China pasang “dua kaki” di Timteng

China menerapkan strategi "pasang dua kaki" di Timur Tengah dengan menggandeng Iran di satu pihak dan musuh bebuyutannya, Arab Saudi di pihak lain untuk menjaga perimbangan di kawasan.

CHINA agaknya mengambil strategi kesimbangan, menjalin hubungan baik dengan Iran yang menjadi salah satu dari empat besar pemasok minyak dan dengan seteru bebuyutannya, Arab Saudi.

Penasehat Pemerintah China, Wang Yi bertemu dengan mitranya, Menlu Iran Mohammad Javad Zarif di Beijing, Selasa (19/2).

Wang Yi dalam pertemuan itu menyanjung Zarif setelah menyaksikan tayangan TV mengenai pernyataan menlu Iran tersebut pada Konferensi Kemanan di Muenchen, Jerman, Minggu (17/2).

Zarif dalam orasinya, menuding Israel mencari gara-gara (melakukan prvokasi-red) untuk menyulut perang dengan Iran. Menurut catatan, saling gertak antara petinggi Iran dan Israel semakin seru menyusul serangan Israel ke sejumlah fasilitas militer Iran di Suriah pekan lalu.

“Saya menyaksikan di TV bagaimana anda membela hak-hak rakyat Iran dengan jelas dan tegas di pertemuan Muenchen. Saya kira dan ratusan juta rakyat China juga menyaksikannya. Anda menjadi sosok terkenal saat ini, “ kata Wang Yi menyanjung mitranya.

Rakyat China secara umum, menurut penilaian Kantor Berita Associated Pers, menganggap Amerika Serikat sebagai penghambat kemajuan China di level global sehingga mereka menaruh simpati teradap Iran dan negara lain yang dimusuhi AS.

Kepada Zarif, Wang Yi menyampaikan tekad negaranya untuk mempererat saling percaya antara kedua negara dengan melanjutkan kemitraan strategis secara komprehensif dan berharap agar Iran memainkan peran lebih konstruktif di kawasan.

AS menarik diri tahun lalu dari kesepakatan nuklir Iran 2015 yang ditandatangani enam negara yakni AS. China, Inggeris, Rusia, Perancis dan Jerman.

Konsekuensinya, AS kembali melanjutkan sanksi ekonominya terhadap Iran, namun Jerman, Inggeris dan Perancis hanya menghindari transaksi finansial langsung, namun tetap berbisnis melalui sistem barter.

Dengan Arab Saudi, musuh bebuyutan Iran, China juga menjalin hubungan baik, diperkokoh oleh lawatan Raja Salman ke negeri itu pada 2017 yang membuahkan kontrak kerjasama bernilai 65 milyar dolar AS (sekitar Rp910 triliun).Putera Mahkota Saudi, Pangeran Ahmed bin Salman kembali melawat ke China pekan ini.

Selain perbedaan paham, walau sama-sama Islam, mayoritas rakyat Iran berpaham Syiah, sedangkan Saudi menganut paham Sunni, hubungan kedua negara juga tegang akibat perebutan hegemoni di kawasan.

Dalam konflik Yaman, Iran mendukung kelompok Houthi, sebaliknya Saudi memimpin koalisi bersama UAE dan Qatar berada di belakang rezim lawannya, pengikiut Presiden Abdurrabuh Mansour Hadi.

“Politik Pasang Dua Kaki” kadang-kadang lebih aman dan menguntungkan pelakunya.
(AP/Reuters/NS)

Advertisement