
PANGLIMA Gabungan Amerika Serikat di Pasifik Laksamana Philip Davidson memperkirakan, China akan menginvasi Taiwan yang diklaim sebagi wilayahnya pada 2027.
Sebaliknya, China menuding AS, pernyataan AS tersebut dilontarkan hanya sebagai dalih, negara Panam Sam itu untuk meningkatkan aggaran belanja militer dan membenarkan aksi sepihak yang akan dilancarkan terhadapnya.
Laksamana Davidson di depan senat AS (9/3) a.l. menyebutkan, China berambisi menggantikan hegemoni militer AS di kawasan Asia, sehingga untuk mewujudkannya, Taiwan bakal menjadi sasaran pertama.
Faktanya, China dengan kekuatan militer raksasa yang dimilikinya memang tidak henti-henti menggelar latihan perang-perangan di sepanjang pantai di Selat Taiwan yang diklaim sebagai wilayah kedaulatannya.
Pesawat-pesawat China acap kali memasuki zona identifikasi udara  Taiwan sehingga membuat negeri pulau yang memisahkan diri dari China daratan itu merasa gerah karena merasa kedaulatannya terancam.
Presiden Taiwan Tsai Ing-wen juga telah mengingatkan China terkait kemungkinan eskalasi konflik di Laut China Selatan yang disengketakan dan di sekitar Taiwan akibat ulah China itu dan berharap agar komunikasi terus dijalin demi menghindari kesalahpahaman.
Ancaman melalui pelanggaran udara dan manuver militer secara intensif dilakukan China yang bertekad merebut kembali Taiwan, sebaliknya Taiwan juga terus mengasah kemampuannya untuk mempertahankan diri.
China dengan anggaran belanja militer 237 milyar dolar AS (Rp 3.365 triliun) berada di ranking ke-2 setelah AS dengan 750 milyar dolar (Rp10.650 triliun), sementara Taiwan pada ranking ke-22 dengan 13,1 milyar dolar atau Rp186 triliun.
Tentara Pembebasan China (PLA) berkekuatan tiga juta personil, AU-nya didukung 3.170 pesawat, AL diperkuat 714 kapal perang, sedangkan AD dengan 13.500 tank dan 30.000 kendaraan lapis baja.
Militer China juga terus memodernisasikan peralatan tempurnya yang sampai era ’70-an masih bergantung pada Uni Soviet atau mengopi paste, kini telah mendesain dana membangun sendiri kekuatannya.
Matra laut PLA diperkuat dua kapal induk: Liaoning dan Shandong, 74 kapal selam, 50 destroyer, 46 fregat, 72 korvetdan berbagai jenis kapal pendukung lainnya
AD China mengoperasikan berbagai seri rudal Dong Feng, salah satunya untuk menyasar kapal induk dan jenis rudal-rudal balistik jarak pendek sampai antarbenua. Tank-tanknya sebagian dari pemutahkhiran tank-tank eks Soviet seperti T-62, T-72 dan T-80.
Kekuatan udara China juga berkembang pesat dengan 1.200 lebih pesawat udara, mulai dari pembom Q-5 (copy MiG-19 Soviet), JH-6 (copy-TU-16 Soviet), JH-7 sampai siluman J-20 Chengdu yang bisa diseterakan dengan pesawat tempur Raptor J-22 AS.
Sebaliknya, AB Taiwan walau kecil hanya didukung 163.000 personil tetap, menggunakan alutsista canggih, sebagian besar buatan AS. Negeri ini juga selalu siap siaga menghadapi China, misalnya dengan menyulap jalan raya menjadi landas pacu pesawat tempur.
AU Taiwan yang didukung 400-an pesawat, sebanyak 113 diantaranya pesawat tempur F-16 Fighting Falcon seri Viper (AS), 46 Mirage 2000 buatan Perancis dan 103 pesawat tempur produksi lokal, Chingkuo dan puluhan heli serang AH-64 Apache dan UH-60 Black Hawk.
AD Taiwan didukung 1.100 tank, termasuk M1A1 Abrams dan M-60 Patton , artileri swagerak M-109, rudal AMRAAM, sistem rudal anti rudal Patriot, AGM Maverick (semua AS), Sky Sword (lokal) dan Tian Kung (lokal) dan Magic (Perancis).
Sementara matra lautnya a.l didukung empat destroyer, 20 fregat, 31 kapal peluncur rudal, empat kapal selam, sembilan penyapu ranjau dan satu korvet.
Tentu saja, jika Taiwan diserang, AS yang berada di belakangnya tidak akan tinggal diam.AU Paman Sam yang didukung sekitar 5.300 pesawat seperti pesawat tempur F-16 Fighting Falcon dan F-16 Eagle dari berbagai varian, F-22 Raptor, F-35 Super Lightning II, pembom B-1B Lancer dan B-52 Stratofortress.
Matra laut AS didukung 490 kapal a.l. 11 kapal induk, 70 perusak, puluhan kapal selam dan kapal pendukung lain, sementara di darat, memiliki 5.300 tank tempur utama seperti M1A1 Abrams, tank ringan Bradley,ribuan  artileri tarik dan swagerak.
Dengan senjata pemusnah massal yang dimiliki AS dan China, agaknya tidak ada yang ingin memulai perang, karena jika itu terjadi akan menimbulkan kerusakan yang dahsyat dan korban jiwa.




