ESKALASI konflik militer di Yaman meningkat pekan-pekan terakhir ini, ditandai serangan rudal balistik oleh milisi suku Houthi terhadap ibukota Arab Saudi, Riyadh, dan yang terakhir kali menyasar istana al-Yamama (19/12).
Beruntung, rudal yang diduga dipasok Iran itu dilaporkan berhasil dihadang oleh sistem pertahanan anti rudal Patriot buatan AS yang digelar Arab Saudi dan pecahannya jatuh di luar wilayah pemukiman.
Iran dikenal aktif mengembangkan rudal balistik a.l. seri Shahab dan Qiam, sedangkan yang ditembakkan ke Istana al-Yamama, Selasa lalu, menurut analisa pihak Barat diduga rudal Burkan-2, berbahan bakar cair yang masih keluarga atau berbasis teknologi rudal Scud ex-Uni Soviet.
Menurut catatan, di kawasan Timteng memang hanya Israel dan Iran yang memiliki kemampuan membuat rudal balistik.
Perang saudara di Yaman antara pasukan loyalis mantan Presiden Ali Abdullah Saleh bersama milisi Houthi melawan rezim petahana pimpinan Abdurrabuh Mansour Hadi yang didukung koalisi Arab di bawah Arab Saudi.
Pihak Houthi mengklaim, serangan rudal kedua yang mereka lancarkan ke Riyadh dalam dua bulan terakhir ini menandai 1.000 hari operasi militer koalisi pimpinan Arab Saudi sejak Maret 2015 yang telah menewaskan 10.000 orang.
Pekan lalu koalisi antara loyalis Abdullah Saleh dan Houthi yang menguasai ibukota Yaman, Sana’a pecah kongsi, ditandai dengan kontak senjata di tengah kota yang berujung tewasnya Abdullah Saleh.
Selain akibat perebutan hegemoni di kawasan Timur Tengah antara Iran yang mayoritas penduduknya beraliran Syiah, sementara Arab Saudi menganut paham Sunni, dikhawatirkan konflik juga meluas dengan melibatkan Rusia di kubu Iran dan AS di belakang Arab Saudi.
AS bersama Arab Saudi menuduh Iran lah yang memasok rudal balistik kepada milisi Houthi di Yaman, dan mengklaim sudah berhasil mengindentifikasi negara asal pembuatnya dari pecahan rudal yang diluncurkan November lalu.
Untuk itu, AS sedang mempertimbangkan guna mendesak DK PBB untuk mengenakan sanksi terhadap Iran.
Sebaliknya Iran membantahnya dan mengaku tidak memiliki hubungan dengan Yaman, mengingat hal itu tidak mungkin dilakukan di tengah blokade koalisi Arab terhadap negara itu.
Pemerintah Yaman sempat bersatu pada 1990 di bawah Presiden Abdullah Saleh yang semula presiden Yaman Utara dan Wapres Ali Salim al-Beidh yang semula presiden Yaman Selatan.
Saleh dan al-Beidh “pecah kongsi” pada 1994 dan terlibat konflik yang dimenangkan Saleh, sehingga ia menjadi penguasa tunggal sampai dilengserkan pada Revolusi Arab 2011.
Saleh menyerahkan kepemimpinan Yaman pada Wapres Mansour Hadi yang didukung koalisi Arab Saudi dan al-Qaeda, namun berkat dukungan Houthi (dan Iran) ia kemudian berhasil mengambil alih kembali Sana’a.
Belum ada yang kalah atau menang dalam perebutan kekuasaan di Yaman selain menciptakan kesengsaraan bagi sekitar 17 juta dari total 27 juta penduduk akibat blokade darat, laut dan udara oleh koalisi Arab pimpinan Arab Saudi.
Tujuh juta penduduk Yaman terancam kelaparan dan hampir satu juta diantaranya terancam wabah kolera akibat buruknya prasarana sanitasi yang porak-poranda akibat perang.
Yaman, dikhawatirkan akan terjerumus di tengah perebutan hegemoni kawasan dan juga antara AS dan Rusia. (AP/AFP/Reuters/ns)





