
SEBAGAI raja Lokapala yang merasa ikut bertanggungjawab akan kelangsungan dinasti di Ngalengka, Danapati yang juga sering disebut Prabu Danaraja itu merasa prihatin, kenapa Dasamuka konglomerat Ngalengka yang juga sudah dianggap adik kandungnya itu berani melawan dewa? Apa dia tidak kuatir bila distop bantuan luar negerinya.
Maka melalui sepucuk surat Prabu Danaraja memberikan nasehat panjang lebar kepada Dasamuka. Dokumen rahasia itu dibawa oleh Gohmuka, dubes berkuasa penuh, ke Ngalengka. Sebab mau dikirim lewat WA, khawatir yang baca justru adminnya saja, padahal ini rahasia negara. Kalau sampai tangan kaum oposisi kan dibuat nyinyiri Lokapala.
“Dinda Dasamuka, sebagai trah (generasi) Wisrawa, Anda mestinya bisa menjaga nama baik orang tua. Wayang cap apa Anda ini, kepada dewa tidak patuh, apalagi membayar pajak…!” begitu kata Prabu Danaraja dalam suratnya yang cukup keras dan menyakitkan.
Ketika Dubes Gohmuka datang ke istananya, Dasamuka semula menyambut ramah utusan Prabu Danaraja itu. Selain membawa sekarung rambutan, tamu tersebut membawa amplop tebal. Dia mengira amplop itu berisi duit segepok, hasil keuntungan penanaman saham di Lokapala. Tetapi begitu dibuka isinya cuma surat yang sarat nasehat. Meledaklah amarah Dasamuka.
“Kamu Dubes kok gebleg amat sih, surat macam begini diberikan padaku. Apaan! Bilang sama Kangmas Danaraja, kalau cuma nasehat dan kata-kata mutiara begini, di Ngalengka sudah ombyokan (banyak sekali)” omel Dasamuka dengan muka merah padam.
“Maapin Den, saya cuma pelaksana,” jawab Gohmuka ketakutan, kalimatnya niru-niru Satpol PP sewaktu menggebah pedagang K-5 di terminal Kampung Rambutan.
Kalau Dasamuka marah, tahu sendiri. Dia suka main lempar apa saja yang ada di depannya. Tidak puas hanya dengan melempar HP, dia mengeluarkan pistolnya merk Cendrasa dan ditembakkan ke jidat Dubes Gohmuka. Dorrr…! Maka, klepek, klepek, klepek… utusan Lokapala itu tewas di ruang tamu.
“Sialan lu Dasamuka! Gue kan udah minta maaf, kenapa lu embat juga? Awas, dalam Perang Ngalengka nanti, gue mau menuntut balas…!” begitu suara di atas plafon sana, berbarengan dengan robohnya Dubes Gohmuka. Rupanya utusan Danaraja jadi arwah penasaran.
” Mbelegedes, mampuslah kau…!” jawab Dasamuka sambil ngeloyor pergi.
Patih Prahasto, Kala Marico yang hadir dalam pertemuan itu sangat menyalahkan sikap Dasamuka. Tapi keduanya tak bisa berbuat banyak, sebab bila ikut-ikutan oposisi, panjang nih urusan! Bisa-bisa posisi digeser serentak. Agar peristiwa yang melanggar kode etik kediplomatikan itu tidak tersebar keluar, Patih Prahasto segera memanggil Tumenggung Andre Rolade selaku Jubir Istana, untuk mengatur wartawan-wartawan di negeri itu.
“Demi keamanan, berita tewasnya Dubes Gohmuka dari Lokapala, tolong jangan dimuat,” begitu imbau Tumenggung Andre Rolade, lewat telepon kepada pemimpin redaksi sejumlah koran di Ngalengka.
“Andre Rolade memang suka menganggap persoalan empuk kaya daging gulung saja. “ keluh para Pemred media cetak maupun elektronik.
Praktis, keesokan harinya koran dan portal berita di internet tak ada yang memberitakan peristiwa yang sangat menusuk dunia pewayangan itu. Bahkan berita-berita yang menonjol adalah rencana penyerangan Dasamuka ke Lokapala. Memang, sebagai raja yang degsura (angkuh) dan berangasan dia tak puas hanya dengan membunuh Gohmuka. Kalau perlu, Danaraja pun sebagai biang keladinya harus pula dilipet jadi bangkai!
Dasamuka memimpin langsung penyerbuan itu. Seluruh pasukannya berangkat naik KA Senja Ekonomi Senen -Solo Balapan. Mau naik KA Taksaka tanggung, nanti Yogya-Solo naik apa? Raja Ngalengka ini selain punya Aji Pancasona, memiliki pula Aji Pengiritan!
Lokapala yang tak menduga bakal ada serbuan mendadak, jadi kelabakan! Banyak rakyatnya yang tewas, bahkan Prabu Danaraja pun kasambut ing rana (gugur dalam perang) melawan Dasamuka. Karena wayangnya alim sewaktu di dunia, oleh Betara Guru arwahnya di Kahyangan dinaikkan ke surga dan diwisuda menjadi dewa baru dengan nama Sanghyang Batara Kuwera. Pangkatnya menjadi: Staf Ahli Kantor Bale Marcakunda, tugasnya menjadi Jubir Istana.
“Kamu kalau tangkis omongan nyinyir wayang ngercapada, harus pakai data. Jangan asal ngejeplak seperti para kritikus itu.” Nasihat Sanghyang Betara Guru.
“Oke, Boss. Saya siap menghadapi semua lambe nggambleh…..”, jawab Betara Kuwera yang tak pakai sorban itu.
Sepeninggal Prabu Danaraja, Dasamuka kemudian menjarah segala isi istana Lokapala. Putri-putri cantik diambil dan diserahkan kepada sopir-sopir pribadinya. Yang jelek-jelek tapi berotot kawat bertulang besi; dikirim jadi TKW ke luar negeri. Termasuk dalam rombongan ini adalah Dewi Ninuk Warsiman dan Retna Sarungsempit.
Dasamuka makin rajin saja beroperasi di istana Lokapala. Ketika membuka garasi, dia menemukan mobil Toyota Puspaka, seri baru yang hanya diedarkan di kalangan wayang. Mobil itu masih mulus, cuma STNK sudah mati. Sebagaimana Lokapala yang kemudian digabung menjadi satu dengan Ngalengka, mobil 1000 valve ini juga dibawa pulang sekalian dan dijadikan kendaraan kerajaan.
“Wah, masih enak nih. Tapi kalau Ditya Uyuhono berani Rp 500 juta, biarin deh saya lepas…!” kata Dasamuka sambil mengendarai Puspaka pulang, sewaktu melewati bursa mobil bekas Kemayoran.
Dalam perjalanan pulang ke Ngalengka, sengaja Dasamuka menghindari jalan-jalan yang terkena jalur busway. Tapi karena dia belum hafal liku-liku jalan di Lokapala, perjalanan itu malah nyasar ke pertapaannya Bagawan Wrehaspati. Secara kebetulan di halaman rumah sang begawan ada cewek cakep sedang menjemur pakaian. Langsung saja mata Dasamuka jelalatan macam kucing lihat kornet.
Mobil Puspaka pun segera parkir di halaman rumah Bagawan Wrehaspati. Tahu bahwa tamunya penguasa tunggal di Ngalengkadiraja, buru-buru Wrehaspati bersimpuh.
“Maafin Den, sudah 4 tahun saya belum bayar PBB,” ujar bagawan itu terbata-bata.
“Tenang-tenang, gue ke sini cuma silaturahmi, kok. Tadi kan gue dari Tanah Kusir, nyadran (ziarah kubur), sebentar lagi kan puasa,” jawab Dasamuka basa-basi, karena ambisi.
Sebagai wayang yang tak sabaran, raja Ngalengka ini maunya to the point saja. Tanpa malu-malu dia menanyakan, siapakah gerangan wanita cantik yang tadi menjemur pakaian itu?
“Dia adalah putriku sendiri. Dewi Widowati,” jawab BagawanWrehaspati.
“Wieke Widowati yang dulu suka main di TV itu itu?”
Bagawan Wrehaspati menggeleng. Kepada tamunya dia kemudian bercerita tentang segala nilai tambah yang dimiliki putrinya. Katanya, dia masih kuliah di UI, aktif
menjadi peragawati dan punya sambilan buka usaha konveksi. Maksudnya sekedar berbangga diri, padahal hal itu justru membuat Dasamuka ngebet bin kebelet.
“Kalau gue mendaftar jadi menantumu, gimana Be?” tanya Dasamuka tanpa tedeng aling-aling.
“Anak sekarang nggak bisa didikte, kalau dipaksa suka kabur!” Wrehaspati sedikit berdiplomasi.
Maklum, semua wayang tahu bahwa Dasamuka suka mempermainkan wanita, tak terkecuali Bagawan Wrehaspati. Namun untuk menolak terus terang, ngeper juga dia. Demi mencari selamat, paranormal dari Wukir Lokapala itu berdalih bahwa kesemuanya tergantung kepada Widowati sendiri yang akan menjalani.
Dasamuka kemudian mendekati Dewi Widowati yang cantik jelita bagaikan Citra Dewi tahun 60-an itu. Dia pamer tentang segala aset dan omset sejumlah perusahaannya, yang go public maupun jual saham ke mana-mana. Sayang, Widowati bukan cewek mata duitan. Dia tak bergeming akan segala iming-iming.
“Untuk menjadi suamiku, syaratnya ada tiga, yakni: santun, seiman dan tak suka nyinyir di medsos,” jawab Widowati kemayu.
Dasamuka mati kutu. Soal beginian dia benar-benar menyerah. Wayang yang paling dibenci dewa dan para dalang ini memang kehidupannya buram, dimusuhi orang di mana-mana. Asal beritanya ada di internet, yang mengecam jutaan. Yang pro hanya satu: Tumenggung Anak Alay.
Dasar Dasamuka wayang mburog (nekad), meskipun tak memenuhi syarat tetap saja memaksa, dengan segala cara. Dikejarnya Widowati, sampai gadis itu lari terbirit-birit dari kamar satu ke kamar lainnya. Daripada diperistri raja Ngalengka, mendingan bunuh diri, begitu pikirnya. Maka ketika masuk ke dapur, Widowati segera memotong pipa yang menghubungkan ke tabung kompor gas dan dinyala-kan dengan geretan. Dalam sekejap rumah Bagawan Wrehaspati terbakar dan Widowati tewas di dalamnya.
“Mati kan, anak gue. Naksir cewek seperti jago ngejar babon saja sih elu…!” maki Wrehaspati tanpa sopan santun. Entah kenapa tiba-tiba jadi berani menentang Dasamuka. Untung saja tak diikutsertakan menyusul putrinya. (Ki Guna Watoncarita)


