Cuaca Buruk dan Transportasi Dihentikan, Akses Bantuan di Sulut Terhambat

ilustrasi/Ist

MANADO – Bantuan ke pulau-pulau yang terdampak bencana di Sulawesi Utara gagal dikirimkan karena hujan deras yang terus mengguyur menyebabkan tingginya ombak dan transportasi udara serta laut dihentikan.

Seperti dilaporkan BBC, Rabu (22/6/2016), di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), yang berjarak sekitar 90 mil laut dari Kota Manado, ombak setinggi empat meter di perairan Kabupaten Sitaro praktis menghambat akses warga untuk ke luar pulau dan demikian sebaliknya.

“Saat ini kapal-kapal dilarang berlayar karena ombak sudah mencapai empat meter, terlalu berbahaya. Apabila ombak reda, perjalanan ke Manado bisa ditempuh selama empat jam menggunakan kapal cepat,” ujar Bob Wuaten, kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sitaro.

Dua hari terakhir Kabupaten yang berpenduduk 45.000 jiwa itu dilanda banjir dan tanah longsor. Akses warga dari ibu kota kabupaten ke Pelabuhan Ulu-Ulu terputus lantaran Jembatan Batuawang di Kecamatan Siau Timur tertimbun material lahar dingin dari material erupsi Gunung Karangetang.

Akses warga lima kampung di Kecamatan Siau Barat Utara ke pusat kota kabupaten dan pelabuhan juga tertutup karena Jembatan Kiawang putus akibat banjir bandang.

Namun Bob mengatakan akibat bencana ini belum ada korban jiwa, “Sejauh ini belum ada korban jiwa, namun kami telah mengungsikan 10 keluarga,” kata Bob.

Selain itu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara mengaku telah berupaya mengirimkan bantuan ke Kepulauan Sangihe, namun Otoritas Pelabuhan Manado melarang pelayaran. Penerbangan ke pulau-pulau di lepas pantai Manado juga ditiadakan.

Berdasarkan laporan Kepala BPBD Kabupaten Sangihe, Reintje Tamboto, sebanyak tiga orang meninggal dunia dan beberapa lainnya hilang akibat banjir dan longsor. Selain itu, ratusan rumah rusak setelah tertimpa tanah longsor.

Advertisement