China dan Rusia Saling Merapat

Presiden Rusia Vladimir Putin (Kiri) dan Presiden China Xi JInping. China dan Rusia merapat, diikuti Iran, India dan Turki dalam KTT Kerjasama Shanghai (SCO).

ALIANSI yang sedang dibangun antara China dan Rusia serta diikuti India, Iran dan Turki bisa menciptakan bipolar kekuatan global melawan Amerika Serikat dan Barat yang sudah ada saat ini.

Seperti dilaporkan kantor berita transnasional (AP/AFP/Reuters), Kamis (15/09), untuk pertama kali dalam tiga tahun terakhir ini, pemimpin China, Rusia, India, Iran dan Turki bertemu dalam KTT Kerjasama Shanghai (SCO) di Samarkand, Uzbekistan, 15-16 Sept.

Pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden Vladimir Putin menjadi sorotan utama setelah kedua negara sama-sama dikucilkan oleh AS dan sekutu-sekutunya sejak invasi Rusia ke Ukraina, 24 Feb. lalu.

Dalam orasinya, Presiden Xi mengemukakan, China siap menggalang kerjasama dengan Rusia sebagai kekuatan global untuk memainkan peran sebagai stabilisator  dan menciptakan energi positif bagi dunia yang saat ini menurut dia diguncang kekacauan sosial.

Xi dan Putin terakhir kali bertemu beberapa pekan sebelum Rusia menginvasi Ukraina dan China pun menolak mengecam aksi Rusia dengan menggunakan diksi Operasi Militer Khusus seperti yang diistilahkan Rusia.

Sebalikny Putin menegaskan kembali prinsip “One China Policy” dan mengecam apa yang disebutnya sebagai provokasi AS yang mengirimkan armada lautnya ke dekat Selat Taiwan yang masih diklaim China sebagai bagian wilayahnya.

Putin dalam kesempatan itu juga mengecam upaya-upaya untuk menciptakan dunia yang unipolar (didominasi AS, red) dan menyebutkan, setiap upaya untuk menciptakan tatanan dunia unipolar bakal menuai hasil huruk dan tidak bisa diterima (oleh semua pihak-red).

Pecah Kongsi

Rusia saat masih bernaung di bawah Uni Soviet sebelum era Perang Dingin pada tahun 1950-an adalah aliansi terdekat melawan hegemoni Barat dipimpin AS, namun kemudian putus kongsi.

Di awal Perang Dingin, China yang menganggap Rusia tidak memiliki nyali melawan AS – salah satu contohnya, membongkar rudal-rudal nuklir yang ditempatkan di Kuba setelah diultimatum Presiden John F. Kennedy, putus kongsi. China menjuluki Rusia sebagai revisionist.

Sementara, India yang juga ikut “merapat” di forum SCO, adalah musuh bebuyutan China yang beberapa kali terlibat perang perbatasan, terakhir terkait sengketa di wilayah Ladakh di  kaki pegunungan Himalaya Juni 2020.

Namun yang jelas, India dan China di tengah konflik Rusia vs Ukraina dan embargo Barat terhadap Rusia, diuntungkan, karena menerima pasokan minyak dari Rusia, bahkan dengan harga diskon.

Sedangkan Iran dan Turki walau satu kubu misalnya terkait isu Palestina dan Israel, juga saling berupaya menanamkan hegemoni di kawasan Timur Tengah.

Rusia di tengah tekanan embargo AS dan Barat serta ditinggalkan oleh sejumlah negara eks-Uni Soviet seperti Latvia, Lithuania dan Estonia dan negara-negara satelitnyaseperti Bulgaria, Ceko, Slowakia, Polandia, Rumania yang membelot menjadi anggota NATO, memerlukan aliansi baru.

Tiada teman atau musuh abadi, yang abadi cuma kepentingan. (AP/AFP/Reuters).

 

 

 

 

 

 

Advertisement