China Menggonggong, Taiwan Berlalu

Taiwan merespons latihan besar-besaran China dekat perairan wilayahnya (4 - 7 Agustus) dengan latihan penembakan howitzer menghadapi invasi dari laut.

ALIH-alih ciut nyalinya digertak China yang memiliki mesin perang raksasa dengan manuver militer di seputar pantai pulau utama Taiwan,  4- 7 Agustus lalu, Taiwan juga melakukan hal sama.

Diskenariokan untuk memblokade, lalu merebut Taiwan yang diklaim miliknya , tentara China (PLA) mengerahkan lebih seratus pesawat tempur dan sepuluh kapal perang dalam manuver militer yang digelar 4 – 7 Agustus lalu untuk memprotes lawatan Ketua DPR AS, Nancy Pelocy ke negara itu.

PLA dilaporkan juga meluncurkan belasan rudal balistik seri Dong Feng (Naga Sakti) yang paling tidak empat diantaranya jatuh di perairan Jepang.

PLA membagi latihan dalam dua tahap yakni tahap pertama (4 – 5 Agustus) untuk memblokade atau mengisolasi Taiwan dari dunia luar dan tahap kedua (6 – 7 Agustus) untuk merebut wilayah itu.

Pada latihan tahap kedua, berkali-kali kapal-kapal perang PLA menerobos garis imajiner di Selat Taiwan yang sejak 2,5 dekade lalu dijadikan batas terjauh pesawat-pesawat China mendekati  Taiwan.

Tidak cukup dengan latihan tersebut, China melanjutkannya dengan latihan perang mendekati wilayah Jepang dan Korea Selatan di sekitar Laut Kuning 6 – 15 Agustus.

Di lima zona di perairan Laut Kuning itu, China melangsungkan latihan perang laut dan operasi anti kapal selam menggunakan rudal-rudal sesungguhnya.

Kawasan laut yang lebih dekat ke wilayah Korsel tersebut cukup strategis, mengingat  pangkalan militer AS, Camp Humprey berada di tepi Laut Kuning.

Saling Intai

Saling intai kedua pihak dilaporkan saat masing-masing pihak berkekuatan sepuluh kapal  perang mendekati garis imajiner di Selat Taiwan yang memisahkan Taiwan dan China daratan (9/8).

Sebanyak 27 pesawat tempur AU China, tidak disebutkan jenisnya,  juga dilaporkan memasuki Zona Identifikasi Pertahanan Udara Taiwan (ADIZ) 6 Agustus lalu, sementara kapal-kapal perangnya memasuki area 12 mil dari garis pantai Taiwan.

Sebaliknya, Taiwan secara bertahap mulai menguji kemampuan tempurnya menghadapi invasi dari laut dengan menggelar latihan penembakan 40 artileri medan (howitzer)  di Pingtung, Taiwan selatan.

Perbandingan Kekuatan

Dari jumlah personil, persenjataan dan anggaran militer  Taiwan bagai langit bumi, kalah jauh dari China. Budget militer China , 2021 sebesar 252 miliar  dolar (Rp3.755 triliun) terbesar kedua setelah AS, sedangkan Taiwan di ranking ke-22 dunia dengan 13 miliar dolar (Rp194 triliun).

China memiliki 2,2 juta personil aktif, belum termasuk pasukan cadangan, sementara Taiwan 300-ribu personil.

AD China  mengoperasikan 13.000 tank, artileri tarik dan swagerak, peluncur multi laras dan rudal-rudal balistik seri Dong Feng yang bisa mengangkut hulu ledak (warhead) nuklir.

AU China mengoperasikan sekitar 3.300 pesawat, sebagian buatan Rusia atau Soviet seperti Sukhoi SU-30 dan SU-35 atau copy paste pembom TU-16 (Xian H-6) dan terus memodernisasi pesawat tempurnya a.l J-20 Chengdu yang disebut-sebut saingannya F-35.

Angkatan Laut China sekarang ini yang terbesar di dunia dari jumlah armadanya yakni sekitar 700 kapal perang termasuk dua kapal induk (Liaoning daN Shandong) dan 79 kapal selam, sebagian besar konvensional, hanya sebagian bertenaga nuklir.

Sedangkan AB Taiwan walau jauh lebih kecil, dengan personil 300.000 orang, 300 pesawat tempur, 87 kapal perang dan sekitar 1.855 tank tidak bisa dianggap enteng, karena selain terlatih juga canggih.

AU Taiwan mengandalkan lebih 100 “Elang Tempur F-16 C/D yang kemampuannya akan ditingkatkan menjadi F-16 Viper, Mirage 2000-5 buatan Perancis dan Chengko F-CK1 buatan lokal yang dianggap setara dengan F-16.

Sadar, tidak sebanding untuk berhadap-hadapan langsung dengan  kekuatan raksasa China, pasukan Taiwan menerapkan taktik asimetris untuk bertahan selama mungkin ambil menanti bantuan terutama dari AS bersama kekuatan NATO tentunya.

Walau  juga memberlakukan kebijakan “One China”, dengan perjanjian yang dibuatnya, AS berkomitmen akan membantu Taiwan jika sewaktu-waktu diserang China.

Sebaliknya, para pemimpin China berkali-kali menyatakan tekad mereka untuk merebut kembali Taiwan, walau dalam waktu dekat agaknya belum akan diwujudkan dan  sementara cukup dengan gertakan.(AP/AFp/Reuters/ns)