Danau Toba Kelabu

Ilustrasi Perahu Basarnas sedang menyusuri Danau Toba, mencari jejak KM Sinar Bangun.

BILA Titik Sandhora ketemu Muhsin di Danau Toba, maka tahun 1968 lahirlah  lagu “Di tepi Danau Toba”. Tapi ketika yang ketemu Luhut Panjaitan Menko Maritim dengan Ratna Sarumpaet, justru mereka ribut di tepi Danau Toba. Saat itu pemerintah bersepakat dengan keluarga korban KM Sinar Bangun, bahwa 166 korban yang tenggelam di dasar Danau Toba takkan diangkat. Ngamuklah nenek Ratna vs mentri Luhut yang sama-sama orang “sekampung”. Danau Toba pun jadi kelabu!

        Yang namannya nenek itu punya naluri: sangat sayang cucu. Tapi dia juga punya naluri  lain, nenek itu suka asal perintah, tak mau tahu alasan cucu. Nenek yang suka otoriter pada cucu, sok kuasa sok perintah, tak peduli kondisi dan alasan cucu, di Jateng disebut gujih. Karena sayang cucu, nenek suka ngancam: hara mengko (awas kamu). Maka cucu yang sebal sering menjuluki nenek sendiri: bawel, nyinyir kayak Mak Lampir.

Nenek cap apapun dia pasti sayang cucu. Saking sayangnya, apa kelakuan cucu si nenek selalu permisif. Maka almarhum Maftuh Basyuni mantan Menag pernah bilang, “Jangan kamu titipkan anak pada simbah (nenek), akan rusak anakmu!” Maklum, apapun tindakan cucu akan dibiarkan saja dengan alasan: ketimbang nangis!

Rupanya nenek Ratna Sarumpaet yang dulu artis kini jadi aktivis, juga seperti itu. Tapi dia memang bukan nenek biasa. Yang diurusi bukan sekedar cucu-cucu dalam arti sebenarnya, tapi cucu dan cicit Nabi Adam yang dinilainya bertindak kurang pas, tidak pada tempatnya. Dikenal sebagai aktivis, dia suka kritik sana kritik sini, yang bagi pihak yang tidak suka dianggap sebagai nyinyir dan bawel seperti lazimnya nenek.

Lihat saja di Indonesia Lawers Club di TV One, dia suka tampil di sana. Nada bicaranya seperti kaum oposisi pada parpol, selalu mengkritisi pemerintah bila tak mau disebut menyerang. Maka bila ketemu politisi DPR Adian Napitupulu, debat mereka pun seru, bikin penonton di rumah ikutan pula tegang.

Ketika musibah KM Sinar Bangun terjadi di Danau Toba beberapa minggu lalu, kemudian terungkap betapa tidak tertibnya sistem di ASDP (Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan) di sana. Kapal tanpa daftar manifes dibiarkan saja. Kapal melebihi muatan juga menjadi hal biasa. ASDP diam, nakoda juga tak peduli. Dan terjadilah musibah itu. KM Sinar Bangun tenggelam dengan membawa 166 penumpangnya ke dasar danau.

Melalui robot yang disebut Remotely operated vehicle (ROV), ditemukanlah bangkai KM Sinar Bangun di kedalaman 450 M. Bagaimana cara mengangkatnya? Indonesia belum memilik piranti tersebut. Bila dipaksakannya pun sangat beresiko tinggi bagi Tim Basarnas. Sebab kedalaman danau itu sungguh ora umum. Maka pemerintah yang diwakili Menko Luhut bernegosiasi dengan keluarga korban. Hasilnya, mereka setuju tak usah diangkat. Sebagai pelipur lara nanti akan dibuatkan monumen untuk mengenang para korban.

Tapi di kala Menko Maritim  tengah bicara dengan keluarga korban, tiba-tiba Ratna Sarumpaet nyelonong masuk dan memotong pembicaraan. Intinya nenek Ratna minta proses evakuasi korban KM Sinar Bangun harus jalan terus, ini persoalan Tapanuli, semua mayat harus diangkat! Saking kesalnya, Luhut sampai bilang, “Jangan ngomong macam-macam sama saya.”

Mengangkat korban KM Sinar Bangun yang terletak 450 meter di bawah permukaan Danau Toba, bukanlah seperti ambil timba putus di dasar sumur. Perlu teknologi canggih, itupun sangat beresiko. Lagi pula, mayatnya juga pasti sudah rusak.

Tapi rupanya nenek Ratna tetap ngeyel, tak peduli dengan kondisi medan. Saking kesalnya, pehak Basarnas sampai bilang, nenek Ratna sendiri sono yang nyilem. Tentu saja si nenek makin sewot sehingga petugas  diomeli sebagai kampungan.

Memandang Danau Toba kini, bukan lagi Danau Toba yang indah airnya biru sebagaimana kata penyanyi Titik Sandora. Tapi Danau Toba yang kelabu, karena nun di bawah sana bersemayam dan berserakan tulang-belulang 166 korban KM Sinar Bangun. (Cantrik Metaram)

 

Advertisement