selain itu, Jepang telah mengembangkan pelatihan khusus bagi caregiver, termasuk dari Indonesia, untuk meningkatkan kualitas perawatan lansia.
Sebagai garda terdepan dalam mendukung lansia, caregiver memainkan peran yang sangat krusial dalam memastikan kesejahteraan fisik, mental, dan sosial mereka. Dengan kemampuan untuk memberikan perawatan yang penuh empati, kesabaran, dan profesionalisme, caregiver—terutama yang berasal dari keluarga—menjadi fondasi utama dalam menciptakan masa tua yang lebih bermakna dan bermartabat. Dalam hari lanjut usia tanggal 29 Mei ini, mari kita perhatikan caregiver sebagai bagian penting dalam mewujudkan lansia yang sehat dan bermartabat. Pemberdayaan keluarga sebagai caregiver tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi lansia tetapi juga membangun masyarakat yang lebih peduli dan berempati terhadap generasi yang lebih tua. Dengan pelatihan, dukungan, dan teknologi yang tepat, keluarga dapat berkembang menjadi caregiver yang tangguh dan mampu menghadapi tantangan dalam merawat orang tua mereka. Upaya ini merupakan investasi jangka panjang untuk kesejahteraan lansia dan masa depan yang lebih baik bagi semua lapisan masyarakat.
Oleh Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi




