Cuaca Ekstrem akibatkan Pasokan Pangan di Simuk Terhambat dan Warga Hanya Makan Sagu

Ilustrasi kapal logistik berlabuh dan tidak bisa berlayar akibat cuaca buruk/ foto: Banjarmasin Post

NIAS SELATAN – Cuaca ekstrem akibatkan masyarakat di Kecamatan Simuk, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara mengalami kelaparan.

Camat Simuk, Gentelman Bago mengatakan cuaca ekstrem sudah dua bulan terakhir terjadi di wilayah tersebut. Akibatnya kapal-kapal logistik yang biasa memasok bahan pangan tak bisa sandar di pelabuhan.

“Ancaman kelaparan ini terjadi kurang lebih sejak lima tahun lalu. Jadi pernah terjadi. Tapi tidak separah kali ini. Ini yang paling parah. Kalau dulu dua hari, tiga hari masuk kapalnya. Enggak sampai 10 hari begini,” kata Gentelman Bago, Kamis (21/9).

Dia mengatakan dalam dua pekan terakhir cuaca di kawasan itu benar-benar ekstrem. Kondisi pulau yang dikelilingi batu karang besar dan ombak tinggi menyulitkan kapal logistik untuk sandar di Pelabuhan Simuk sehingga kapal-kapal pun terpaksa putar haluan.

“Yang ekstremnya kurang lebih dua minggu ini. Paling parah badainya. Susah kapal masuk karena karang besar dan gelombang tinggi. Jadi Kecamatan Simuk ini dikelilingi batu karang besar dan gelombangnya laut juga tinggi,” imbuhnya, dilansir CNNIndonesia.com.

Selama ini, katanya, logistik hanya dipasok dari Pulau Tello Kabupaten Nias Selatan dan Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan.

“Jadi memang di tempat lain seperti di Pulau Tello, dari Sibolga atau dari Teluk Dalam masih bisa masuk. Dan di Simuk ini hanya ada satu pelabuhan untuk sandar kapal yang memungkinkan,” jelasnya.

Cuaca ekstrem tersebut, lanjutnya, membuat kapal tak bisa sandar. Bahkan persediaan pangan sudah 10 hari terakhir semakin menipis. Kemudian sepekan terakhir warga hanya bisa mengonsumsi roti, mi instan, terigu, ketan dan sagu.

“Mulai menipis stok pangan itu, di hari ke-10. Tapi masyarakat masih bisa mendapatkannya. Kemudian 7 hari yang lalu, masyarakat konsumsi roti, Indomie, terigu, ketan dan sagu,” kata Gentelman.

Akan tetapi, krisis pangan tak juga bisa diatasi. Kapal pemasok bahan makanan juga tak kunjung tiba. Sehingga dalam tiga hari terakhir persediaan pangan di warung warung benar benar habis dan warga terpaksa mengonsumsi sagu.

Advertisement