PADAHAL Yamadipati merupakan dewa super sibuk di kahyangan, sehingga tak pernah sempat merayu istrinya. Maklum, sebagai dewa pencabut nyawa tiap jam dan menit harus mbanjut (cabut) nyawa wayang-wayang ngercapada yang sudah tiba pada ajalnya. Bahkan semenjak wabah virus Corona mendunia, Yamadipati tak pernah sempat pulang karena mencabut nyawa penderita hampir setiap menit di berbagai nagara.
“Antum tak mau melayaniku, itu dosa besar tahu! Apa pengin kucabut nyawamu sekalian, ndhuk?” Bethara Yamadipati mengancam istrinya.
“Ayohhhh cabutlah! Kau pikir bidadari terkena kematian, ngawur saja sampeyan ini.” jawab Dewi Mumpuni ketus.
“Oh  iya ya, kok lupa gue…..” Yamadipati tersipu-sipu malu.
Belum juga Prabu Kresna diterima SBG (Sanghyang Betara Guru), di alun-alun Repat Kepanasan terlihat dua orang dewa terlibat perkelahian, Yang satu krembat-krembut pakai jubah dan jenggotan, satunya lagi tampak lebih muda, pakai jins sobek di dengkul. Ternyata mereka adalah Bethara Yamadipati melawan Bethara Nagatatmala. Dewa angkatan muda tersebut baru saja ketahuan sedang kempoy dengan Dewi Mumpuni istri Yamadipati. Siapa wayangnya takkan marah, bini kok dikeloni wayang lain? Jika di Madura sana, pastilah Nagatatmala dedel duwel jadi korban caruk.
“Stop, stop, sesama dewa kok berkelahi, bikin malu saja!” tegur Bethara Kresna sambil melerai yang tengah berkelahi.
“Jangan dilerai kaki Bethara Kresna, biar saya lumat habis Nagatatmala.” Betara Yamadipati masih emosi.
“Ayo! Memangnya gua dodol Garut? Berkelahi sampai kapanpun saya ladeni.” Nagatatmala tak kalah emosi.
Prabu Kresna tertawa, berkelahi sampai kapapun bagaimana, wong halamannya juga tinggal sedikit. Akhirnya keduanya diajak menghadap ke Bale Marcakundha, minta keadilan pada Bethara Guru. Opsi kahyangan bagaimana, sebaiknya Dewi Mumpuni untuk Bethara Nagatatmala, ataukah tetap jadi bini Bethara Yamadipati. Jika diberikan kepada Nagatatmala, berarti melanggar hukum. Tapi jika tetap dialokasikan untuk Bethara Yamadipati juga melanggar HAW (Hak Asasi Wayang).
Sanghyang Jagad Pratingkah kembali salah tingkah. Kenapa minggu-minggu ini problem kahyangan datang bertubi-tubi. Urusan krisis air saja belum beres, harus memikirkan  Dewi Mumpuni yang diperebutkanan Yamadipati dan Nagatatmala. Tambah konyol lagi, hadiah untuk yang bisa mengalahkan Prabu Udan Mintoya, kenapa harus mengorbankan Dewi Mumpuni lagi. Kebijakan-kebijakan Bethara Guru belakanmgan ini semakin tidak pro rakyat, sehingga digugat di Mahkamah Konstitusi.
“Kaki Kresna, apa solusi Anda? Segera sampaikan, efektif dan argumentatif.” perintah Bethara Guru serius.
“Jika Pukulun setuju, sebaiknya Dewi Mumpuni diserahkan kepada Bethara Nagatatmala saja, kan keduanya sudah saling mencinta. Ketimbang tetap jadi bini Yamadipati, kawin peksa itu tidak baik,” ujar Prabu Kresna sambil menyembah.
Tapi itu kan melanggar hukum pidana. Atau ketimbang pusing, Dewi Mumpuni dipotong jadi dua saja, biar mereka dapat tubuh Dewi Mumpuni separo-separo? Tapi ini diprediksi akan menciptakan problem baru, karena baik Yamadipati maupun Nagatatmala pasti mememilih bagian puser ke bawah Dewi Mumpuni.
Mendengar solusi raja Dwarawati, para dewa kompak nampak manggut-manggut seperti Pak Harto. Hyang Nagatatmala senyum simpul, tapi sebaliknya Yamadipati yang dasarnya sudah jelek, jadi bertambah jelek lagi. Bak anggota DPR kalah voting, Yamadipati pergi tanpa pamit. Sudah dipermalukan, malah kehilangan kendaraan!
“Sorry ya, Dewi Mumpuni jadi milik gua.” Ujar Nagatatmala penuh kemenangan.
“Au ah gelap.”
Hyang Nagatatmala tak bisa berlama-lama “pesta” kemenangannya, karena tak lama kemudian datang Prabu Udan Mintoya mengamuk sejadi-jadinya. Nagatatmala yang menerima mandat untuk menyelesaikan teroris, segera bertindak. Raja negeri Girikedhasar tersebut ditelikung, dibanting pada beton cor-coran semen hingga hancur lebur. Cupu “Mustikaning Warih” yang berada di kanthongnya terlempar dan ditangkap Prabu Kresna untuk selanjutnya kembali di lempar ke Jonggring Salaka. Kini bumi kahyangan kembali air melimpah. Leideng PDAM digratiskan, para bidadari bebas mandi di  telaga.
Belum juga Bethara Nagatatmala menikmati malam pertama bersama Dewi Mumpuni, tiba-tiba datang keputusan MK kahyangan bahwa gugatan Yamadipati dikabulkan seluruhnya Itu artinya, Dewi Mumpuni tetap menjadi istri Yamadipati, dan Nagatatmala tidak boleh menyentuhnya.
“Gagal maning, gagal maning……” keluh Bethara Nagatatmala. (Tamat- (Ki Guna Watoncarita).



