AMBISI China menjadi kekuatan kerjasama ekonomi global tercermin dari progam Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative- BRI) yang sudah berjalan sepuluh tahun dan melibatkan banyak negara dan organisasi int’l.
BRI yang telah meneken kerjasama bernilai lebih dua triliun dollar AS dengan 150 negara dan 30 organisasi int’l telah membawa perubahan besar dan tonggak sejarah sehingga ke depan diharapkan lebih kreatif, inovatif, terbuka dan inklusif serta membuka peluang baru bagi China dan dunia.
Evaluasi satu dasawarsa dan rencana BRI ke depan akan dibahas pada Forum BRI dalam kerangka kerjasama int’l yang akan digelar di Beijing pada 17 – 18 Oktober dan dijadwalkan akan dibuka oleh Presiden Xi Jinping.
Selain Presiden RI Joko Widodo dan Presiden Rusia Vladimir Putin, Forum BRI mendatang dilaporan akan dihadiri sejumlah kepala negara peserta kerjasama tersebut.
Sebelumnya BRI menggunakan istilah Jalur Ekonomi dan Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 dan menjelang pertemuan nanti akan diterbitkan buku putih memuat berbagai tantangan dan peluang baru sebagai proyek global jangka panjang int’l abad ke-21.
“China siap menjalin kerjasama yang lebih bermanfaat dan bermartabat di bawah kerangka BRI, “ demikan a.l laporan buku putih tersebut.
Disebutkan pula dalam buku ptih tersebut harapan agar semua pihak yang terlibat menyatukan kekuatan kerjasama dan bertahan, mengatasi semua masalah dan meningkatkan kesejahteraan rakyat masing-masing.
Bagi China, BRI merupakan warisan obor perdamaian dari generasi ke generasi melalui upaya mempertahankan pembangunan, memastikan berkembagnya peradaban dan membangun komunitas global dengan masa depan bersama.
BRI merencanakan pembangunan proyek infrastruktur global dan pembangunan jaringan energi untuk menggabungkan Asia, Afrika dan Eropa melalui jalur darat dan laut dengan mengembalikan kejayaan era Jalan Sutera kuno dalam perdagangan global tempo doeloe.
Namun di sisi lain, dilaporkan muncul kekhawatiran sejumlah negara mitra penerima dana China seperti dilaporkan oleh para ahli kebijakan pembangunan global Universitas Boston, AS yang terbelit kesulitan membayar utang.
Sementara Nikkei Asia menyebutkan, BRI juga haru bersaing dengan tawaran duet Amerika Serikat dan Uni Eropa (AS-UE) bagi proyek pembangunan jalur int’l KA di Afrika untuk mengangkut sumberdaya ke pelabuhan. Sebaliknya, BRI sudah hadir di Afrika untuk menjaga mata rantai pasokan mineral utama.
Ke depan, sinergi pengembangan proyek-proyek int’l antara Barat dan Timur di negara-negara berkembang tanpa tendensi politik, terbuka dan melulu fokus pada kepentingan bersama umat manusia yang saling menguntungkan tentu sangat diharapkan. (Reuters/AFP/AP/ns)





