Jangan Euforia, Covid-19 Masih Ada

Walau secara nasional tren penyebaran Covid turun, positivity rate masih tinggi, bahkan angka kematian, empat hari berturut-turut (7 sampai 10 Agustus) rekor tertinggi dunia.

TREN penyebaran Covid-19  di Pulau Jawa dan Bali sejak PPKM berlevel (4 sampai 2) digelar mulai  26 Juli lalu relatif mereda atau turun, walau angka kematian dan positivity rate masih cukup tinggi.

Angka kematian di Indonesia akibat Covid-19, bahkan yang tertinggi di dunia empat hari berturut-turut yakni 1.881 orang pada 6 Agustus, 1.588 orang hari berikutnya (7/8) dan 1.498 orang (9/8) dan 2.048 (10/9) , sedangkan positivity rate (di atas 20 persen), masih jauh di atas tingkat ideal yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) yakni lima persen.

Untuk itu, pemerintah memperpanjang lagi PPKM 4 sampai 2 tergantung indikator penyebaran Covid-19 di wilayah masing-masing di Jawa-Bali sampai 16 Agustus, sementara di sejumlah wilayah di luar Jawa-Bali sampai 23 Agustus.

Sebagian P. Jawa dan Bali, walau masih berstatus level  4, diberlakukan sejumlah pelonggaran, misalnya mall atau pusat belanja hanya bisa dikunjungi  25 persen kapasitasnya, pengunjung harus sudah divaksin, usia tidak lebih dari 70 tahun kurang dari 12 tahun.

Uji coba pembukaan pusat-pusat perbelanjaan dilakukan di kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, Bandung dan Surabaya, sementara warung-warung juga bisa melayani tamu makan di tempat dengan prokes ketat,  pengunjung 25 persen dari kapasitas dan waktu makan 20 menit.

Menurut Menko Investasi dan Kemaritiman Luhut Panjaitan, tren kasus Covid-19 di Jawa Bali turun 59,6 persen, dan secara nasional  turun dari puncak kasus pada 15 Juli lalu yakni dengan 56.757 kasus menjadi  20.709 kasus pada 9 Agustus.

Sebaliknya, jika di Jawa dan Bali kasus Covid-19 menurun, di sejumlah wilayah di luar Jawa Bali justeru meningkat, bahkan terjadi lonjakandi sejumlah wilayah seperti di Sumatera Utara, Sumatera  Barat, Riau dan  Batam ditandai tingginya tingkat keterisian tempat tidur di RS,  kasus terpapar dan kematian.

Sementara Guru Besar FKUI dan mantan Direktur (Badan Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara Chandra Yoga Adhitama menilai, tren penurunan kasus Covid-19 di Jawa Bali walau membangkitkan optimisme, sepantasnya tidak membuat lengah.

Menurut dia, jumlah kasus penyebaran harian Covid-19 jauh di atas data resmi, mengingat masih rendahnya jangkauan penduduk yang ditesting dan dilakukan pelacakan, bahkan juga angka kematian karena pasien terpaksa menjalani Isoman bertambah akibat tak tertangani atau telat dibawa ke RS.

Hal senada disampaikan Epidemiolog Universitas Erlangga, Windu Purnomo yang menyebutkan testing masih sangat rendah, jauh dibawah target (400.000 per hari), begitu pula kontak erat (tracing) masih jauh di bawah target 15 orang, apalagi idealnya 30 orang dari setiap orang terpapar menurut WHO.

Sementara Direktur Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19 Alexander Ginting mengemukakan,  penanganan penyakit akibat virus corona itu lebih ditekankan ke hulu yakni masyarakat.

Untuk itu, keterlibatan RT dan RW di tingkat desa sangat penting, untuk terus mendata orang-orang yang terinfeksi Covid-19 dan tidak lagi membiarkan orang menjalani isoman, tetapi  mengirimkan ke pusat-pusat Isolasi terpusat.

Menurut dia, berbagai pusat isolasi dibangun pemerintah, termasuk di daerah-daerah dengan memanfaatkan gedung sekolah, milik instansi atau membangun tenda-tenda lapangan, baik untuk isolasi mau pun penanganan pasien Covid-19.

“Covid belum berlalu, strategi penanganannya harus terus disesuaikan dengan mencari keseimbangan antara  pembukaan simpul-simpul ekonomi secara terukur dan meningkatkan program 3T serta vaksinasi, sementara rakyat terus diminta  mematuhi prokes, “

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement