China Terus Mengasah Taji

China terus memupuk kemampuan militernya tercermin dari peningkatan anggaran 2021 yang mencapai 253 milyar dolar AS atau setara Rp3.542 triliun

AMBISI China mengeser Amerika Serikat sebagai negara terkuat di dunia, tercermin dari peningkatan anggaran militernya, walau sejauh ini masih terpaut jauh dari negara saingan bebuyutannya tersebut.

Pada tahun ini, China menaikkan angaran belanja militernya 6,8 persen dari sekitar 237 menjadi 253 milyar dolar AS (sekitar Rp3.542 triliun), sedangkan AS mengalokasikan 740 milyar dolar AS atau sekitar Rp10.360 triliun).

Pada 2020 tercatat enam negara di dunia dengan anggaran militer terbesar yakni AS pada ranking pertama (750 milyar dolar), disusul China (237 milyar dolar), Arab Saudi 67,6 milyar dolar, Inggeris (55,1 milyar dolar), Jerman (50 milyar dolar) dn Rusia 48 milyar dolar.

Peningkatan kekuatan China tentu tidak lepas dari ambisinya untuk merebut kembali Taiwan yang diklaim sebagai miliknya, juga ketegangan yang acap terjadi dengan negara tetangganya, India dan juga sengketa dengan sejumlah negara di Laut China Selatan.

Pembangunan matra laut China tercermin dari kehadiran kapal induk pertamanya Liaoning, peninggalan AL Ukraina yang dimodifikasi, lalu  kapal kedua, Shandong yang dibangun sepenuhnya di galangan lokal dan menyusul kapal induk ketiga yang dalam konstruksi.

AB China memiliki dua juta lebih personil aktif dan 2,7 juta cadangan , sedangkan  Armada lautnya berkekuatan 603 kapal antara lain dua kapal induk, 15 kapal perusak, 11 fregat, 85 korvet dan 64 kapal selam.

Di darat, pasukannya didukung 3.200 tank, 35.000 kendaraan lapis baja, 1.970 meriam tarik dan 2.250 meriam swa gerak serta berbagai peluncur rudal termasuk berbagai seri rudal balistik Dong Feng (DF) berjarak pendek, pembunuh kapal induk sampai antarbenua.

Matra udara China mengoperasikan sekitar 1.200 pesawat tempur, 371 pesawat serang darat dan 327 helikopter serang. Jika pada dekade ‘sampai ’70-an masih mengopi paste alutsista buatan Uni Soviet, kini sudah mengembangkan sendiri termasuk untuk ekspor.

Pesawat tempur J-20 Chengdu atau rajawali hitam disebut-sebut sebagai pesawat generasi ke 4.5 yang bisa disejajarkan dengan pesawat-pesawat tempur AS seperti Raptor F-22 atau Super Lightning II F-35 buatan AS walau pun belum pernah teruji dalam pertempuran sesungguhnya.

Sebagai perbandingan, AS memiliki 1,4 juta personil aktif dan 2,4 juta cadangan, sedangkan satuan AD-nya didukung a.l. olleh 6.100 tank dan 40.000 kendaraan lapis baja, 4.300 pucuk meriam tarik dan 1.365 meriam swagerak dan berbagai jenis rudal dan anti rudal.

AU AS mengoperasikan 789 pesawat tempur berbagai jenis yang sudah dikenal di berbagai palagan seperti F-15 Eagle, F-16 Fighting Falcon, F-22 Raptor dan F-35 Super Lightning II, 742 unit pesawat serang darat dan 538 heli tempur seperti Black Hawk dan Apache.

Sedangkan matra lautnya didukung sebelas kapal induk, 15 perusak, 64 kapal selam, 11 sebelas fregat dan 85 korvet.

Rudal antirudal Patriot AS pernah suskes digunakan menangkal rudal-rudal Scud yang ditembakkan Irak pada Perang Teluk I (1990). Selain AS juga memiliki sistem pertahanan udara di ufuk tinggi (Terminal High Altitude  Area Defence –THAAD ) yang dipasang di Korsel dan Jepang.

Persiapan perang, menelan biaya besar, sementara jika benar-benar terjadi, perang yang melibatkan senjata pemusnah massal hanya akan menimbulkan kerusakan, kematian dan kesengsaraan.

Damai dan hidup berdampingan di dunia milik umat manusia bersama adalah pilihan terbaik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement