Dari Surau Sederhana hingga Jadi Masjid Megah, Cerminan Diplomasi Filantropi Indonesia di An Giang

JAKARTA, KBKNEWS.id – Masjid Salamad di Long Xuyen, Provinsi An Giang, resmi berdiri sebagai wujud diplomasi filantropi Indonesia di kawasan Delta Mekong.

Masjid ini menjadi jawaban atas kebutuhan komunitas muslim setempat yang selama puluhan tahun beribadah di surau kecil sejak 1950-an. Menurut Haji Chau Mach, jumlah jemaah kini mencapai sekitar 300 orang sehingga diperlukan tempat ibadah yang lebih layak.

Pemerintah Indonesia melihat kondisi tersebut sebagai peluang memperkuat soft power dan hubungan budaya dengan Vietnam. Pada Mei 2022, Menko PMK periode 2019–2024, Muhadjir Effendy, berkunjung ke Long Xuyen untuk mengadvokasi pembangunan masjid ini.

Proses perizinan berjalan ketat karena pembangunan rumah ibadah oleh pihak luar negeri dianggap sensitif. KBRI Hanoi dan KJRI Ho Chi Minh City berperan penting dalam negosiasi hingga izin dari Komite Rakyat Provinsi An Giang diterbitkan.

Peletakan batu pertama berlangsung pada 27 Juni 2024. Proyek “Masjid Salamad Indonesia” diwujudkan melalui kolaborasi Humanitarian Forum Indonesia bersama Dompet Dhuafa, Human Initiative, Rumah Zakat, Baznas RI, DT Peduli, dan Lazismu. Total dana yang disalurkan mencapai sekitar Rp3,5 miliar. Masjid ini dirancang multifungsi, tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan, pelatihan ekonomi, dan halal hub.

Pembangunan berlangsung 18 bulan dan menghadapi tantangan seperti cuaca ekstrem, kenaikan harga material, serta pencarian bahan sesuai standar desain Islam. Namun proyek tetap selesai dan Masjid Salamad diresmikan pada 5 Desember 2025.

Upacara peresmian dihadiri perwakilan diplomatik Indonesia dan pejabat An Giang. Charge d’Affaires RI di Hanoi, Jane Runkat, menyebut peresmian ini sebagai penanda 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Vietnam.

Dompet Dhuafa menegaskan komitmen keberlanjutan program. Masjid Salamad diharapkan menjadi pusat peradaban muslim yang mandiri dan simbol persahabatan kedua negara.

“Targetnya adalah menjadikan Masjid Salamad sebagai pusat peradaban muslim yang mandiri. Keberlangsungannya akan menjadi barometer kesuksesan jangka panjang model diplomasi kubah Indonesia,” tegas Deputi Direktur-1 Program Sosial, Kemanusiaan, dan Dakwah Dompet Dhuafa, Juperta Panji Utama.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here