Cerita Kelam dari Ghouta Timur

GHOUTA TIMUR – Wajahnya yang berdarah darah memancarkan raut wajah rasa takut, kesakitan dan ketidakberdayaan, air mata menetes dari mata Omar yang masih berusia 10 tahun.

Inilah wajah yang terlihat dari yang seharusnya tidak terjadi kalau gencatan senjata di Suriah berjalan sesuai dengan saran PBB.

Ghouta Timur, kubu pemberontak utama terakhir di dekat Damaskus, telah menjadi sasaran serangan militer yang sengit sejak pekan lalu.

Pasukan Presiden Bashar al-Assad melancarkan kampanye pengeboman besar-besaran terhadap daerah kantong di tepi Damaskus yang telah menewaskan lebih dari 500 orang itu.

Dewan Keamanan PBB menuntut gencatan senjata 30 hari, seperti disampaikan sekjen PBB Antonio Guterres menggambarkan apa yang terjadi di Ghouta Timur sebagai “neraka di Bumi”.

Tapi saat para diplomat memperdebatkan kata-kata resolusi PBB untuk mengamankan gencatan senjata, bom tersebut terus saja turun.

Omar 10 tahun korban bom Ghouta Timur. Foto: AFP

Sebuah serangan udara menyapu bersih anggota keluarga Omar. Ketika dokter merawatnya di sebuah rumah sakit, sementara ayahnya yang terluka parah dan saudara perempuan tujuh tahun , Manah berada di dekatnya, sedang merawat luka juga.

Ghouta Timur, merupakan rumah bagi 400.000 orang yang telah direduksi menjadi situs pemboman.

Tapi wilayah tersebut dikelilingi oleh daerah yang dikuasai pemerintah, itu berarti warga seperti Omar dan keluarganya tidak punya tempat untuk ke luar dari Ghouta Timur.

Mereka tidak bisa lari. Makanan sudah habis. Dan bom terus turun menghantam kota mereka yang sudah luluh lantak.

Setelah berhari-hari perselisihan diplomatik, Dewan Keamanan mengambil sebuah resolusi yang menyerukan gencatan senjata 30 hari di Suriah “tanpa penundaan” pada hari Sabtu.

Namun upaya untuk mengakhiri kekerasan sehingga bantuan dan pasokan dapat masuk ke Ghouta gagal karena bentrokan lebih berat terjadi di wilayah dekat ibukota Damaskus.

Saksi mata mengatakan kepada jaringan Al Jazeera bahwa pasukan yang setia kepada Presiden Bashar al-Assad menyerang pemberontak di berbagai wilayah.

Pesawat tempur Suriah melanjutkan pemboman mereka di Douma, kota utama di wilayah ini untuk hari kedelapan.

“Politisi terus berdebat tentang resolusi tersebut, sementara itu sudah 180 orang terbunuh, termasuk 26 wanita dan 42 anak,” kata Society Medis Amerika Syria.

Pasukan Assad memulai kampanye pengeboman besar di daerah kantong seminggu yang lalu.

Stephen Hickey, perwakilan Inggris di PBB, mengatakan PBB ‘koma’ karena pesawat-pesawat Suriah terus saja membom rumah-rumah dan rumah-rumah sakit.

Mohamed Alloush, tokoh kunci dalam Jaish al-Islam, berkicau, pemberontak ‘menolak’ upaya rezim untuk memasuki wilayah tersebut.

SERANGAN GAS

Omar 10 tahun dan ayahnya dirawat di rumah sakit. Foto : AFP

Permintaan gencatan senjata meningkatkan harapan untuk menghentikan pertumpahan darah, namun kenyataannya tidak demikian, pertempuran semakin intensif.

Sedikitnya 14 warga sipil termasuk tiga anak tewas dalam serangan pada hari Minggu, kata Observatorium Observatorium untuk Pengawasan Hak Asasi Manusia Suriah, sehingga jumlah korban tewas dalam minggu ini menjadi 530, di antaranya terdiri dari 130 anak, laporan AFP.

“Seorang anak meninggal dan setidaknya 13 orang lainnya mengalami kesulitan bernapas setelah serangan kimia yang dicurigai di daerah kantong pemberontak Suriah di bawah pemboman rezim yang intensif,” kata Observatorium dan seorang petugas medis yang merawat orang-orang yang terkena dampak.

Korban, supir ambulans dan lainnya mencium klorin setelah “sebuah ledakan besar”.

Sedikitnya 18 korban dilaporkan dirawat dengan sesi nebulising oksigen. ”

Pemerintah Suriah secara konsisten membantah menggunakan senjata kimia dalam perang yang akan segera memasuki tahun kedelapan.

Kementerian pertahanan Rusia, yang mendukung pemerintah Suriah dalam perang tersebut, pada hari Minggu menuduh para pemberontak bersiap untuk menggunakan agen beracun di Ghouta timur sehingga mereka kemudian dapat menuduh Damaskus menggunakan senjata kimia.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, sebuah organisasi yang berbasis di Inggris yang melaporkan tentang perang tersebut, membenarkan bahwa seorang anak telah meninggal karena bom di Ghouta timur namun mengatakan bahwa mereka tidak dapat memastikan apakah bom tersebut  mengandung gas beracun.

Advertisement