Cegah Flu Burung, Disnak Kabupaten Banyuwangi Vaksinasi Unggas Peliharaan

ilustrasi

Banyuwangi– Flu burung yang kerap menyerang unggas di Kabupaten Banyuwangi menjadi perhatian khusus oleh Dinas Peternakan. Oleh karena itu, Disnak melakukan vaksinasi semua unggas , hal ini untuk pencegahan menyebarnya penyakit mematikan pada unggas tersebut.

Pencegahan ini tidak hanya dilakukan di satu tempat melainkan secara serentak di seluruh penjuru Bumi Blambangan. Pemkab Banyuwangi melakukan vaksinasi massal unggas serentak di seluruh wilayah Kabupaten.

“Vaksinasi ini dilakukan untuk meningkatkan status kesehatan ternak. Selain itu juga untuk melindungi unggas khususnya terhadap penularan virus flu burung,” kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Peternakan Beni Handarto, Sabtu (26/11/2016) dilansir beritajatim.

Vaksinasi ini, kata Beni, sekaligus langkah antisipasi munculnya virus terutama di musim hujan. Karena virus flu burung lebih mudah berkembang di musim hujan daripada musim kemarau.
“Selain itu vaksinasi dilakukan secara serentak agar didapatkan imun yang sama pula,” ujarnya.

Kegiatan ini dilakukan secara merata di 24 kecamatan se Banyuwangi dengan jumlah 8000 dosis/kecamatan. Satu vaksin untuk satu unggas, sehingga ada 192 ribu unggas yang akan divaksinasi. Ini merupakan vaksinasi lanjutan, karena sebelumnya terdapat 207.600 unggas yang telah divaksinasi

“Sehingga Jumlah total vaksinasi tahun ini mencapai 399.600 unggas. Artinya telah menyeluruh kuta lakukan vaksinasi,” ujarnya.

Vaksinasi ini, lanjut Beni, menjangkau khusus pada ternak unggas sektor tiga dan sektor empat yang penanganan ternaknya belum intensif. Sementara khusus peternakan di atas 10 ribu ekor telah melakukan vaksinasi sendiri. Karena rata-rata peternak sudah menerapkan biosekuriti dengan baik.

“Sektor  tiga, adalah peternakan rakyat (small farmers) yang melaksanakan biosekuriti secara terbatas karena terkendala biaya. Perkandangannya terbuka, sehingga terjadi hubungan dengan unggas liar. Sektor empat, yakni peternak tradisional (back yard) dengan pemeliharaan ternak tanpa menggunakan kandang dan biosekuriti tidak ada sama sekali,” jelas Beni.

Menuruy Beni, kedua sektor ini paling rentan tertular virus karena sistem peternakannya terbuka. Apalagi, pihaknya melihat populasi unggas pada sektor ini cukup banyak yakni mencapai satu juta ekor lebih.