China Bakal Serang Taiwan?

Walau tekad China merebut kembali Taiwan baru wacana dan ancaman melalui pernyataan, melihat kesiapan militernya, agaknya China serius akan melakukannya.

WALAU sejauh ini ancaman China daratan untuk merebut kembali Taiwan yang diklaim sebagai wilayahnya masih sebatas retorika atau gertakan, dari kesiapan, modernisasi dan latihan-latihan yang digelar, tak mustahil hal itu menjadi kenyataan.

Invasi skala penuh yang tentu saja bakal menelan banyak korban jiwa,  peralatan tempur serta kerusakan prasarana dan prasarana umum yang ditimbulkannya, seperti diulas AFP baru-baru ini, bukan satu-satunya pilihan.

Aneksasi pulau-pulau terluar, sebagian, misalnya  pulau Kinmen dan Matsu yang terletak hanya sekitar 10 Km dari lepas pantai Taiwan  dan pernah ditembaki oleh artileri China beberapa puluh tahun pasca usai perang saudara China (1949).

Beijing juga dapat menyasar kepentingan Taiwan lainnya di Laut China Selatan seperti atol Pratas, atau bahkan lebih jauh lagi yakni pulau Taiping di kepulauan Spratly. Satu langkah lebih jauh adalah perebutan kepulauan Penghu yang lebih dekat ke Taiwan, sekitar 50 Km dari pulau utama.

“Kepentingan strategis Penghu melebihi pos-pos pulau lainnya,” kata  Laksamana Purn. Lee Hsi-min, mantan kepala staf angkatan bersenjata Taiwan hingga 2019, kepada AFP.

Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) bisa menduduki Penghu sebagai pijakan untuk serangan jarak pendek dan membuatnya  memiliki superioritas di udara,” tuturnya.

Sementara laporan US Naval War College menyebutkan, strategi menggunakan batu loncatan dimulai dengan menduduki pulau-pulau terpencil bisa dilakukan Beijing untuk mendapatkan sejumlah keuntungan strategis.

Selanjutnya China juga bisa berhenti sebelum menyerang pulau utama, dan menggunakan aneksasi ke pulau-pulau terluar untuk memberikan tekanan diplomatik dan psikologis bagi Taiwan.

Dari sisi anggaran militer, China yang menempati ranking tertinggi ke-2 setelah Amerika Serikat (230,16 miliar dollar AS atau Rp3.315 triliun pada 2022 tentu tidak sepadan dibandingkan Taiwan yang anggaran militernya hanya 16,8 miliar dollar (Rp242 triliun).

Sedangkan menurut Global Firepower, China yang menempati urutan ke-3 setelah AS dan Rusia, memiliki 2,3 juta personil militer, belum termasuk cadangan, sementara jumlah tentara Taiwan sekitar 300-ribu orang.

Matra AD, AU, dan AL China jauh lebih unggul dalam jumlah alutsista, namun demikian, AB Taiwan walau jauh lebih kecil, baik personil mau pun alutsista, di belakangya ada AS an negara-negara Barat khususnya yang tergabung dalam NATO yang siap mendukungnya.

Opsi Selain Perang

Selain opsi perang, China bisa juga melakukan tekanan di bidang ekonomi dengan memberlakukan karantina pabean, sehingga secara efektif mengambil kendali kawasan  udara dan laut Taiwan.

Melalui skenario tersebut, China dapat “menyaring” kapal-kapal  dan pesawat udara yang masuk dan mengizinkan moda angkutan yang  tidak mencurigakan lewat sambil mengalihkan kapal yang dicurigai ke pelabuhan China.

Pemerintah China akan mengizinkan rakyat Taiwan beraktivitas di pulau tersebut, sekaligus mengawasi siapa yang datang (dan mungkin siapa yang pergi).

Dalam skenario tersebut, impor makanan dan energi masih diizinkan seperti halnya lalu lintas penumpang dengan angkutan feri reguler, tujuannya untuk memaksa Taiwan kehilangan kendali, memotong Taiwan dari setidaknya pasokan peralatan militer.

Opsi lainnya, Beijing juga dapat menerapkan blokade penuh terhadap Selat Taiwan, mencegah apa pun masuk dan keluar.

“PLA mampu melakukan blokade lokal bersama pada pelabuhan penting, bandara dan rute penerbangan keluaruntuk memutus jalur komunikasi udara dan laut dan mencegah pasokan militer serta logistik, “ tulis Kementerian Pertahanan Taiwan dalam laporan tahun 2021.

Bahkan Lonnie Henley pensiunan perwira intelijen AS pada Februari 2021 mengatakan kepada Komisi Peninjauan Ekonomi dan Keamanan AS-China, China akan dapat melanjutkan blokade tanpa batas, bahkan dengan kekuatan minimal.

PLA bisa saja tidak melakukan invasi darat penuh, tetapi menggunakan serangan udara dan rudal untuk menghancurkan infrastruktur militer serta sipil utama, sehingga melumpuhkan pertahanan Taiwan.

China juga bisa menggunakan perang siber untuk mencapai tujuan yang sama.

“Jika PLA bertindak sesuai doktrinnya, kemungkinan akan melakukan  serangan siber besar-besaran berupa gangguan skala besar dan perang elektronik untuk melumpuhkan infrastruktur penting dan tautan komando militernya,” ungkap mantan pejabat Pentagon, Andrew Krepinevich kepada Telegraph.

China dapat saja mengebom Taiwan, memanfaatkan supremasi kekuatan udaranya, namun menurut peneliti di Sekolah Studi Internasional S Rajaratnam Singapura, James Char, pertanyaannya, apakah China akan menyerang Taiwan tanpa pertumpahan darah dan kehancuran parah sarana dan prasarana umum? (AFP/ns)

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement