
ISTANBUL, KBKNews.id – Aktivis Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) Herman Budianto menjelaskan kekejaman Tentara Israel yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla. Aksi kekerasan fisik hingga kekerasan seksual ditemukan.
Dia menyebut perlakuan yang diterima para relawan di lapangan jauh lebih kejam daripada apa yang terlihat di media sosial.
Sepanjang proses penahanan, para aktivis yang ditangkap dipaksa dalam posisi merunduk dan membungkuk dalam, dengan kedua tangan diikat ke belakang menggunakan tali plastik yang sangat kencang.
Kekerasan fisik sudah dimulai sejak kapal kemanusiaan yang mereka tumpangi dicegat oleh militer Israel di tengah laut. Aparat bersenjata langsung melakukan intimidasi dengan teriakan kasar dan tembakan peringatan untuk memicu kepanikan.
Di atas dek kapal sendiri, para relawan dipaksa berjongkok, dimaki-maki, bahkan beberapa di antaranya mulai mendapatkan hantaman fisik berupa tamparan dan tendangan dari petugas sebelum akhirnya dipindahkan secara paksa ke kapal militer yang lebih besar.
Penyiksaan berlanjut ketika para relawan memasuki kapal perang milik Israel. Di dalam ruang penantian, mereka dipaksa duduk bersimpuh dengan lutut di lantai dan kepala harus menghadap ke bawah, lalu disiram dengan air laut hingga basah kuyup.
Dalam kondisi pakaian yang dingin dan basah, mereka dipaksa bertahan selama dua malam di dalam sebuah kontainer sempit tanpa alas tidur. Ruangan yang penuh sesak tersebut membuat para relawan harus berebut tempat di atas lantai besi yang dingin.
“Nengok sedikit, tendang. Nengok sedikit, kepala dihantam ke bawah. Badan ditendang. Pokoknya apa saja ditendang. Bahkan teman ada yang sampai disetrum. Ada yang sampai patah tangan, patah kaki, patah hidung, dan trauma-trauma lainnya,” kata Herman di Istanbul, Jumat (23/5/2026).
Fase berikutnya menjadi momen yang paling mengerikan bagi para relawan saat mereka dipindahkan menuju kantor imigrasi. Sepanjang jalur pemindahan, intensitas kekerasan meningkat drastis; tangan mereka ditarik ke atas secara paksa dari belakang sambil terus dipukuli dan ditendang.
Akibatnya, banyak aktivis yang mengalami luka parah seperti patah jari, patah lengan, hingga patah kaki akibat hantaman bertubi-tubi yang sengaja diarahkan ke bagian tubuh yang sudah memar.
Aparat Israel juga tidak segan-segan mengarahkan tendangan langsung ke kepala relawan jika mereka tertangkap basah mencoba menoleh atau melihat kondisi rekan di sebelahnya. Proses di area imigrasi ini berlangsung sangat lama dan melelahkan, dimulai dari pukul 09.00 pagi hingga hampir jam 0.00 malam waktu setempat.
Selama belasan jam tersebut, para relawan sama sekali tidak diberikan akses untuk makan maupun minum, sementara mereka harus melewati serangkaian interogasi yang disertai bentakan, pukulan, hingga pemeriksaan seluruh tubuh tanpa busana.
“Dan ketika saya datang, banyak sekali yang teriak-teriak minta tolong tadi. ‘Help me, help me, help me,’ terutama perempuan-perempuan. Kita enggak bisa menolong sama sekali, enggak bisa melihat bahkan. Kalau kita nengok sedikit kita ditendang, diinjak kepala kita,” ujarnya.
Tekanan fisik yang begitu berat membuat stamina para relawan terkuras habis hingga tubuh mereka gemetar karena harus berjalan membungkuk dalam waktu yang sangat lama.
Setelah melewati pemeriksaan imigrasi yang berlapis-lapis, mereka kemudian dipindahkan ke penjara dengan pengamanan super ketat layaknya penjahat kelas kakap. Tangan dan kaki mereka diborgol dengan besi yang menyakitkan, lalu mereka ditarik secara kasar untuk berjalan cepat mengikuti langkah para sipir penjara.
Kondisi di dalam sel tahanan pun tidak kalah memprihatinkan, di mana satu kamar diisi oleh sekitar 30 orang dengan fasilitas yang sangat minim. Meskipun awalnya disediakan selimut, fasilitas tersebut segera dirampas kembali oleh petugas, memaksa para relawan tidur di atas ranjang besi yang dingin tanpa alas apa pun.
Pihak penjara juga mematikan saluran air di toilet dan menolak mentah-mentah permintaan relawan untuk menggunakan fasilitas sanitasi di luar sel.
“Tanpa air, tanpa salat pun akhirnya kita tayamum dengan kondisi yang seperti itu tadi. Bahkan ketika dalam proses penyiksaan imigrasi itu, saya salatnya sambil dalam kondisi telungkup. Salatnya lebih banyak pakai kode kepala saja untuk menjaga tetap salat,” ungkapnya.
Keesokan harinya, setelah kembali mengalami intimidasi, mereka diborgol tanpa kejelasan informasi sebelum akhirnya dibawa ke bandara untuk diterbangkan menuju Turki.
Mengakhiri kesaksiannya, Herman menegaskan bahwa penderitaan yang ia dan rekan-rekannya alami belum seberapa jika dibandingkan dengan perjuangan rakyat Palestina yang menghadapi kekejaman saban hari. Ia berharap kejadian ini tidak menyutradarai rasa takut atau trauma, melainkan menjadi pembakar semangat bagi para donatur dan masyarakat dunia untuk terus menyuarakan kemerdekaan Palestina.




