
TIDAK hanya Indonesia yang jungkir-balik menahan laju penyebaran pandemi Covid-19 yang sudah memapar 204 juta dan menewaskan 3,9 juta warga dunia, Amerika Serikat pun kewalahan.
Menurut catatan sampai 10 Agustus, Covid-19 telah menginfeksi 204.105.537 orang di seluruh dunia dan menybabkan 4.315.655 orang meninggal. Di Indonesia sendiri, sampai 10 Agustus tercatat 3.718.821 kasus orang terinfeksi dan total kematian 110.619 orang.
AS di urutan pertama jumlah korban terpapar Cvid-19 yakni 36.780.80 orang, disusul India 31.997.017 orang dan Brazil 20.178.143 orang, sementara angka kematian AS juga tertinggi (102.375 orang), disusul Iran 94.603 orang dan India 27.429 orang.
Dilaporkan, pakar kesehatan masyarakat dan pejabat AS melontarkan kekhawatiran mereka atas lonjakan tajam jumlah pasien rawat inap Covid-19 kini khususya anak-anak sejak awal pandemi.
Persatuan Akademi Pedriatik AS dan Perkumpulan Rumah Sakit AS melaporkan, terjadi lonjakan substansial sampai hampir 94.000 kasus anak-anak terpapar Covid-19 pekan lalu khususya di wilayah Lousiana dan Florida.
Bahkan pengelola RS Anak di negara bagian New Orleans menyebutkan, setengah pasien rumah sakit berusia di bawah dua tahun dan sebagian lagi berusia antara lima sampai 10 tahun, sehingga terlalu dini untuk divaksin.
Di Florida (9/8), negara bagian dengan jumlah rawat inap Covid-19 anak terkonfirmasi tertinggi di negara itu, 179 pasien menerima perawatan, sementara RS Anak Nicklaus di Miami menangani satu anak dengan ventilator.
Dr Marcos Mestre, wakil presiden dan kepala petugas medis RS Anak Nicklaus mengungkapkan kepada ABC News, dalam beberapa pekan terakhir, timnya melihat “peningkatan signifikan” kasus pediatrik Covid.
Menurut dia, sejumlah anak-anak harus sendirian di rumah sakit karena orang tua mereka, yang juga belum divaksinasi, sedang berjuang menyabun nyawa melawan Covid-19 di rumah sakit lain.
“Ini (situasi) sulit, menempatkan tekanan sosial yang tidak semestinya pada anak karane seperti yang dapat anda bayangkan, mereka tidak memiliki orang tua,” tuturnya.
Iran Juga Memburuk
Sementara Iran, negeri yang memiliki presiden baru, tokoh garis keras Syiah, Ebrahim Raisi sejak 3 Agustus lalu juga menghadap i lonjakan penyebaran Covid-19 di tengah krisis ekonomi akibat embargo AS.
AFP melaporkan, otoritas kesehatan setempat mencatat 40.808 kasus orang terpapar dalam 24 jam yang menjadi rekor harian, Senin (9/8), 588 orag diantaranya meninggal, sehingga total ada 4.199.537 orang terpapar, da 94.603 meninggal.
Kasus virus corona di Iran melonjak sejak Juni, disebut oleh para pejabat sebagai “gelombang kelima” akibat varian Delta (B617.2) yang sangat menular.
Sementara Deputi Satgas Covid-19 ibu kota Teheran, ibu kota, Nader Tavakoli mengungkapkan, dengan populasi lebih dari delapan juta orang, menghadapi jumlah kematian, infeksi, dan rawat inap tertinggi.
“Kami memprediksi, angka kematian melonjak dalam beberapa hari mendatang dan kami tidak tahu kapan akan mencapai puncak gelombang kelima ini,” lanjut Tavakoli, seraya menambahkan, rumah sakit dan bangsal darurat semakin padat.
Iran bergantung pada program vaksinasi yang dilancarkan sejak Februari untuk menyelamatkan 83 juta penduduknya dari pandemic Covid-19 namun berjalan lebih lamban a.l. karena terganjal oleh sanksi embargo AS.
Otoritas kesehatan Iran menyebutkan, sejauh ini sudah 13 juta orang telah diberikan vaksin dosis pertama, tetapi baru 3,7 juta yang mendapat dosis kedua dari seluruhnya 83 juta penduduknya.
Lebih separuh dari 448 kabupaten Iran termasuk Teheran terdaftar sebagai zona merah dengan tingkat risiko tertinggi dimana seluruh aktivitas komersial ditutup, kecuali toko sembako dan apotek.
Iran menghindari kebijakan lockdown, sebaliknya menerapkan pembatasan terbatas (seperti PSBB di Indonesia) seperti larangan perjalanan sementara dan penutupan bisnis.
Kebijakan pembatasan paling tinggi yang terakhir diberlakukan di Iran sampai akhir Juli ketika pemerintah menutup sepekan kantor-kantor dan bank-bank di Teheran serta provinsi sebelahnya, Alborz.
Covid-19 menyerang siapa saja, negara mana saja, tidak memandang negeri maju, berkembang, negara kaya atau miskin di lintas benua, menjadi musuh bersama yang harus diperagi umat manusia.



