BOGOR (KBK) – Ketika jarum jam menunjukan pukul 3 dini hari, Kota Bogor masih diselimuti udara dingin. Namun Herlina bersama Robiyah, bocah 6 tahun penderita kanker otak sudah harus keluar rumah menuju Stasiun Bogor untuk mengejar kereta pertama pukul 4. Tujuan utamanya hanya satu, supaya bisa sampai ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Salemba, Jakarta Pusat sebelum pukul 6.
kantuk yang masih menggelayuti mata Herlina merupakan musuh besar yang harus dilawan demi kesembuhan sang buah hati. Saat ditemui KBK di rumahnya yang berada di kawasan Bantar Jati Bogor, Kamis (10/11/16) Herlina mengaku Commuterline Bogor-Jakarta telah menjadi kendaraan setiap hari Robiyah. Setibanya di Stasiun Cikini, Herlina seakan sudah tak “berdaya”. Himpitan ekonomi membuat Ibu 3 anak ini memilih untuk jalan kaki sambil menggendong putri bungsunya pergi pulang ke RSCM.
Herlina berkisah pada 11 November 2015 Robiyah mengalami demam disertai panas tinggi. Setelah dirawat di RSUD Karya Bakti, Bogor selama 4 bulan kesehatannya tak kunjung pulih.
“Akhirnya saya lakukan CT Scan untuk mengetahui penyakit Robiyah di rumah sakit daerah Sentul dan ternyata ada yang tidak beres pada kepala anak saya,” ucap Herlina yang kala itu mesti membongkar tabungannya untuk membayar CT Scan sebesar Rp 6 juta.
Tak lama Robiyah segera diambil tindakan operasi pemasangan selang guna mengalirkan cairan yang ada di otak lalu diteruskan ke organ pembuangan. Melihat perkembangan tak makin membaik, akhirnya pihak RSUD merujuk Robiyah ke RSCM. Selama di RSCM Robiyah dikatakan Herlina sempat mengalami koma selama dua minggu.
“Robiyah baru mulai sadar waktu anak pertama saya Muslisun datang. Tiba-tiba Robiyah bisa bicara, ” kata Herlina yang kini praktis mengandalkan BPJS.
Selama 6 bulan menjalani perawatan intensif dan serangkaian kemoterapi di RSCM kondisi Robiyah mulai menunjukan perkembangan kendati hingga kini masih harus melakukan kontrol rutin. Selama itu pula terkadang Herlina dan Rubiyah harus bermalam di asrama milik Yayasan Kanker Anak Indonesia di bilangan Jalan Percetakan Negara.
Sejak idul fitri lalu Herlina rutin membawa Rubiyah kontrol seminggu dua kali. Namun perkembangan terbaru menunjukan, saat ini Robiyah mesti melakukan cek dahak selama 1 minggu berturut-turut. Kondisi yang demikian jelas membuat Herlina dan Mujiono suaminya yang berprovesi sebagai buruh bangunan kalang kabut. Biaya transportasi dan keperluan lainnya yang besar merupakan salah satu penyebabnya.
“Kalau lagi ngga kontrol, saya biasanya jualan pisau di Pasar Bogor. Hasilnya lumayan untuk tambah-tambah, ” ujar Herlina.
Bobot Robiyah pun terus merosot. Di usia 5 tahun berat badannya hanya 10 kilogram. Dengan kondisi memprihatinkan Robiyah selalu muntah jika menelan makanan kasar. Sebagai asupan Herlina mengandalkan susu yang dimasukan melalui selang yang menghubungkan hidung dan lambungnya. Selang itu diganti setiap seminggu sekali.





