PASCA kehadiran siklon tropis Dahlia dan Cempaka yang menyisakan banjir dan tanah longsor di sebagian wilayah Jawa dan Sumatera akhir November lalu, Kai-Tak di penghujung pergantian tahun ini kembali mengintip sebagian wilayah.
Cuaca ekstrem: hujan lebat, angin kencang dan gelombang pasang, berdasarkan prakiraan BMKG, akan terjadi hingga pergantian tahun 2017 akibat tingginya intensitas pasokan massa udara lembab dari kawasan Asia..
Potensi gelombang setinggi di atas dua meter dipicu angin kencang berkecepatan sembilan hingga 65 Km per jam diprakirakan akan berembus di sekitar jalur penyeberangan Merak – Bakauheni dan Ketapang – Gilimanuk.
Sejauh ini kecepatan angin tertinggi terpantau di wilayah Bangka Belitung, Banten, Kep. Riau Lampung bagian slatan, Laut Jawa dan, bahkan gelombang setinggi tujuh meter kemungkinan melanda Laut Natuna dan Laut China Selatan.
Siklon Kai-Tak yang bergerak ke arah barat dengan kecepatan 17 Km per jam dilacak berada sekitar 700 Km sebelah timur laut Natuna Rabu (20/12) lalu, sehingga pada Kamis ini tinggal 365 Km sebelah utara timur laut Natuna dan terus bergerak ke wilayah Indonesia.
Gelombang setinggi empat hingga enam meter berpeluang menggoyang perairan Kep. Anambas, Natuna, bahkan gelombang yang lebih ekstrim berketinggian di atas enam meter bisa melanda perairan Laut Natuna Utara.
Sementara Peneliti Cuaca dan Iklim Ektrem BMKG Siswanto mengemukakan, frekuensi cuaca ekstrem meningkat signifikan di perairan Pasifik Barat antara timur Filipina dan utara Papua.
Sepanjang 2017 tercatat 25 badai tropis, 32 siklon tropis dan 11 siklon kuat kategori 3, padahal berdasar data selama 51 tahun terakhir antara 1965 sampai 2016 hanya tercatat rata-rata 26 badai tropis, 16 siklon tropis dan sembilan siklon tropis kategori kuat.
Peringatan bahaya juga sudah disampaikan oleh Organisasi Meterologi Dunia (WMO) pada 13 Desember lalu yang menyebutkan, dunia meteorologi memasuki era baru berupa tingginya bencana global berupa angin topan, banjir dan kekeringan.
“Kondisi ini menuntut kemampuan observasi dan prediksi cuaca, “ kata Siswanto, sementara menurut WMO, perubahan lingkungan dinilai ikut memicu peningkatan risiko hingga nilai kerugian akibat bencana mencapai 175 miliar dollar AS dalam pada 2016, seperempatnya disebabkan bencana hidrometeorologi.
Bencana tidak bisa dicegah, namun dengan kesiapan dan langkah mitigasi, risiko bisa diperkecil!
.





